Ilustrasi Pinterest
Oleh: Nuraeni
MediaMuslim.my.id, Opini_ Ada luka yang terlalu dalam untuk sekadar ditangisi. Ada kezaliman yang terlalu nyata untuk hanya disaksikan. Dan ada tanah yang terlalu suci untuk dibiarkan menjadi objek tawar-menawar politik dan bisnis.
Palestina kembali menghadapi kenyataan pahit. Ketika perhatian dunia tertuju pada Gaza, Tepi Barat justru terus digerogoti. Kekerasan oleh pemukim ilegal meningkat, serangan terhadap warga Palestina terjadi, penggerebekan kamp pengungsi dilakukan, sementara pembangunan permukiman ilegal terus direncanakan. Bahkan rencana pembangunan sekitar 2.300 unit permukiman di Yerusalem Timur kembali menunjukkan bahwa ekspansi wilayah bukan sekadar isu sesaat (kompas.tv 5-8-2026)
Yang lebih menyakitkan, tempat-tempat ibadah pun tidak luput. Masjid yang semestinya menjadi tempat manusia bersujud justru ikut menjadi sasaran. Bukankah ini menunjukkan bahwa persoalan Palestina bukan sekadar konflik perebutan wilayah? Ada persoalan penjajahan, perampasan tanah, pengusiran manusia dari rumahnya, dan penghancuran identitas sebuah bangsa.
Tepi Barat: Penjajahan yang Berjalan Perlahan
Aneksasi Tepi Barat tidak selalu hadir dalam satu pengumuman besar. Ia dapat berlangsung sedikit demi sedikit: tanah dirampas, permukiman diperluas, warga diteror, akses dibatasi, rumah dihancurkan, lalu dunia kembali mengeluarkan kecaman.
PBB mungkin menyatakan keprihatinan. Negara-negara dunia mungkin mengeluarkan pernyataan. Namun jika setelah kecaman itu ekspansi tetap berjalan, apa arti semua kecaman tersebut bagi rakyat Palestina?
Di sinilah umat semestinya membuka mata. Jika sebuah negara terus melakukan ekspansi meski berulang kali mendapat kecaman internasional, berarti persoalannya bukan semata kurangnya resolusi diplomatik. Ada kepentingan dan proyek politik yang jauh lebih besar.
Dari perspektif ideologis, ekspansi tersebut memperlihatkan bahwa gagasan tentang Israel Raya bukan sesuatu yang dapat dianggap remeh. Karena itu, berharap penjajahan berhenti hanya melalui meja perundingan adalah harapan yang patut dipertanyakan.
New Gaza: Rekonstruksi atau Bisnis?
Di tengah penderitaan rakyat Palestina, muncul pula pembicaraan mengenai proyek “New Gaza” melalui skema Board of Peace (BoP). Rekonstruksi tentu dibutuhkan. Gaza yang hancur membutuhkan rumah, sekolah, rumah sakit, air bersih, pangan, dan kehidupan yang layak.
Namun umat perlu bertanya: siapa yang menentukan masa depan Gaza, siapa yang mengendalikan proyeknya, dan untuk kepentingan siapa pembangunan itu dijalankan?
Jangan sampai rekonstruksi berubah menjadi proyek bisnis yang menjadikan tanah dan penderitaan rakyat Palestina sebagai komoditas. Jangan sampai istilah perdamaian, pembangunan, dan investasi justru menjadi selubung baru yang membuat penjajahan tampak lebih manusiawi.
Rakyat Palestina tidak hanya membutuhkan bangunan baru. Mereka membutuhkan kebebasan. Mereka membutuhkan hak untuk hidup di tanah mereka sendiri tanpa pendudukan, intimidasi, dan ancaman pengusiran.
Jika pembangunan dilakukan tanpa menyelesaikan akar persoalan, maka yang dibangun mungkin hanya gedung-gedung baru di atas persoalan lama.
Solusi Dua Negara: Apakah Benar-Benar Menyelesaikan Masalah?
Selama ekspansi wilayah terus berlangsung, gagasan solusi dua negara semakin sulit diwujudkan secara nyata. Bagaimana mungkin negara Palestina berdiri kokoh jika wilayahnya terus menyusut, permukiman terus bertambah, dan tanahnya terus terfragmentasi?
Karena itu, umat Islam tidak boleh berhenti pada pertanyaan, “Bagaimana Palestina mendapatkan negara?”
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: bagaimana penjajahan dihentikan dan hak rakyat Palestina dikembalikan?
Al-Qur'an mengingatkan bahwa kaum Muslim tidak boleh diam terhadap kezaliman. Allah SWT berfirman:
“Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah...” (QS. An-Nisa: 75)
Ayat tersebut mengajarkan keberpihakan kepada mereka yang tertindas. Namun perjuangan tersebut harus ditempatkan dalam kerangka yang benar, tidak dengan tindakan serampangan yang justru menambah korban sipil.
Umat Membutuhkan Persatuan, Bukan Sekadar Kecaman
Palestina bukan hanya persoalan bangsa Palestina. Ia menyentuh nurani umat Islam. Ketika satu bagian umat terluka, bagian lainnya semestinya tidak merasa aman dengan hanya mengirimkan kecaman dan bantuan sesaat.
Yang dibutuhkan adalah persatuan politik negeri-negeri Muslim, kekuatan diplomatik yang nyata, tekanan ekonomi yang terukur, bantuan kemanusiaan yang kuat, serta upaya serius menghentikan penjajahan.
Karena itu, umat juga perlu kritis terhadap berbagai proyek yang mengatasnamakan perdamaian. Jika “New Gaza” justru membuat umat menerima keadaan tanpa mempertanyakan penjajahan, maka topeng perdamaian tersebut patut dibongkar.
Jangan sampai Palestina dibangun kembali, tetapi tetap dijajah. Jangan sampai rumah-rumah baru berdiri, tetapi rakyatnya tidak memiliki kebebasan. Jangan sampai Gaza berubah menjadi proyek investasi, sementara darah para syuhada hanya menjadi catatan sejarah.
Penutup
Palestina membutuhkan lebih dari sekadar belas kasihan. Palestina membutuhkan keadilan.Dan umat Islam membutuhkan kesadaran politik bahwa persatuan adalah kekuatan. Perjuangan membela Palestina harus terus dilakukan melalui dakwah, solidaritas, tekanan politik yang sah, dan persatuan umat untuk menghentikan penjajahan.
Sebab diam ketika kezaliman berlangsung bukanlah jalan keluar. Dunia mungkin terbiasa melihat Palestina sebagai angka korban. Tetapi mereka adalah kaum Muslim yang harus di lindungi jiwa, darah, dan hartanya, semua itu akan terlaksana jika diterapkan Islam kaffah di bawah naungan khilafah.
Wallahualam bishawab.
Social Plugin