AI si Pisau Bermata Dua


Ilustrasi Pinterest
Oleh Bintang Kejora



MediaMuslim.my.id, Opini_ Saat ini banyak orang menggunakan AI (Artificial Intelligence) sebab digadang-gadang dapat memberikan kecepatan, kemudahan, dan efisiensi tinggi dalam menyelesaikan berbagai tugas sehari-hari. Gen Z (usia 13–28 tahun) merupakan pengguna terbanyak, memanfaatkannya untuk belajar, membuat rangkuman materi dan tugas sekolah, atau hiburan seperti membuat gambar, video kreatif, atau mengobrol dengan chatbot

Pengguna berikutnya adalah generasi milenial (usia 29–44 tahun) yang banyak memanfaatkan AI untuk pekerjaan dan produktivitas profesional misalnya, analisis data, penulisan otomatis, copywriting, hingga membantu manajemen tim di kantor. Secara umum dapat disimpulkan bahwa semakin muda usia seseorang, semakin tinggi pula keterbukaan dan intensitas mereka, dalam menggunakan teknologi AI.

Hal ini sejalan dengan Polsek Bekasi Barat Polres Metro Bekasi Kota, yang terus mendorong pelajar agar mampu memanfaatkan perkembangan teknologi secara cerdas dan bertanggung jawab. Salah satunya melalui sosialisasi pemahaman Artificial Intelligence (AI) kepada para siswa SMK Negeri 1 Kota Bekasi. (Kpksigap, 11-9-2026)

Kecerdasan buatan (AI) ini membawa manfaat yang besar dalam peningkatan efisiensi, produktivitas, dan inovasi di berbagai sektor kehidupan manusia seperti di bidang pendidikan, kesehatan, navigasi dan transportasi dll. Namun ia juga memiliki dampak buruk bagi siswa, di antaranya: menurunkan kemampuan berpikir, ketergantungan, plagiat, risiko etika, info yang tidak akurat, dll.

Di tangan yang salah, AI menjadi alat deepfake untuk menipu seseorang, baik menggunakan gambar atau suara palsu. Ia juga bisa untuk memanipulasi dokumen, penipuan investasi, pencurian identitas, pemerasan, atau propaganda yang merusak kehormatan seseorang.

AI hanya alat, namun hari ini penggunaannya masih dalam kerangka pemikiran kapitalisme - sekularisme, hingga akan mempengaruhi outputnya. Bahkan bisa jadi lebih besar dampak buruknya bagi kehidupan manusia, ketimbang kebaikannya. Maka apabila manusia enggan belajar, menimba dan menggali ilmu melalui proses pembelajaran dengan guru serta hanya bersandar pada info AI, ia akan tersesat dan salah jalan. Sebab AI tak bisa bergerak sendiri, manusialah operatornya.

AI di Tangan Islam

Dalam Islam AI boleh digunakan untuk hal-hal yang mendatangkan kebaikan bagi Islam. Di dalam skala besar yakni negara, AI bisa mendeteksi penipuan, menemukan jaringan kriminal, mengelola distribusi bantuan, membantu layanan kesehatan, mengoptimalkan transportasi, mengelola bencana, membantu pendidikan, mengembangkan riset, menyebarkan ilmu, dsb.

Pun bisa bermanfaat bagi dakwah Islam, yaitu dengan memposisikannya sebagai alat (wasilah) untuk memperluas jangkauan dan meningkatkan kualitas penyampaian pesan agama. Beragam info tentang Islam pun dapat diinput ke dalamnya, untuk menghasilkan informasi yang tepat dan bermanfaat bagi pengguna. 

Dalam aktivitas dakwah, pemanfaatan AI bisa dilakukan untuk mengubah teks menjadi gambar atau video, sebagai ilustrasi edukatif, atau infografis sejarah Islam. Chatbot juga bisa menjawab pertanyaan sederhana seputar tata cara ibadah sehari-hari, dengan cepat. Ia juga mampu menganalisis topik aktual yang sedang hangat diperbincangkan di tengah masyarakat. Sehingga para dai akan terbantu dalam menyiapkan materi ceramah yang relevan dengan fakta.

Namun AI benar-benar hanya sebagai alat bantu administratif dan kreatif. Setiap konten yang dibuatnya baik berkaitan dengan fikih dan fatwa yang dihasilkan atau dirangkum oleh AI, tetap harus melalui proses penyaringan dan validasi manusia (tashih) para ulama, sebelum disebarluaskan, agar tak terjadi kesesatan informasi atau miskomunikasi.

Dalam sistem hidup yang sahih, teknologi AI akan bermanfaat bagi kehidupan. Individu bertakwa akan meniscayakan penggunaan alat dengan tepat guna, bukan untuk maksiat atau kezaliman. 
Penerapan syariat Islam kafah akan menjaga kehidupan manusia, memelihara pemikiran dan arah pandang manusia tentang kehidupan. Allahummaã ahyanaã bil Islam.