Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban
MediaMuslim.my.id—Kemenangan Tim Nasional Indonesia atas Thailand dalam final FIFA ASEAN Cup 2026 masih membawa euforia di tengah masyarakat. Pertandingan yang berakhir 2–2 setelah 120 menit sebelum Indonesia menang 4–2 melalui adu penalti, dikulik banyak pihak dengan berbagai narasi dan sudut pandang.
Guru besar manajemen pendidikan UIN Sunan Gunung Jati Bandung, A Rusdiana, mempertanyakan dapatkah semangat kebersamaan itu dibawa keluar stadion menjadi sikap moderat terhadap perbedaan sekaligus tanggung jawab terhadap lingkungan?
Yang ia lihat, persamaan pertama, merah putih di atas perbedaan. Sebuah tim nasional merupakan gambaran kecil tentang kemajemukan. Pemain dapat berbeda asal, pengalaman, karakter, dan peran, tetapi perbedaan itu tidak harus dihapus untuk mencapai tujuan bersama. Bahkan ia menyiir Al-Quran QS. Al-Hujurat ayat 13 bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar lita’arafu saling mengenal. Dalam konteks moderasi beragama, kemajemukan bukan sekadar kenyataan yang terpaksa ditoleransi. Ia merupakan ruang untuk membangun pengenalan, penghormatan, dan kerja sama untuk meraih kemaslahatan bersama.
Persamaan kedua, keberhasilan yang diraih, memunculkan dua sikap, bersyukur atau malah kesombongan. Moderasi memperoleh relevansi etis. Dengan peinsip wasathiyah tidak identik dengan sikap tanpa pendirian. Ia menuntut keseimbangan, keadilan, dan kemampuan mengendalikan sikap berlebihan. Kembali ia menyiir firman Allah swt. yang artinya, “Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa” (QS. Al-Ma’idah: 8).
Persamaan ketiga, euforia menuju solidaritas. Sorak-sorai stadion memperlihatkan betapa cepat identitas yang berbeda dapat dipertemukan oleh tujuan bersama. Dalam perspektif akademik, tidak cukup moderasi beragama berhenti sebagai wacana normatif, ia pun perlu sebagai dijadikan sebagai praktik sosial. Energi serupa yang harus dimiliki ketika menghadapi persoalan kemanusiaan di luar stadion.
Keempat, bersukacita tanpa merusak. Moderasi beragama juga mengajarkan bahwa perbedaan dapat dikelola menjadi kerja sama, kompetisi tidak harus melahirkan permusuhan, dan kemenangan tidak membenarkan sikap berlebihan.
Nasionalisme Sekuler dan Penghalang Persatuan Umat
Sungguh kita patut miris, di tengah bencana di negeri ini yang belum benar-benar pulih, sebagian rakyat seolah dibius dengan kemenangan yang diklaim setelah 35 tahun berjuang. Presiden dan jajarannya pun hadir menyaksikan langsung kemenangan itu dalam satu lokasi. Viral pula sebuah video yang memperlihatkan kekompakan suporter di luar stadion, saat mereka hendak berpisah di sebuah kereta listrik.
Indonesia menang atas Thailand, berhak membawa nama baik, piala, hadiah uang dan kebanggaan. Seolah itulah batas akhir perjuangan. Bahkan ada yang menyamakan dengan moderasi, seolah baper mengapa moderasi beragama belum mendapatkan tempatnya, sehingga masih perlu dibahas bahkan dikampanyekan.
Namun sadarkah kita bahwa inilah racun yang mematikan kepekaan hati dan kecemerlangan berpikir? Inilah nasionalisme yang merenggut identitas sesungguhnya dari makhluk yang disebut manusia. Allah SWT. berfirman yang artinya,” Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (TQS. Az-Zariyat : 56). Ya, kita diciptakan untuk menjadi hamba Allah bukan hamba sesama manusia. Dan kemenangan yang dirayakan adalah kemenangan nasionalisme berbau cinta tanah air dan bangsa sebatas wilayah negara dan bangsa, di luar itu meski satu akidah, satu rumpun bangsa, ras dan lainnya tidak ada gunanya.
Sesungguhnya kita muslim sedang merayakan bentuk cinta tanah air yang salah, sementara ukhuwah Islamiyah yang diperintahkan Allah ditinggalkan. Karena cinta tanah air dalam pandangan Islam hanya ada dua hal, yaitu bagaimana bumi tempat manusia berpihak diatur oleh syariat Islam. Sebab disitulah secara nyata terwujud keadilan dan kesejahteraan.
Dan pemimpin yang masih bisa menonton bola adalah gambaran pemimpin yang tidak bisa diandalkan sebab prioritasnya bukan rakyat. Bencana masih berlanjut, bahkan samasekali tidak menemukan kata yang tepat bahwa masyarakat yang terdampak sudah bahagia dan sejahtera.
Islam Solusi Hakiki Sejahterakan Rakyat
Dalam Islam, olahraga mubah dan tidak dikomersialkan. Hanya murni untuk menjaga kesehatan dan kebugaran badan semata. Maka tidak ada ruang industrialisasi olahraga sebagaimana hari ini, digelar eksklusif, berbayar, peruntungan diopinikan seolah inilah gaya hidup “ normal” . Artinya, sedikit demi sedikit kaum muslim dicekoki budaya kafir barat dan meninggalkan identitas hakikinya.
Seorang pemimpin pun ditunjuk bukan untuk sekedar euforia, pencitraan, membiayai partai, dan lainnya melainkan sebagaimana sabda Rasulullah Saw.“Imam adalah raa’in (gembala) dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR. Bukhari). Maka, haram baginya surga jika ia tak pernah menerapkan syariat Islam sebagai landasan kepemimpinannya.
Maka kita harus kembali menelaah kemenangan ini dari kacamata seorang muslimah. Bukan sekadar kesuksesan dari sebuah usaha. Tapi juga menjadikan sebagai poin entry menyadarkan manusia bahwa kita masih dijajah, bukan lagi pada senjata melainkan pemikiran kafir barat yang diadopsi bahkan diperjuangkan. Nasionalisme atau moderasi beragama, sama-sama sebuah ide sesat yang lahir dari kesombongan manusia yang enggan diatur Allah SWT. Kedua ide ini bertujuan menjauhkan kaum muslim dari agamanya sendiri. Meski benar.
Masalah umat ini bukan sekadar bagaimana memenuhi kebutuhan hidup yang layak, namun bagaimana menjadikan kepribadian Islam sebagai solusi atas setiap permasalahan itu. Tidak didikte asing, bahkan menjadi negara adidaya sebagaimana dahulu sejarah kaum muslim dimulai. Persatuan hakiki adalah ketika penderitaan kaum muslim di manapun berada adalah masalah bersama. Pun ketika kita dikirim dengan moderasi beragama, masalah pokok kaum muslim adalah menyadarkan di dalam diri kita ada DNA pejuang, yang rela bertaruh nyawa membela kemuliaan Islam. Wallahualam bissawab.

Social Plugin