Oleh Ismi Fillah
Potensi pemuda sudah dibajak dan dijauhkan dari agama. Narkoba, tawuran, LGBT dan pergaulan bebas berjamur tanpa arah yang menumpulkan otak manusia terlebih para pemuda. Inilah kondisi pemuda dalam sistem kapitalisme.
Dalam kasus peredaran narkoba saat Djakarta Warehouse Project (DWP) di Bali misalnya, polisi menyita sejumlah barang bukti, di antaranya 31 kilogram sabu, 956,5 butir pil ekstasi, 23,59 gram ekstasi serbuk, 135 gram happy water, dan 1 kilogram ketamine. Polisi juga menyita 33,12 gram kokain, 21,09 gram MDMA, 36,92 ganja serta 3,5 butir happy five. Total barang bukti itu ditaksir memiliki nilai ekonomi sekitar Rp 60 miliar. (detik.com, 26/12/2025)
Belum lagi kasus yang dilakukan oleh oknum kepolisian, Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat 72 kasus pelanggaran disiplin dan Kode Etik Profesi Polri (KEPP) yang melibatkan anggotanya. Pelanggaran terbanyak berupa asusila sebanyak 22 kasus, hingga jenis kasus lain seperti LGBT, tidak profesional, hingga penelantaran. (idntimes.com, 24/12/2025)
Digitalisasi berada di bawah sistem kapitalisme, tidak hanya bertujuan ekonomi tetapi juga menyebarkan ideologi batil yang menjauhkan umat dari pemikiran Islam ideologis. Adanya digitalisasi bukan merubah, malah digunakan untuk memperparah kerusakan pemuda. Mempermudah akses dalam jaringan narkoba, kekerasan bahkan LGBT.
Negara kapitalis memandang bahwa manusia adalah obyek komersial yang menguntungkan, tanpa memikirkan efek yang ditimbulkannya. Apalagi memikirkan dosanya, sungguh ironis memang. Kerusakan yang ditimbulkan ideologi kapitalis sungguh telah nampak didepan mata. Sudah tidak perlu diragukan lagi bahwa adanya jamaah dakwah ditengah masyarakat sangatlah penting untuk membina ummat, mencerdaskan generasi sesuai dengan standar yang telah Allah tetapkan.
Perilaku yang tidak sesuai dengan hukum Syara' akan dijauhkan, diganti dengan aktivitas yang bermakna. Generasi, terutama pemuda akan disadarkan bahwa memperjuangkan kebangkitan Islam adalah sebuah kewajiban bukan momok yang menakutkan.
Ini sesuai dengan dengan firman Allah dalam QS. Ali Imran ayat 104 yang menjadi landasan bagi kewajiban jamaah Islam yang memiliki visi ideologis dan tujuan perubahan sistemik. Sebagaimana yang diteladankan Rasulullah ﷺ, jamaah dakwah ini membina umat, termasuk ibu dan generasi muda, dengan Islam ideologis, menyiapkan mereka menjadi pelopor peradaban yang membela dan mengemban Islam kaffah. Wallahua'lam bishawab. []

Tidak ada komentar:
Posting Komentar