Penulis: Ummu Itsna |Aktivis Dakwah Masyarakat
Beritakan.my.id - OPINI - Diketahui beberapa sungai di Kota Bekasi tercemar tumpukan sampah, salah satunya sungai di dekat Underpass Jalan Baru, Bekasi Timur. Fenomena ini menjadi alarm serius karena jika dibiarkan akan memperburuk kualitas lingkungan, termasuk ekosistem yang ada di sungai, semisal ikan yang akan terganggu kehidupannya karena tidak mendapati air yang bersih dan kekurangan oksigen karena air sungai tertutup tumpukan sampah. Kemudian kualitas udara di wilayah sekitar sungai juga terganggu karena bau busuk dari tumpukan sampah yang bahkan bisa menjadi bibit penularan penyakit. Belum lagi ketika musim hujan datang, risiko banjir pun akan semakin besar.
Anggota Komisi II DPRD Kota Bekasi yang juga membidangi Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Persampahan, Gilang Esa Mohamad mendorong dinas terkait untuk melakukan penanganan cepat sekaligus membangun sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Ia juga akan mendorong lahirnya kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan dari pengelolaan sampah berbasis masyarakat, kemudian digitalisasi sistem lingkungan, hingga edukasi generasi muda agar sadar ekologi. (rri.co.id, 22/11/25)
Fenomena penumpukan sampah ini sebenarnya sudah sering terjadi dan penanganan yang dilakukan pemerintah selama ini seolah tidak tuntas. Bahkan usulan-usulan yang disampaikan pun seperti angin lalu lalang yang tidak ada hasil nyatanya. Masalah sampah juga diperparah dengan membludaknya Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang dan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Sumur Batu, Kota Bekasi, hingga sebagian warga memilih membuang sampah ke sungai. (tvOneNews, 7/10/2025)
Sejatinya akar masalah penumpukan sampah di sungai bukan sekadar perilaku warga, tetapi sistem ekonomi sekuler-kapitalistik yang mendorong produksi dan konsumsi tanpa batas. Dalam sistem kapitalis, pemilik modal bebas melakukan berbagai usaha untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya. Diantaranya dengan mendirikan perusahaan yang terus-menerus memasarkan produk berkemasan murah namun sulit terurai, karena prinsip ekonomi kapitalisme adalah "Dengan modal sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya", tanpa memperhatikan dampaknya ke lingkungan. Sementara masyarakat didorong mengikuti gaya hidup praktis dan instan sehingga sampah bertambah jauh lebih cepat dari kemampuan pengelolaan. Budaya konsumtif dari belanja online, penggunaan plastik sekali pakai, hingga pola makan berlebih dibentuk oleh dorongan pasar bukan kebutuhan riil.
Sungguh sangat miris, karena dalam sistem kapitalisme ini manusia diposisikan sebagai mesin konsumsi. Mereka hanya fokus pada konsumsi barang dan jasa tanpa memperhatikan kebutuhan spiritual, emosional, dan sosial. Mereka membeli barang-barang yang tidak dibutuhkan hanya karena ingin memiliki, makan makanan hanya karena ingin merasakan kesenangan sesaat. Inilah bahayanya ketika manusia dianggap sebagai mesin konsumsi karena mereka hanya fokus pada konsumsi dan tidak memperhatikan aspek lain dari kehidupan yang lebih penting, seperti hubungan dengan Tuhan, keluarga, dan masyarakat, sehingga dampak ekologi tidak pernah masuk perhitungan.
Penyebab lain masalah penumpukan sampah yaitu ketika produksi dan konsumsi tidak dikendalikan oleh nilai syari'ah. Dalam Islam, syariah konsumsi dan produksi yang dilakukan tidak boleh berlebihan dan juga tidak kekurangan, artinya harus seimbang. Selain itu, konsumsi dan produksi hanya diperbolehkan untuk sesuatu yang halal, tidak membuang-buang barang atau makanan (melakukan hal yang mubazir). Sebagaimana firman Allah taala :
... وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْا ۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ.
Artinya : "...makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al-A'rof : 31)
Pemerintah dalam Negara yang menerapkan sistem Islam juga akan terus mengawasi dan mengendalikan kegiatan ekonomi untuk memastikan kesyari'ahannya. Dengan prinsip ini, Islam mengatur dan mengendalikan konsumsi dan produksi untuk mencapai kesejahteraan masyarakat dan dampak baik buruknya untuk lingkungan. Sehingga kerusakan lingkungan seperti penumpukan sampah di sungai akan terhindarkan.
Jadi, sejatinya permasalahan sampah dan rusaknya lingkungan disebabkan karena orientasi hidup materialistik yang dibentuk dari sistem kapitalisme saat ini. Dan ketika pemerintah hanya sibuk memadamkan masalah teknis, sementara akar sistemiknya, orientasi hidup materialistik tidak pernah disentuh, permasalahan penumpukan sampah akan terus terjadi.
Maka dari itu, menanamkan dan menerapkan kembali IsIam sebagai mabda (ideologi) yang mengatur seluruh aspek kehidupan adalah wajib, sehingga cara pandang masyarakat terhadap lingkungan tidak sekadar teknis tetapi ibadah. Terbangunnya masyarakat yang saling mengoreksi (muhasabah) karena mereka memahami bahwa amar makruf nahi munkar adalah kewajiban.
Negara dalam sistem Islam pun akan menjalankan pengelolaan sampah berbasis syari'ah mulai dari edukasi berbasis aqidah, regulasi yang menutup pintu produksi yang merusak hingga pengelolaan teknis menggunakan teknologi terbaik dengan pendanaan dari Baitul Mal (Kas Negara). Tujuannya bukan sekadar efisiensi ekonomi tetapi memastikan amanah penjagaan lingkungan terpenuhi hingga mencapai kondisi minim limbah (zero waste).
Wallahu a'lam bish shawab

Tidak ada komentar:
Posting Komentar