Ilustrasi Pinterest
Oleh: Dini Damayanti, S.Pd.
MediaMuslim.my.id, Opini — Hari Santri yang diperingati setiap 22 Oktober bukan sekadar momentum untuk mengenang sejarah perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan.
Lebih dari itu, peringatan ini semestinya menjadi ruang refleksi untuk melihat kembali arah pendidikan pesantren, tujuan pembinaan santri, serta generasi seperti apa yang hendak dilahirkan dari lembaga pendidikan Islam tersebut.
Pada 2026, Kementerian Agama mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.” Tema ini menekankan kontribusi santri dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, hingga kemandirian ekonomi. Hal tersebut disampaikan dalam .Antaranew/(18/10/2026)
Santri memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat. Namun, di tengah beragam tuntutan zaman, ada hal mendasar yang tidak boleh terlupakan: pesantren bukan hanya tempat menyiapkan sumber daya manusia yang terampil, tetapi juga tempat membentuk generasi berilmu yang memahami, mengamalkan, dan mendakwahkan Islam.
Jangan sampai orientasi pendidikan santri lebih banyak diarahkan pada produktivitas dan pencapaian duniawi, sementara pembentukan kader ulama justru kurang mendapat perhatian.
Pesantren memiliki tradisi keilmuan yang panjang. Di dalamnya, santri belajar membaca dan memahami Al-Qur’an, mendalami hadis, fikih, akidah, serta berbagai cabang ilmu keislaman. Mereka juga dibina agar memiliki adab, akhlak mulia, kedisiplinan, dan tanggung jawab dalam menjalani kehidupan.
Pendidikan bukan sekadar bekal untuk memperoleh pekerjaan atau memenuhi kebutuhan ekonomi. Lebih dari itu, ilmu agama menjadi landasan bagi santri untuk membimbing umat, menjelaskan hukum-hukum Islam, serta memberikan arah ketika masyarakat menghadapi persoalan kehidupan.
Keberhasilan pendidikan pesantren tidak semestinya hanya diukur dari banyaknya lulusan yang bekerja, berwirausaha, menguasai teknologi, atau menduduki posisi strategis.
Semua kemampuan tersebut dapat menjadi bekal yang bermanfaat. Namun, perlu pula diperhatikan sejauh mana pesantren mampu melahirkan generasi yang mendalam ilmu agamanya, kuat kepribadiannya, serta siap menjalankan tanggung jawab keilmuan di tengah umat.
Santri memang perlu dibekali keterampilan untuk menghadapi perkembangan zaman. Akan tetapi, keterampilan tersebut hendaknya menjadi pelengkap, bukan menggantikan kedalaman ilmu agama dan pembentukan kepribadian Islam.
Jangan sampai pesantren kehilangan ciri khasnya karena terlalu sibuk menyesuaikan diri dengan ukuran keberhasilan yang semata-mata bersifat material.
Dalam sistem kehidupan yang berorientasi pada kapitalisme, keberhasilan sering kali dikaitkan dengan produktivitas, daya saing, pencapaian ekonomi, dan kemampuan memenuhi kebutuhan pasar.
Pola pikir semacam ini dapat memengaruhi cara masyarakat memandang pendidikan, termasuk pendidikan pesantren. Lembaga pendidikan seolah dituntut menghasilkan lulusan yang siap memasuki dunia kerja dan mampu bersaing secara ekonomi.
Tidak ada yang salah dengan membekali santri keterampilan hidup. Kemandirian ekonomi penting agar mereka mampu memenuhi kebutuhan diri dan keluarga serta berkontribusi kepada masyarakat.
Persoalannya muncul ketika ukuran keberhasilan tersebut menjadi tujuan utama, sedangkan pembentukan pemahaman agama dan kepribadian Islam tidak memperoleh perhatian yang seimbang.
Jika arah pendidikan terlalu berpusat pada tuntutan pasar, siapa yang akan menyiapkan generasi untuk mendalami ilmu agama secara serius? Siapa yang akan membimbing umat ketika mereka menghadapi persoalan keluarga, sosial, ekonomi, dan berbagai persoalan kehidupan lainnya berdasarkan ajaran Islam?
Pertanyaan ini patut menjadi bahan evaluasi bersama. Pesantren perlu menjaga keseimbangan antara penguasaan ilmu agama, pembentukan akhlak, dan pengembangan keterampilan.
Santri tidak harus dijauhkan dari perkembangan teknologi atau kegiatan ekonomi, tetapi semua itu perlu diarahkan agar sejalan dengan nilai-nilai Islam.
Hari Santri semestinya tidak berhenti pada seremoni, perlombaan, atau kegiatan yang meriah.
Berbagai kegiatan tersebut dapat menjadi sarana mempererat kebersamaan. Namun, yang lebih penting adalah memastikan bahwa semangat peringatan Hari Santri benar-benar memperkuat tradisi keilmuan pesantren dan mendorong lahirnya generasi ulama yang dibutuhkan umat.
Dalam perspektif Islam, santri perlu dibina agar memiliki kepribadian Islam yang tercermin dalam pola pikir dan pola sikapnya. Mereka diharapkan mampu membedakan perkara yang benar dan salah berdasarkan pemahaman agama, memiliki kepedulian terhadap persoalan umat, serta berani menyampaikan kebenaran dengan ilmu dan akhlak yang baik.
Pembinaan tersebut memerlukan proses yang sungguh-sungguh. Pengajaran kitab-kitab keislaman, pendampingan guru dan kiai, pembiasaan ibadah, serta keteladanan dalam kehidupan sehari-hari menjadi bagian penting dalam pendidikan pesantren.
Dengan demikian, santri tidak hanya menguasai pengetahuan secara teori, tetapi juga berusaha mengamalkannya dalam kehidupan.
Ulama memiliki peran penting dalam membimbing umat. Mereka bukan hanya menyampaikan pengetahuan agama, tetapi juga membantu masyarakat memahami persoalan kehidupan berdasarkan sumber-sumber Islam.
Keberadaan ulama yang mendalam ilmunya menjadi kebutuhan agar umat memiliki rujukan ketika menghadapi perubahan zaman dan berbagai tantangan kehidupan.
Oleh karena itu, pesantren perlu memberikan perhatian serius terhadap proses kaderisasi ulama. Hal ini dapat dilakukan melalui penguatan kurikulum keislaman, peningkatan kualitas pengajaran, pembinaan adab, serta pemberian ruang bagi santri untuk mengkaji persoalan kontemporer dengan landasan ilmu yang kokoh.
Santri perlu dibiasakan berpikir kritis, berdiskusi secara ilmiah, dan menghargai perbedaan pendapat dalam perkara yang memang memiliki ruang perbedaan di kalangan ulama.
Lebih jauh, kaderisasi tersebut perlu disertai kesadaran bahwa ilmu agama memiliki tanggung jawab sosial. Santri diharapkan mampu hadir di tengah masyarakat, memberikan pendidikan, menyampaikan dakwah, membantu menyelesaikan persoalan umat, dan menjadi teladan dalam kejujuran serta keadilan.
Maka, cita-cita melahirkan kader ulama bukan berarti menutup kesempatan santri untuk berkiprah dalam pembangunan masyarakat dan negara. Sebaliknya, pendidikan agama yang kuat dapat menjadi landasan bagi kiprah tersebut. Yang perlu dijaga adalah agar tuntutan pembangunan tidak membuat pesantren melupakan amanah keilmuan yang menjadi salah satu kekuatan utamanya.
Peringatan Hari Santri 2026 hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat kembali komitmen terhadap pendidikan pesantren. Tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” dapat dimaknai sebagai dorongan agar santri berkontribusi kepada masyarakat, sekaligus menjadi pengingat bahwa kontribusi yang bermakna perlu ditopang oleh ilmu, akhlak, dan prinsip hidup yang kuat.
Pemerintah, pengelola pesantren, para kiai, pendidik, orang tua, dan masyarakat memiliki tanggung jawab bersama dalam menjaga kualitas pendidikan santri. Dukungan terhadap pesantren perlu diwujudkan melalui penguatan sarana pendidikan, peningkatan mutu pembelajaran, kesejahteraan pendidik, dan kesempatan bagi santri untuk memperdalam ilmu agama tanpa mengabaikan kebutuhan hidup yang terus berkembang.
Jangan sampai keberhasilan santri hanya dilihat dari seberapa tinggi pendidikan formalnya, seberapa besar usaha yang dimilikinya, atau seberapa strategis posisi yang ditempatinya. Ukuran tersebut dapat menjadi bagian dari perjalanan hidup, tetapi bukan satu-satunya tolok ukur keberhasilan pendidikan pesantren. Kedalaman ilmu, kemuliaan akhlak, keteguhan dalam menjalankan ajaran Islam, dan manfaat bagi umat juga harus menjadi perhatian utama.
Pada akhirnya, pesantren perlu tetap terbuka terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendukung pendidikan, sedangkan tradisi keilmuan Islam harus terus dipelihara dan dikembangkan. Dengan demikian, santri memiliki bekal untuk menghadapi tantangan masa depan sekaligus menjaga amanah keilmuan yang diwariskan para ulama.
Wallahu 'alam bishawab '
Social Plugin