Oleh : Ummu Ghoza
Di awal tahun 2026, banyak bencana yang sepatutnya membuat kita muhasabah dan berbenah. Kondisi umat yang makin dalam keterpurukan, seharusnya mencari penyebab akar masalah hari ini dan menyelesaikannya secara tuntas. Perjalanan Indonesia sepanjang tahun ini dirundung duka, mulai dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Maluku terdampak. Dalam laporan BNPB, terdapat 3116 bencana dari awal tahun hingga 24 Desember. (kompas.com, 24/12/2025).
Tahun 2025 merupakan masa lalu yang kelam dan menjadi catatan muhasabah memasuki tahun 2026. Dengan tingginya intensitas bencana alam khususnya bencana hidrometeorologi. Yang berulang terdapat 1.503 banjir. Padahal, Indonesia dikenal dengan keindahan alamnya dan kesuburannya.
Ini menunjukkan lemahnya mitigasi bencana sehingga bencana alam terus berulang terjadi. Sungguh memprihatinkan banyak rakyat menjadi korban karena solusi seadanya dengan sarana dan prasarana penanggulangan bencana seadanya karena terbelit birokrasi dan minimnya anggaran.
Secara geografis Indonesia terletak di Ring of Fire yang rawan bencana. Namun, kondisi ini kerap disepelekan oleh para penguasa. Seperti kejadian tak terduga saat datang bencana sehingga solusi ala kadarnya yang menyebabkan banyak korban.
Akar masalah semuanya ini berasal dari kepemimpinan kapitalisme sekuler yang mementingkan kebahagiaan dengan mendapatkan materi sebaanyak-sebanyaknya. Hidup tanpa aturan sehingga membuat orang tamak, serakah, rakus, dan membuat kerusakan alam dengan kongkalikong antara penguasa dan pengusaha.
Penguasa mengeksploitasi sumber daya alam. Mereka tidak peduli dengan nasib rakyat yang terdampak, termasuk korban bencana alam. Negara abai dengan memberikan solusi yang hanya tambal sulam. Tata ruang wilayah disusun untuk kepentingan bisnis. Permukiman dibiarkan berdiri di zona berbahaya karena maraknya alih fungsi lahan di area hutan yang dijadikan perkebunan sawit.
Oleh karenanya, penyebab bencana alam yang menjadi langganan adalah ulah tangan manusia yang membuat alam ini rusak. Dengan ketidakseimbangan ekosistem, bencana menjadi tidak terkendali. Jadi saatnya kita berubah dalam sistem dengan paradigma kepemimpinan kembali pada syariat Islam.
Dalam Islam, pemimpin negara Islam yakni Khalifah akan mengurusi rakyatnya dan menjadi pelindung termasuk di antaranya bencana. Khalifah dengan sungguh-sungguh akan menyejahterakan seluruh rakyat dengan berbagai fasilitas pendidikan, kesehatan, transportasi, keamanan, dll.
Khalifah akan melakukan pengelolaan lingkungan sesuai tata ruang berbasis keselamatan jiwa dan kelestarian alam ciptaan Allah Swt. Untuk antisipasi mencegah bencana kawasan konservasi harus dijaga. Kawasan ini tidak boleh dialihfungsikan menjadi pertanian, infrastruktur, permukiman, ataupun pariwisata. Harus ada pengelolaan daerah rawan bencana dengan manajemen kebencanaan yang menyeluruh. Di antara lain yakni masyarakatnya diedukasi tentang kawasan konservasi dan perihal bencana. Digunakan infrastruktur yang dibangun dengan kekuatan tahan bencana.
Khalifah juga akan memberikan sistem peringatan dini. Diberikan layanan penanganan bencana yang cepat dan terpadu. Semuanya antara penanganan dan pemulihan akan mudah diselenggarakan oleh negara karena pembiayaan dari baitul mal. Di mana pemasukannya dari berbagai sumber dengan pemanfaatan teknologi secara optimal.
Adapun bila masih terjadi bencana, sejatinya itu berasal dari ketetapan Allah. Solusi darurat diberikan dengan cepat, menyeluruh, sebaik-baiknya sesuai syariat. Evakuasinya dengan semua teknologi terbaik dan para ahlinya. Inilah saatnya kembali pada aturan Islam yang rahmatan lilalamin. Karena berasal dari wahyu Allah yang tahu terbaik untuk kehidupan alam dan isinya. Sehingga untuk masa depan semoga kaleidoskop duka di tahun lalu tidak terulang lagi. Wallahu a’lam bisshawab. []

Tidak ada komentar:
Posting Komentar