Maulid, Momentum Meneladani Perjuangan dan Kepemimpinan Nabi Saw

Ilustrasi Pinterest
Oleh : Nasiroh, Aktivis Muslimah 

MediaMuslim.my.id, Opini_ Bulan Rabiulawal adalah bulan kelahiran Nabi ﷺ atau dikenal dengan Bulan Maulid, dan setiap tahun umat Islam merayakan Maulid Nabi ﷺ. Perayaannya pun beragam. Mulai dari tabligh akbar, pawai dan pembacaan shalawat. 
Namun inti dari perayaan hanya sebatas aspek ritual dan emosional. 

Pembahasan pada momen Maulid Nabi ﷺ hanya sebatas meneladani akhlak dan menumbuhkan kecintaan kepada Nabi ﷺ dengan memperbanyak shalawat. 
Belum sampai pada kesadaran meneladani (𝘐𝘵𝘵𝘪𝘣𝘢). Bagaimana Nabi ﷺ mengubah sistem jahiliyah, penghambaan kepada dunia, dan hawa nafsu dengan sistem Islam yang menegakan penghambaan hanya kepada Allah.

Seharusnya, Maulid Nabi tidak sekadar seremonial tahunan, namun menjadi momen sudah sejauh mana kita mengikuti sunah yang dibawa oleh Nabi ﷺ dan menjadikan beliau sebagai uswah hasanah. 

Allah telah memerintahkan orang beriman untuk menunjukan cintai-Nya dengan mengikuti apa yang dibawa oleh Nabi ﷺ, sebagaimana firman Allah Swt :  "Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imran: 31).

Menurut Imam Ibnu Katsir, ayat ini menentukan hukum bagi siapa saja yang mengaku kecintaannya kepada Allah. Maka harus mengikuti syariat agama Nabi Muhammad ﷺ dalam segala aspek. Baik perkataan, perbuatan, keadaan dan hukum syariat. 

𝘐𝘵𝘵𝘪𝘣𝘢 yang benar adalah 𝘪𝘵𝘵𝘪𝘣𝘢 yang sesuai tuntutan Allah, firman Allah dalam Q.S Al- Ahzab ayat 21: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat, dan ia banyak menyebut Allah.”

Imam Ibnu Katsir mengatakan, “Ayat ini sebagai prinsip untuk mencontoh Nabi ﷺ, baik perkataan, perbuatan dan segala keadaan beliau ﷺ, baik berupa akidah, syariat, akhlak, ibadah, politik, dakwah dan yang lainnya. Kita wajib 𝘪𝘵𝘵𝘪𝘣𝘢 (mengikuti), tidak hanya dalam hal ibadah atau akhlak beliau ﷺ, tetapi harus menyeluruh.” (Tafsir Ibnu Katsir, III/522).

Mengakui mencintai Nabi ﷺ seharusnya membawa umat hari ini terikat dengan risalah Beliau, tidak hanya merayakan maulid, tapi juga menerapkan seluruh syariat yang dibawa oleh Beliau. Baik dalam urusan kehidupan sehari-hari, maupun dalam urusan negara. 

Saat ini, umat kehilangan kesadaran bahwa penghambaan selain kepada Allah masih terus berlangsung hingga hari ini. Sistem demokrasi, kapitalisme dan liberalisme menjadikan dunia dan hawa nafsu sebagai orientasi hidup. 

Sistem kapitalisme sekuler membatasi agama pada aspek ritual saja, Islam difahami hanya sebatas ibadah indiviual. Umat tidak diarahkan untuk menjadikan Islam sebagai dasar pemikiran dalam persoalan sosial, ekonomi, politik dan persoalan kehidupan. 

Sistem kapitalisme terus berupaya menghalangi kebangkitan umat Islam yang menuntut perubahan sistem secara menyeluruh, menerapkan Islam secara kaffah dalam segala aspek kehidupan. 

Sejatinya, kebangkitan yang hakiki adalah meningkatkan taraf berfikir umat mengenai manusia, kehidupan, alam semesta, hubungannya dengan Allah dan kehidupan setelah dunia, dengan pemahaman akidah dan syariat Islam. 

Memaknai 𝘪𝘵𝘵𝘪𝘣𝘢 kepada Nabi ﷺ adalah keterikatan syariat dan metode perjuangan yang dilakukan oleh Nabi ﷺ, tidak sekadar ritual tahunan. 

Saat ini, umat Islam memiliki kewajiban menerapkan syariat secara kaffah dinegeri-negeri muslim yang masih menerapkan sistem kapitalisme sekuler, dengan kepemimpinan Islam (Khilafah). Sebagaimana dicontohkan Nabi ﷺ ketika dakwah di makkah. 

Nabi ﷺ melakukan perjuangan Islam dengan tiga tahapan yakni, pembinaan, interaksi dengan umat, hingga terwujudnya perubahan sistem dan kepemimpinan Islam (Daulah/Khilafah) sebagaimana dicontohkan di Madinah. 

Kepemimpinan Nabi ﷺ di Madinah bukan hanya kepemimpinan keagamaan, tetapi juga mencakup kepemimpinan masyarakat dan pemerintahan. Kepemimpinan Beliau sebagai penguasa atau sebagai kepala negara yang wajib dan layak diteladani. Kepemimpinan Nabi ﷺ sebagai kepala negara telah banyak dijelaskan dalam kitab-kitab fikih siyâsah. Misalnya, Nabi ﷺ mengurus dan melayani  berbagai keperluan rakyat dengan baik, adil dan penuh kasih sayang. Baik kepada muslim maupun nonmuslim. Hakikat kepemimpinan dalam konteks pemimpin negara ditegaskan dengan sabda beliau sendiri. :

“Pemimpin suatu kaum hakikatnya adalah pelayan mereka.” (HR Abu Nu‘aim). 

Nabi ﷺ memimpin negara dengan syariat Islam, mengadili banyak perkara dengan hukum-hukum Islam yang bersumber dari Allah Swt. 

Nabi ﷺ sebagai kepala negara mengutus para utusan untuk mengajak para pemimpin di seluruh Jazirah Arab untuk masuk Islam, mengangkat para panglima perang dan Beliau sendiri juga sering secara langsung memimpin perang dengan jihad. 

Kaum muslim hari ini dan generasi berikutnya wajib meneladani perjuangan dan kepemimpinan Nabi ﷺ dan Khulafaurrasyidin. Nabi ﷺ bersabda : "Kalian wajib berpegang teguh dengan Sunnahku dan Sunah Khulafaurasyidin yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah ia dengan gigi geraham.” (HR Ibnu Majah dan At-Tirmidzi).

Pada momentum bulan maulid ini, seharusnya menjadi spirit umat muslim. Selain mengekpresikan kecintaan kepada Nabi ﷺ dengan memperbanyak shalawat, kita juga harus meneladani perjuangan dan kepemimpinan yang dilakukan oleh Nabi kita, yaitu dengan memperdalam pemahaman akidah, syariah, dakwah dan menerapkan Islam secara menyeluruh dalam kehidupan.