Paparan Game Online Melahirkan Kriminalitas pada Generasi - Beritakan Kebenaran Opinikan Keadilan

Breaking

Jumat, 09 Januari 2026

Paparan Game Online Melahirkan Kriminalitas pada Generasi

 

Sumber Ilustrasi : iStock.

Oleh : Ari Rahmayanti (Guru)

Kasus seorang anak yang tega membunuh ibu kandungnya di Medan bukan sekadar tragedi keluarga. Ia adalah alarm keras terhadap kerusakan generasi yang tak bisa lagi ditutup-tutupi. Berdasarkan keterangan kepolisian, hasil olah TKP, dan pendalaman psikologis, anak tersebut diketahui terpapar intens oleh game online dan konten digital bernuansa kekerasan. Tidak ditemukan keterlibatan pihak lain. Artinya, tindakan brutal itu dilakukan oleh anak tersebut sendiri, dalam kondisi kejiwaan yang telah terganggu.

Fakta ini menimbulkan pertanyaan mendasar: bagaimana mungkin seorang anak yang secara fitrah memiliki kasih sayang kepada orang tua dapat kehilangan nurani hingga menghabisi nyawa ibu kandungnya sendiri?. Dalam teori psikologi perkembangan, remaja awal masih berada pada fase pembentukan kontrol emosi dan moral. Pada fase ini, anak sangat mudah meniru perilaku yang terus menerus ia lihat, terlebih jika perilaku tersebut diberi penguatan berupa hadiah, level, dan pencapaian seperti dalam mekanisme game online.

Game dengan konten kekerasan bekerja dengan menormalisasi pembunuhan, mengikis empati terhadap korban, serta mengaburkan batas antara realitas dan fantasi. Jika dikonsumsi terus-menerus oleh anak yang tidak memiliki benteng nilai yang kuat, penyimpangan perilaku menjadi keniscayaan. Kasus di Medan hanyalah satu dari sekian banyak fakta; bullying ekstrem, bunuh diri, hingga teror bom di lingkungan sekolah. Semua ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan insidental, melainkan sistemik.

Platform Digital: Mesin Kapitalisme yang Merusak Akal

Platform digital hari ini tidak pernah netral. Ia beroperasi dalam sistem kapitalisme global yang menjadikan keuntungan sebagai tujuan utama. Game online dirancang dengan algoritma adiktif, sistem level, reward, pembelian item, dan visual ekstrem agar pengguna termasuk anak-anak bertahan selama mungkin. Semakin lama anak bermain, semakin besar keuntungan yang diraup pengembang dan platform.

Dalam logika ini, anak-anak bukan subjek yang harus dilindungi, melainkan pasar yang menguntungkan. Konten kekerasan justru diproduksi masif dan diminati karena memicu adrenalin dan keterikatan emosional. Tidak ada pertimbangan moral tentang dampak jangka panjang terhadap akal, jiwa dan kepribadian anak. Beginilah kapitalisme bekerja: manusia di-reduksi menjadi konsumen, sementara kerusakan generasi dianggap sebagai “resiko pasar”.

Negara Abai: Dari Pelindung Menjadi Fasilitator

Ironinya, negara dalam sistem sekuler-kapitalisme tidak hadir sebagai pelindung generasi. Negara hanya bertindak sebagai fasilitator industri digital, bukan penjaga akal dan jiwa rakyat. Padahal secara hukum, negara memiliki kewenangan untuk membatasi, memfilter, bahkan menutup platform atau aplikasi yang membahayakan. Namun, kebijakan yang ada lebih sering bersifat parsial dan reaktif.

Atas nama kebebasan berekspresi dan pertumbuhan ekonomi digital, konten berbahaya tetap dibiarkan beredar. Anak-anak dilepas sendirian di ruang digital, sementara negara sibuk menjaga iklim investasi. Inilah bukti bahwa dalam kapitalisme, kepentingan pasar lebih diutamakan daripada keselamatan generasi. Hingga akibatnya generasi muda bertindak sesuka hati, terlibat bullying, narkoba, hingga melakukan pembunuhan sadis.

Dunia digital tidak berjalan secara netral. Ia digerakkan oleh algoritma. Bagi kapitalisme, algoritma bukan hanya alat teknis untuk menampilkan konten, tetapi juga sebagai instrumen ideologis yang secara halus membentuk cara berfikir dan kebiasaan generasi. Algoritma bekerja mempelajari perilaku pengguna, apa yang mereka tonton, cari, sukai atau mereka komentari. Dari pola itu, algoritma menyimpulkan kecenderungan manusia dan kemudian menyajikan konten yang membuat mereka makin tergantung pada layar. Algoritma ini adalah mesin pembelajar yang bekerja berdasarkan data yang diberikan pengguna setiap harinya. Ia hanya mengikuti arah pasar, apa yang menguntungkan kapitalisme itulah yang diprioritaskan.

Islam dan Kewajiban Menjaga Generasi

Dari realitas ini, generasi muda harus diselamatkan dari kerusakan sistemis akibat penerapan ideologi sekuler kapitalisme. Hal itu tidak mungkin terwujud selama sistem kapitalisme diterapkan. Penyelamatan generasi hanya akan terwujud di bawah penerapan Islam secara kaffah dalam institusi Khilafah.

Dalam Khilafah, negara berperan sebagai pengurus urusan rakyat dan pelindung bagi seluruh warganya. Rasulullah saw bersabda “Imam adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya yang diurusnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Islam memandang, kerusakan generasi adalah ancaman serius. Syari’at Allah diturunkan untuk menjaga tujuan-tujuan yang sudah baku diantaranya menjaga akal, jiwa dan keturunan. Allah SWT berfirman:

وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِۛ وَاَحْسِنُوْاۛ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ ۝١٩٥……

“…..Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Baqarah : 195)

Islam tidak membiarkan teknologi dan budaya berkembang tanpa kendali nilai. Segala sesuatu yang terbukti merusak akal dan jiwa wajib dicegah. Islam mempunyai seperangkat aturan yang sistematis untuk menjaga generasi. Sehingga generasi tidak rusak sehingga menjadi umat terbaik. Upaya ini tidak diserahkan pada individu semata, tetapi diatur secara sistematis melalui tiga pilar; individu, masyarakat dan negara.

Pertama, ketakwaan individu. Islam membentuk individu dengan akidah dan akhlak sejak dini. Dimulai dari keluarga, Islam menempatkan ibu sebagai al madrasatul ula tugasnya membentuk karakter anak, kaitannya dengan kewajiban ibu mengasih anaknya. Pengasuhan anak adalah suatu kewajiban yang diturunkan Allah swt. peran ibu sangat besar dalam menyiapkan fondasi awal terbentuknya karakter, kepribadian, dan kecerdasan generasi.

Rasulullah saw. membina para pemuda dengan iman yang kokoh dan teladan nyata. Ali bin Abi Thalib ra. tumbuh dalam asuhan Rasulullah saw., hingga menjadi pribadi bertakwa, cerdas, dan berani. Ketakwaan inilah benteng internal yang mencegah penyimpangan.

Kedua, kontrol masyarakat melalui amar makruf nahi munkar. Negara membangun peradaban Islam yang menghidupkan amar makruf nahi munkar. Allah swt berfirman :

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ ۝١١٠

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Seandainya Ahlul kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (QS. Ali Imran:110)

Allah menegaskan bahwa umat Islam adalah khairu ummah selama mereka mereka menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dalam masyarakat Islam, nilai benar dan salah ditentukan oleh syari’at, bukan oleh tren atau selera mayoritas. Kekerasan tidak di normalisasi, konten merusak tidak dianggap hiburan, dan penyimpangan tidak dibungkus dengan istilah kebebasan. 

Ketiga, peran negara sebagai penerap hukum Allah. Dalam Islam, kedaulatan berada di tangan syari’at. Allah swt berfirman dalam Al Qur’an surah Yusuf : 40 bahwa “Hukum itu hanyalah milik Allah”. Negara wajib menutup pintu kerusakan dari akarnya bukan sekadar menguranginya.

Negara akan menerapkan kurikulum pendidikan yang berlandaskan pada Aqidah Islam, kurikulum pendidikan Islam akan menghasilkan generasi yang kokoh keimanannya dan mendalam pemikiran Islamnya sehingga akan melahirkan ketakwaan kepada Allah swt.

Khilafah dan Penjagaan Ruang Digital

Dalam Khilafah, negara memandang ruang digital sebagai matra strategis yang wajib diamankan. Negara membangun kedaulatan digital melalui penguasaan infrastruktur, teknologi, dan industri strategis. Ketergantungan pada teknologi kapitalisme global diputus demi menjaga keselamatan generasi.

Negara mengembangkan riset, pendidikan sains, dan teknologi secara serius agar umat Islam unggul dan mandiri. Ruang digital dipenuhi konten edukatif, dakwah dan penguatan iman, bukan racun pemikiran sekuler liberal. Literasi digital Islam menjadi bagian dari kurikulum pendidikan, sehingga teknologi menjadi sarana membangun peradaban, bukan merusaknya.

Penutup

Kerusakan generasi yang hari ini kita saksikan bukanlah takdir, melainkan buah dari sistem kapitalisme yang rusak. Selama sistem ini dipertahankan, tragedi serupa akan terus berulang.

Islam bukan sekadar agama ritual, melainkan sistem hidup yang mampu menjaga manusia dan generasi. Ketika Islam diterapkan secara menyeluruh dalam individu, masyarakat, dan negara di bawah naungan Khilafah, kerusakan generasi dapat dicegah dari akarnya.

Sudah saatnya umat sadar, bahwa hanya Islam yang mampu menyelamatkan generasi dari kehancuran. Bukan dengan solusi tambal sulam, tetapi dengan kembali menerapkan aturan Allah secara kaffah.

Wa Allau a’lam.

-----

Editor : Vindy Maramis

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar