Oleh : Ummu Ghoza
Sungguh Miris. Kondisi di Aceh makin memprihatinkan. Bencana banjir bandang dan tanah longsor tidak mendapatkan penanganan yang cepat, pemulihannya pun tersendat. Selain kehilangan harta benda serta jiwa manusia, ada luka hati dalam diri para korban karena tidak adanya empati dari penguasa negeri ini. Parahnya, pihak swasta tertarik untuk memanfaatkan jutaan kubik endapan lumpur.
Demi pemasukan daerah, presiden memanfaatkan peluang menjual endapan lumpur. Dengan memberdayakan Menteri Pertahanan, TNI, ahli-ahli engineering, BUMN, PU dan dari fakultas-fakultas teknik serta perusahaan-perusahaan besar di dunia yang mampu membuat engineering World berskala besar (sindonews.com, 1-1-2025).
Sebelumnya medsos sedang viral tentang ada kandungan emas di endapan lumpur pasca bencana. Staf Khusus Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI), Lucas Donny Setijadji, menyatakan bahwa daerah Aceh mempunyai emas. Oleh karena itu, sangat mungkin ditemukan butiran emas di endapan lumpur pasca bencana (kompas.com, 6-1-2025).
Beginilah negeri yang menerapkan kapitalisme. Pemerintah abai pada rakyatnya. Parahnya demi cuan, semua tanggung jawabnya diserahkan kepada swasta. Saat rakyat terdampak membutuhkan bantuan pokok, infrastruktur, transportasi, tapi nyatanya pelayanan salah prioritas.
Saat negara lain dan rakyat sendiri membantu korban bencana, penguasa demi pencitraan, dengan sombongnya menolaknya. Namun responnya sangat cepat tanpa regulasi yang jelas, bila mendapat imbalan dari hasil endapan lumpur. Padahal ini solusi yang pragmatis yang dengan mudahnya ada eksploitasi dari swasta.
Kita ketahui bersama bahwa penyebab bencana adalah akibat eksploitasi di hulu hutan. Apa yang terjadi selanjutnya bila eksploitasi di hilir hutan area bencana? Apa dengan solusi penyerahan tanggung jawab kepada swasta menjadikan rakyat sejahtera tanpa penderitaan? Kapan kebijakan pemerintah tidak salah prioritas? Kapan pemerintah mengutamakan bantuan pokok kepada warga terdampak?
Tentu sudah jelas, eksploitasi pihak swasta akan semakin memperparah bencana. Akan terjadi bencana beruntun yang menjadikan rakyat semakin menderita. Swasta hanya mengejar cuan. Sedangkan harta kekayaan alam milik rakyat jadi hilang. Semuanya terjadi karena watak kapitalistik penguasa yang seenaknya hingga lambat penanganan kepada yang terdampak bencana. Inilah kebijakan penguasa yang populis hanya tambal sulam semata. Demi materi semua dihalalkan padahal solusi tak sampai darimana datangnya masalah.
Padahal sebagai muslim, kita sebagai khoiru ummah dapat mensolusikan semua masalah dari sudut pandang Islam. Sebagaimana Allah Swt. berfirman yang artinya,
”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Ali-Imran:110).
Setiap muslim, masyarakat dan pemimpinnya memakai aturan Islam di mana saja dan kapan saja. Semuanya menggunakan aturan Islam dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. Jadi bencana dan penderitaan rakyat termasuk qada Allah yang menjadi peringatan bagi kita selalu taat aturan Allah, sang kholiq dan mudabbir. Niscaya dengan diterapkannya hukum Allah di muka bumi, keberkahan akan datang dari langit dan bumi.
Sejatinya endapan lumpur dan yang terkandung didalamnya adalah sumber daya alam milik rakyat, maka haram hukumnya swastanisasi. Negara wajib mengolahnya dengan sebaik-baiknya dan digunakan untuk kesejahteraan rakyat. Karena dalam Islam, negara adalah penjaga dan pelayan seluruh rakyatnya. Maka negara wajib bertanggungjawab atas bencana ini. Menjaga nyawa manusia menjadi prioritas. Selalu menggunakan syariat dalam mitigasinya yang preventif dan kuratif. Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda.,
"Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya."(HR al-Bukhari).
Oleh karena itu siapa yang mau menjadi Khoiru ummah yang mau negeri ini selamat dari bencana? Pasca bencana ini, apa kita diam saja atau memilih syariat Allah yang rahmatan lilalamin? Wallahualam bissawab. []

Tidak ada komentar:
Posting Komentar