Harga Pangan Naik di Tengah Klaim Swasembada : Islam Solusinya

Ilustrasi Pinterest
Oleh : Islah Nurhidayah

MediaMuslim.my.id, Opini_ Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso merespons kenaikan harga daging ayam ras di sejumlah daerah, bahkan mencapai Rp100 ribu per kilogram (kg) di Kabupaten Intan Jaya.
Ia menyebut rata-rata harga ayam secara nasional per Rabu (26/8) berada di kisaran Rp41 ribu per kg.

"Rata-rata nasional (harga daging ayam) itu per tanggal 26 Agustus Rp41 (ribu per kg). Jadi gini, kemarin harga telur rata-rata nasional Rp26 ribu (per kg), kemudian daging ayam rata-rata Rp41 ribu (per kg). Memang ada di daerah tertentu lebih mahal, ada daerah tertentu yang lebih rendah tapi harga rata-rata nasionalnya seperti itu," ujar Budi di Kemendag, Jakarta Pusat, (Kamis 27/8/26 ccnindonesia.com)

Jakarta, tvOnenews.com - Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional BI melaporkan, harga beras kualitas bawah I naik Rp 2.000 di Rp 16.800 per kg, dan harga beras kualitas bawah II naik Rp 1.100 di Rp 15.750 per kg. Lalu harga beras kualitas medium I naik Rp 1.500 di Rp 18.000 per kg, dan harga beras kualitas medium II naik Rp 650 di Rp 16.950 per kg.

Kemudian, harga beras kualitas super I naik Rp 1.200 di Rp 18.950 per kg, dan harga beras kualitas super II naik Rp 550 di Rp 17.800 per kg. Sementara harga bawang merah ukuran sedang naik Rp 7.100 menjadi Rp 45.950 per kg, dan harga bawang putih ukuran sedang juga naik Rp 5.450 di Rp 45.600 per kg. Selanjutnya, harga telur ayam ras naik Rp 150 menjadi Rp 29.400 per kg, dan harga daging ayam ras segar naik Rp 2.150 menjadi Rp 44.150 per kg ( Jumat, 28 Agustus 2026 tvonenews.com )

Belakangan ini, masyarakat kembali dihadapkan pada kenaikan harga sejumlah bahan pangan. Mulai dari ayam, telur, beras, cabai, hingga minyak goreng. 

Ironisnya, kenaikan ini terjadi saat pemerintah berulang kali mengumumkan bahwa Indonesia sudah swasembada pangan. 
Masalahnya, kenaikan harga ini nggak dirasakan sama rata di setiap daerah. Ada wilayah yang harganya masih relatif normal, tapi ada juga daerah yang harus membeli bahan pangan dengan harga jauh lebih mahal.

Kenaikan harga pangan di tengah klaim swasembada bukan hal baru. Ini pengulangan. Dan akar masalahnya bukan karena gagal panen semata. pangan tersedia banyak di satu daerah, tetapi masyarakat di daerah lain kesulitan mendapatkannya karena distribusinya nggak lancar. Atau barangnya ada, tetapi harganya terlalu mahal untuk dibeli.

Berarti masalahnya tidak hanya ada atau tidak nya. Tetapi juga "sampai kepada siapa saja dan dengan harga berapa".
Produksi yang melimpah belum tentu membuat rakyat sejahtera kalau distribusinya nggak merata.

Dalam sistem ekonomi kapitalisme, aktivitas ekonomi pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh mekanisme pasar dan kepentingan keuntungan.
Pangan akhirnya bisa diperlakukan sebagai komoditas yang diperjualbelikan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.

Pangan adalah kebutuhan pokok. Jadi, persoalannya bukan cuma tentang ekonomi, tetapi juga tentang kehidupan masyarakat. Negara nggak cukup hanya membuat aturan lalu menyerahkan semuanya kepada pasar. Karena kalau negara hanya hadir sebagai regulator, lalu urusan pemenuhan kebutuhan rakyat lebih banyak diserahkan kepada mekanisme pasar.

Sedangkan islam mempunyai pandangan yang berbeda dalam melihat kebutuhan pokok. Dalam sistem ekonomi islam, pangan bukan sekedar barang daganganPangan merupakan kebutuhan dasar yang pemenuhannya harus dijamin oleh negara.

Artinya, negara nggak cukup hanya memastikan stok pangan tersedia. Negara juga harus memastikan pangan tersebut bisa diakses oleh masyarakat dengan harga yang terjangkau dan distribusinya merata.

negara wajib menjamin pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu rakyat. Penguasa adalah raa’in, pengurus dan pelindung rakyat. Dan setiap pengurus akan dimintai pertanggungjawaban atas yang diurusnya. Laparnya satu orang rakyat adalah kegagalan sistem. Tidak bisa ditutup dengan data BPS.

negara wajib memastikan distribusi berjalan dan harga terjangkau. Menjamin pangan bukan hanya dengan mencetak sawah atau impor beras. Negara harus hadir membangun infrastruktur distribusi, memotong rantai pasok yang panjang, dan mengawasi agar tidak ada penimbunan. Jika ada pihak yang mempermainkan harga, negara wajib bertindak tegas. Juga memastikan pasar berjalan secara adil. 

Praktik yang merugikan masyarakat, seperti penimbunan, dan manipulasi pasar, harus dicegah. Bukan hanya menegur. Dalam Islam, penimbunan barang yang dibutuhkan publik adalah perbuatan haram dan pelakunya wajib dihukum.

Negara harus punya kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya secara mandiri, sekaligus menjaga agar sektor pertanian dan peternakan tetap kuat.
Petani dan peternak harus mendapatkan perlindungan. Distribusi harus dibenahi. Produksi harus ditingkatkan. Dan yang paling penting, rakyat harus bisa mendapatkan pangan dengan harga yang wajar.

Jadi, kenaikan harga hari ini bukan semata soal cuaca atau gagal distribusi. Ini soal sistem. Selama kita masih memakai kacamata kapitalisme, maka swasembada akan terus diartikan sebagai "produksi tinggi". Sementara rakyat akan terus bertanya: "Lalu kenapa di pasar tetap mahal?"

Selama negara masih rela jadi wasit dan membiarkan korporasi jadi pemain, maka harga pangan akan terus jadi alat tawar-menawar segelintir orang.

Sudah saatnya kita kembali pada paradigma bahwa pangan adalah urusan negara. Negara wajib hadir, menjamin, mendistribusikan, dan memastikan tidak ada satu pun rakyatnya yang kesulitan makan karena harga.

Karena sejatinya, swasembada yang benar bukan yang membuat data pemerintah bagus. Tapi yang membuat harga di pasar stabil, dan perut rakyat kenyang.

Satu-satunya jalan keluar adalah Back to Islam Kaffah. 
Kembali menjadikan Islam sebagai sistem kehidupan. Mengganti kapitalisme yang menyengsarakan, dengan syariat Islam yang menyejahterakan.

Dan hanya dengan penerapan Islam secara kaffah lah, pangan bukan lagi komoditas. Pangan adalah hak. Dan negara wajib menjamin hak itu sampai ke piring setiap rakyatnya.

"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi..." (QS. Al-A’raf: 96)

Wallahu a’lam bish shawab