Ibu Generasi Mewujudkan Peradaban Islam - Beritakan Kebenaran Opinikan Keadilan

Breaking

Sabtu, 03 Januari 2026

Ibu Generasi Mewujudkan Peradaban Islam


Oleh Ummu Ghoza


Ibu. Satu kata dengan makna mendalam. Ibu, sosok perempuan tangguh yang selalu berharap menjadi ibu salihah dan tangguh menjalankan perannya yang mulia. Baginya, menjadi ibu adalah satu kehormatan untuk menyempurnakan agamanya.


Ibu salihah akan melahirkan generasi tangguh pemimpin peradaban Islam. Ibu-ibu salihah eksis dari zaman Rasulullah saw., pada masa khulafaurasyidin, sampai era peradaban Islam terakhir di Turki Utsmani. Oleh karenanya dibutuhkan dukungan untuk ibu generasi.


Ibu salihah akan memperjuangkan generasi untuk mengembalikan peradaban Islam yang agung. Yaitu dengan mendidik generasi secara sungguh-sungguh agar kembali menjadi generasi terbaik, khairu ummah.


Sosok ibu tangguh seperti inilah yang telah melahirkan generasi tangguh bermental pemimpin dalam kehidupan generasi awal Islam. Sayangnya tantangan hari ini berbeda zaman dengan saat  Islam berjaya. Sistem sekuler melahirkan liberalisme, hedonisme, pluralisme dan toleransi kebablasan, relativisme, sekularisme berwajah moderasi beragama dan lain-lain.


Selain itu, tantangan terkini dalam bentuk hegemoni digital melalui platform digital yang bisa membentuk opini, menanamkan nilai-nilai hidup sekuler, serta mengendalikan cara pandang politik masyarakat dunia dengan corak liberal. Semua kerusakan ini karena penerapan sistem kapitalisme sehingga kemaksiatan tumbuh subur dan marak gaya hidup permisif dengan kendali algoritma yang ditanam pada platform. 


Dengan media tayangan, tontonan, dan game online yang viral dibangun cara berpikir sekuler, cara pandang gaya hidup liberal, hura-hura (hedonistik), dan jauh dari Islam. Dampaknya sangat berbahaya bagi generasi muda. Karena menjauhkan dari identitasnya sebagai muslim. 


Dengan lemahnya akidah Islam, mereka semakin jauh dari kebangkitan dan makin toleran pada kemaksiatan dan abai pada zalimnya penjajahan. Lebih parahnya lagi, peran strategisnya makin terpalingkan dari tanggungjawabnya sebagai calon pemimpin peradaban Islam.


Bolehkah ibu peradaban berdiam diri atas semua masalah ini? Tentu saja semuanya antara ibu dan anak seharusnya sadar untuk bersama-sama dengan segala potensinya menjadikan generasi pelopor perubahan Islam. Dua generasi dengan satu amanah yang sama, yakni melanjutkan kehidupan Islam dan kembali menjadi khairu ummah. 


Tugas pendidik generasi pemimpin dan pelopor perubahan hanya bisa dijalankan oleh sosok ibu peradaban yang salihah. Yakni yang mempunyai karakter diantaranya beriman dan bertakwa sebagaimana firman Allah Taala,

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya takwa kepada-Nya, dan jangan sekali-kali engkau mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS Ali Imran [3]: 102).


Dalam menjalankan peran dan tanggung jawabnya, ibu peradaban taat syariat karena menyadari hidupnya untuk ibadah. Kebahagiaan hakiki untuk mengejar rida Allah. Sehingga sejak dini anaknya mendapatkan keimanan yang kokoh yang merupakan benteng utama bagi calon pemimpin Islam.


Adanya kesadaran bahwa anak adalah titipan Allah. Sehingga anaknya akan dijauhkan dari azab neraka. Hal ini sebagaimana firman Allah Taala, 

Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat kasar dan keras yang tidak durhaka pada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahrim[66]: 6)


Walaupun dengan tantangan yang dihadapinya  di era digital dan kapitalisme platform saat ini, ibu akan sabar, ikhlas, dan optimis mendidik anak karena termasuk menolong agama Allah. Sebagaimana firman Allah,

Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad [47]: 7)


Dengan amanah yang besar, maka ibu akan belajar sungguh-sungguh tentang metode pendidikan generasi yang sahih sesuai dengan teladan Rasulullah saw. Yakni akidahnya dikuatkan, kesadarannya dibangkitkan, diajak berpikir tanpa dihakimi, dibina kepribadiannya, dibaguskan akhlak dan adabnya, diajak diskusi dan dialog yang hangat, dan semangat bersahabat dengan anak dalam taat. 


Anak mudah memahami keagungan dan kebenaran Islam karena disampaikan dengan lebih baik. Sehingga anak akan bangkit turut berjuang mendakwahkan Islam.


Ibu paham tentang generasi muda sehingga mengemas dakwah yang menarik yang sesuai koridor syarak. Sehingga mampu bersaing dengan propaganda sekuler liberal dalam platform digital yang dijajakan melalui tayangan, tontonan, dan game, terutama di media sosial.


Semua usaha itu diiringi dengan ketaatan, doa, taqorub ilallah, dan tawakal. Terima kasih untuk ibu peradaban Islam. Generasi bisa menjadi pelopor perubahan Islam, karena seluruh potensi dan keistimewaannya. Dukungan muslim lainnya berupa dakwah politik yang terarah dalam jamaah ideologis sangat dibutuhkan. Oleh karenanya mana yang lebih baik ikut berjuang bersama ibu generasi atau diam saja? Terima kasih ibu generasi peradaban Islam. Wallahualam bissawab. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar