Gen Z Butuh Akidah Bukan Healing

Ilustrasi Pinterest
Oleh: Lia Fitri 

MediaMuslim.my.id, Opini_ Pembicaraan soal generasi muda yang masih dibantu finansial oleh orang tua sering berhenti di satu kata: "tidak mandiri". Angka 64 persen langsung jadi vonis. Padahal vonis itu terlalu cepat. Menurut survei Jakpat 2024, sebanyak 64% generasi muda Indonesia masih menerima bantuan finansial dari orang tua.

Fenomena ini lahir dari 3 hal: ekonomi yang makin berat, kesiapan finansial yang belum merata, dan budaya Asia yang mengutamakan relasi keluarga. Bahkan di Amerika Serikat pun polanya sama. Data Pew Research Center yang dikutip Kompas.com pada 3 Mei 2026 menyebut lebih dari separuh usia 18–34 tahun belum mandiri penuh secara finansial. Jika itu terjadi di negara maju, maka masalahnya bukan pada anak muda. Masalahnya ada pada sistem ekonomi dan biaya hidup yang tidak lagi ramah.

Lebih dari 48% Gen Z menyatakan tidak merasa aman secara finansial, menurut survei Populix pada Februari 2025. Ironisnya, di tengah tekanan itu alokasi belanja untuk self-reward, healing, dan gaya hidup justru terus meningkat. Bagi mereka, itu bukan lagi kemewahan. Itu sudah dianggap kebutuhan emosional untuk bertahan hidup di tengah bisingnya dunia sekuler.

Karena Self-Reward Takkan Cukup Menambal Krisis Makna Hidup

Akar masalahnya ada 3. Pertama, sistem Kapitalisme menciptakan tekanan ekonomi yang menghimpit Gen Z. Biaya hidup terus meningkat sementara pendapatan stagnan. Negara abai dari kewajiban menjamin kebutuhan dasar, sehingga generasi muda harus berjuang sendirian. Kedua, tekanan itu diperparah oleh gaya hidup Sekuler-Liberal yang menjadikan self-reward, healing, dan konsumsi hedonis sebagai "solusi" pelarian. Media sosial terus mendorong generasi dengan tren populer yang memicu FOMO dan budaya belanja impulsif. Ketiga, ada krisis yang lebih dalam, yakni Gen Z tidak memahami tujuan hidupnya. Sehingga standar kebahagiaan diukur dari kenikmatan materi sesaat, bukan dari ridha Allah dan kemuliaan Islam.

Wajar, jika krisis ini terus berulang. Pengangguran, harga kebutuhan tinggi, hingga gaya hidup hedonis. Ini seperti mengganti nahkoda lambungnya tetap bocor hasilnya kapal tetap karam. Lihat saja rezim berganti, namun kebijakan tetap saja menzalimi. Ini menjadi bukti bahwa persoalannya ada pada sistem sehingga solusinya harus fundamental. Sistem sekuler kapitalis adalah biangnya. Sistem ini telah memisahkan agama dari kehidupan dan meracuni benak rakyat bahwa tujuan hidup hanyalah untuk mendapatkan materi semata. 

Sistem ekonomi kapitalis telah menjadikan negara hanya pada posisi sebagai regulator, yakni wasit antara pengusaha yang memiliki cuan dan rakyat yang membutuhkan sejumlah kebutuhan hidup. Walhasil, pemenuhan kebutuhan tidak akan merata sampai pada rakyat sebab jika dikendalikan oleh swasta, maka yang bisa memenuhi kebutuhan dasar dengan layak hanyalah orang kaya saja. 

Solusi Terbaik adalah Islam

Islam menawarkan konstruksi yang berbeda. Negara Islam menjamin kebutuhan dasar seluruh rakyat. Contohnya: mengelola SDA (minyak, gas, air) sebagai milik umum sehingga harga kebutuhan pokok stabil. Negara juga wajib menyediakan lapangan kerja dan menjamin pendidikan serta kesehatan gratis melalui Baitul Mal. Dengan begitu rakyat, termasuk Gen Z, tidak akan berjuang sendirian. 

Islam juga menutup celah gaya hidup hedonis dan melindungi generasi dari ide sekularisme-kapitalisme dan turunannya. Media dalam negara Islam akan diarahkan untuk mengedukasi dan meningkatkan ketakwaan rakyat. Lebih dari itu, Islam membangun paradigma yang benar tentang hakikat hidup manusia, yaitu untuk beribadah kepada Allah (QS. Adz-Dzariyat: 56). Dengan akidah yang kokoh, generasi akan memiliki visi sebagai pembangun peradaban Islam.

Oleh karena itu, agar kekacauan persoalan umat manusia selesai maka kaum muslim harus mengubah paradigmanya dalam tata kelola negaranya. Tata kelola kapitalistik telah terbukti gagal dan menyengsarakan. Beralihlah pada islam. Islam harus dijadikan landasan dalam tata kelola negara.

Negara yang berlandaskan islam akan menjamin rakyatnya hidup sejahtera. Sebabnya, penguasa dalam islam bukan sebagai regulator melainkan sebagai ra’in atau pengurus umat. Sehingga pejabat negara akan menetapkan kebijakan berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah serta berfokus pada menyelesaikan urusan rakyatnya. 

Dengan akidah islam yang kuat akan terbuka jalan untuk umat manusia menemui kesejahteraanya. Ini bukan cerita omong kosong tanpa bukti. Sejarah telah mencatat bahwa peradaban islam adalah peradaban yang maju dan bermaslahat bagi umat manusia baik muslim maupun nonmuslim.

"Dan kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri" (QS. An-Nahl: 89).

Keberhasilan Islam dalam mengubah atau mengatur masyarakat dunia telah terbukti pada dakwah Rasulullah SAW yang luasnya hingga 2/3 bagian dunia. Kemakmuran ini dirasakan dunia selama 13 abad lamanya, meski tidak dinafikan adanya sejarah kelam masyarakat Islam. Namun torehan kebermanfaatannya lebih dirasakan.

Wallahu a'lam bish-shawab