Ilustrasi: Gen Z dan Digitalisasi (pinterest)
Oleh : Ummu Hanan
Beritakan.my.id, Opini--Siapa yang hari ini tak memiliki akun media sosial? Mungkin dapat dikatakan hampir sebagian masyarakat kita memilikinya. Siapa yang paling akrab dengan dunia digital ini? Jawabannya tidak lain adalah para generasi Z atau biasa disebut dengan Gen Z.
Ya, Gen Z memang merupakan penduduk asli dunia digital sehingga tak dipungkiri kehadirannya sangat lekat dengan algoritma platform seperti Twitter, Tik Tok dan Instagram. Remaja seolah berada di persimpangan ketika mereka dihadapkan pada tuntutan mengikuti selera publik dengan banyaknya jumlah pengikut serta dukungan merupa komentar positif atau kemudian berpegang pada prinsip meski harus menyelisihi kebanyakan orang.
Di sisi lain, media sosial telah memberi dampak tersendiri pada kesehatan mental Gen Z. Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) pada tahun 2023 yang dilakukan oleh Badan Kebijakan Pembanguna Kesehatan, terdapat tidak kurang dari 5,5% remaja yang berusia 10-17 tahun rentan mengalami gangguan mental (detiknews.com, 21-4-2025).
Baca juga:
Air Adalah Sumber Kehidupan, Haram Dikapitalisasi
Dampak digitalisasi terhadap kehidupan remaja demikian luar biasa. Ganggunan mental akibat paparan konten yang kerap menjadi tuntunan telah menjadikan remaja korban kejahatan dunia maya, seperti kasus pornografi, bullying, maupun tindak asusila yang dipicu oleh gaya hidup liberal di tengah masyarakat.
Tidak sedikit dari para remaja yang kemudian tampak kuat secara fisik namun rapuh mentalnya. Manakala mereka menghadapi persoalan tidak sedikit yang kemudian berkeinginan untuk mengakhiri hidup, meski masalah tersebut sebenarnya terkatagori remeh bagi sebagian orang.
Remaja dilemahkan potensi akal dan kepemimpinannya sehingga tidak lagi memiliki kekuatan berpikir dan menjadi pemutus perkara atau decision maker minimal bagi dirinya sendiri. Ini semua adalah bentukan dari pengaruh sosial media yang dekat dengan kehidupan para Gen Z.
Namun demikian, ruang digital bukanlah penyebab utama dari masalah yang tengah melanda remaja saat ini. Hadirnya sosial media pada dasarnya hanyalah wasilah alias alat yang berperan mempertebal perasaan yang muncul dalam diri remaja. Sosial media lahir dari sebuah aturan kehidupan yang menuhankan kebebasan serta memisahkan aturan agama dari kehidupan, itulah Sistem Kapitalisme yang sekuler.
Sistem kapitalisme lah yang telah membei andil sangat besar terhadap kerusakan remaja hingga tataran meresahkan masyarakat. Maka mengurai persoalan digitalisasi pada remaja tentu tak sekadar membatasi akses penggunaan sosial media. Sebab, pembatasan tidak menyentuh akar masalah yang sistemik melainkan hanya pada aspek alat nya saja.
Perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh pemahamannya terhadap sesuatu, bukan sosial media semata. Sosial media tidak lain adalah madaniyah yakni produk yang dihasilkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sosial media tidak luput dari pengaruh ideologi yang menaunginya.
Maka ketika kita dapati sosial media saat ini begitu gencar menyuarakan ide kebebasan itu bukan tanpa maksud. Sosial media dalam kehidupan kapitalistik meniscayakan orientasinya pada mengemban ide-ide Kapitalisme pula, seperti liberalisme dan pluralisme.
Agama tidak diletakkan pada posisi tertinggi dan dipandang sebatas keyakinan pada ranah privat dan siapapun tak berhak menganggap hanya keyakinannya yang benar. Sehingga wajar jika remaja pun akhirnya merasa antipati dengan agamanya, termasuk remaja muslim. Jiwanya rapuh hingga ingin keluar dari kenyataan hidup dengan segala cara.
Baca juga:
Mendongkrak Ekonomi Tanpa Stimulasi, Mungkinkah?
Ruang digital tidaklah netral. Meski demikian, era digitalisasi telah membuka sudut pandang untuk sebuah perubahan di tengah masyarakat. Kita mengenal adanya istilah gerakan (aktivisme) yang bersifat glocal atau pergerakan yang dilakukan pada tataran lokal namun mampu memberi dampak secara global.
Selain itu para remaja alias Gen Z memiliki potensi yang belum tentu dimiliki generasi sebelumnya seperti kemampuan beradaptasi dengan teknologi dan reaktif terhadap perubahan. Akan tetapi Gen Z juga cenderung pragmatis dan haus validasi. Oleh karenanya ketika potensi Gen Z tidak segera diarahkan dengan konsep yang shahih tentu mereka hanya akan diperbudak oleh kepentingan kapitalis.
Menjadi kepentingan kita semua untuk menyelamatkan para Gen Z dari pengaruh hegemoni ruang digital yang sekuler dan kapitalistik. Tidak ada acara lain untuk menyelamatkan mereka kecuali dengan mengubah cara pandang sekuleristik yang selama ini bercokol dalam benak remaja kepada cara pandang Islam.
Aktivisme yang merupakan pergerakan Gen Z sejatinya diarahkan untuk memberikan solusi sistematis dan ideologis berdasarkan sudut pandang Islam. Oleh karena itu mutlak dibutuhkan adanya sinergi antara keluarga, masyarakat dan negara dalam rangka menyelamatkan generasi dan mengarahkan mereka pada pergerakan yang hakiki. Allahu’alam. [ry].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar