Ilustrasi Pinterest
Oleh: Eka Ummu Hamzah
(Aktivis Dakwah dan Pemerhati Publik)
MediaMuslim.my.id, Opini — Situasi negeri ini semakin tidak karuan. Kondisi umat semakin menyedihkan karena ketidak mampuan sistem dalam meriayah (mengurusi) permasalahan umat. Timbullah berbagai reaksi kekecewaan masyarakat atau kelompok masyarakat, diantaranya apa yang dilakukan oleh para aktivis Geernpeace Indonesia yang melakukan aksi pasang sepanduk di Patung Selamat Datang di bundaran HI. (ANTARA, Kamis, 24 Oktober 2026).
Diantara sepanduk tersebut bertuliskan " Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?". Aksi ini bukan tanpa alasan, masyarakat sudah lelah melihat kondisi negeri ini sudah semakin rusak.
Disisi lain, ekonomi rakyat semakin terpuruk, harga kebutuhan pokok semakin naik, PHK terjadi dimana-mana, pekerjaan semakin susah untuk di cari, biaya pendidikan semakin tinggi, bencana banjir dan karhutla terjadi di mana-mana. Pada yang sama, pejabat negara seolah tidak peduli dengan rakyat, mereka merampok hak rakyat demi kepentingan diri mereka sendiri.
Dari segi sosial, kemaksiatan dan kejahatan marak terjadi mana-mana, perampokkan, begal, kejahatan seksual, protitusi dan lain-lain. Tidak ketinggalan kerusakan generasi bangsa ikut andil, seks bebas, tawuran, bullying, LGBT dan masih banyak lagi realitas kerusakan yang dihadapi oleh masyarakat.
Melihat samua realitas buruk ini serta ketidak mampuan penguasa dalam menyelesaikan masalah umat, wajar saja jika muncul rasa kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah dan memicu berbagai pihak untuk melakukan perubahan. Ada yang menginginkan perubahan dengan pergantian rezim, ada pula yang yang menginginkan perubahan dengan mengganti sistem yang ada.
Untuk melakukan perubahan, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengetahui apa yang menjadi akar permasalahan. Semua problematika umat saat ini berakar dari satu sumber, yakni sistem sekuler demokrasi yang diterapkan. Sistem menjadi akal manusia yang terbatas sebagai pembuat hukum bagi kehidupan manusia lainnya. Sistem ini telah menafikan peran Allah SWT sebagai sang Khalik dalam mengatur kehidupan. Bagi ideologi sekuler tuhan (Allah SWT) tidak boleh mengatur kehidupan manusia, manusia sendirilah yang mengatur kehidupannya melalui akalnya. Maka hasilnya adalah apa yang dirasakan oleh manusia dunia saat ini. Kerusakan demi kerusakan terjadi, baik kerusakan manusia maupun kerusakan alam. Keserakahan segelintir manusialah yang terus terpenuhi, sedangkan masyarakat luas terus hidup dalam kemiskinan.
Maka, perubahan yang ingin dilakukan adalah perubahan yang bukan bersifat parsial sekedar mengganti rezim semata, karena fakta menunjukkan bahwa pergantian pemimpin atau rezim sudah berkali-kali, tetapi keadaan tidak pernah berubah justru semakin parah.
Tetapi, perubahan yang diinginkan adalah perubahan yang benar-benar mendatangkan kebaikan bagi kehidupan dunia, baik bagi manusia maupun alam, yakni dari sistem sekuler demokrasi yang rusak menuju sistem Islam.
Rasulullah saw. telah memberikan contoh terbaik kepada kita semua, bagaimana mengubah peradaban jahiliah yang rusak menuju peradaban Islam yang mulia, yakni dengan melakukan aktivitas politik. Menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitabnya Mafahim Siyasiyah, aktivitas politik adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan pengaturan urusan umat/ masyarakat, baik yang berkaitan dengan kekuasaan sebagai pengatur urusan masyarakat secara langsung, maupun yang terkait dengan umat sebagai obyek yang melakukan pengawasan terhadap aktivitas kekuasaan dalam mengatur urusan masyarakat.
Aktivitas riil yang dilakukan adalah dengan memahamkan serta mengedukasi masyarakat supaya memiliki pemahaman Islam benar sesuai dengan dalil syara' sehingga membentuk akidah yang kokoh. Maka, dengan pemahaman yang benar inilah yang menjadi pijakan dalam menyelesaikan setiap permasalahan diri maupun masyarakat. Tidak hanya itu, ketika pemahaman akidah yang kokoh ini terpatri dalam diri umat. Maka akan terbentuk sikap yang kokoh untuk membela dan memperjuangkan Islam. Aktivitas inilah yang harus dilakukan oleh kaum Muslim tanpa terkecuali laki-laki maupun perempuan.
Peran Politik Muslimah
Mengenai peran politik, Islam tidak pernah meminggirkan peran perempuan dalam aktivitas politik. Rasulullah saw. bersabda: " Siapa saja yang tidak memperhatikan kepentingan kaum Muslim, ia bukanlah termasuk di antara mereka. Siapa yang saja bangun pada pagi hari tidak memperhatikan urusan kaum Muslim, ia bukanlah golongan mereka." ( HR ath-Thabari). Hadist ini merupakan salah satu dalil bahwa perempuan juga memiliki kewajiban yang sama sebagaimana laki-laki untuk mewujudkan kesadaran politik pada diri mereka dengan terus mengembangkan diri dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan. Perempuan juga memiliki kewajiban untuk mewujudkan kesadaran politik bagi masyarakat dengan mendidik generasi dan para perempuan lainnya dengan akidah Islam. Serta perempuan memiliki hak dalam mengoreksi penguasa.
Pada masa awal Islam, para Muslimah telah memberikan contoh bagaimana mereka mengambil peran dalam dakwah politik Rasulullah SAW. Ada Khadijah binti Khuwailid ra. yang senantiasa mendukung dakwah Rasulullah SAW. Ada Asma binti Abu Bakar ra yang memuliakan jalan hijrahnya Rasulullah dan ayahnya Abu Bakar ke Madinah. Ada Asma binti Yazid ra orator ulung yang menjadi wakil para perempuan dalam majelis Syura. Ada Khaulah binti Malik bin Tsa'labah ra yang tidak segan-segan melakukan koreksi terhadap Amirul Mukminin Umar bin Khattab ra. Mereka adalah para perempuan yang mempunyai posisi strategis dalam peran politik.
Oleh karena itu, wahai para Muslimah. Sudah saatnya kita mengambil peran politik ini untuk menyadarkan umat. Umat sedang dalam keterpurukan karena hidup dalam sistem yang rusak ini. Sudah saatnya kita sadarkan kembali bahwa hanya sistem Islamlah yang mampu menyelesaikan seluruh problematika umat saat ini.
Wallahu 'alam.
Social Plugin