Nasib Pilu Dunia Pendidikan

Ilustrasi Pinterest
Oleh. Maftucha S. Pd
(Anggota Aliansi Penulis Rindu Islam) 


MediaMuslim.my.id, Opini_ Tahun ajaran baru sudah dimulai, tentu ada semangat baru bagi anak-anak yang akan masuk sekolah. Buku baru, tas baru, sepatu, dan mungkin seragam juga baru. Eit! Tapi itu mungkin bagi sebagian kalangan yang orang tuanya mampu, ya! Lalu bagaimana dengan yang tidak?

Wajah Suram Pendidikan
 
Pendidikan merupakan kebutuhan pokok yang juga sangat penting untuk dipenuhi. Jika kebutuhan makan dan minum tidak terpenuhi orang bisa mati maka seseorang yang tidak memperoleh pendidikan dengan baik juga akan mati. Bedanya yang satu mati raga sedangkan yang satu mati rasa. 

Persoalan pendidikan memang tidak hanya seputar bagaimana para orang tua harus memutar otaknya agar apa yang menjadi kebutuhan sekolah anaknya tercukupi. Akan tetapi, juga pada masalah kualitas pendidikan yang didapatkan. 

Ada siswa berprestasi terhalang masuk sekolah yang berkualitas akibat terkena kendala zonasi. Sekolah yang lebih dekat kualitasnya biasa atau ada sekolah swasta yang bermutu tapi harga tidak terjangkau.

Pendidikan sama halnya nasibnya dengan perekonomian masyarakat. Siapa berduit dia survive di tempat aman. Banyak sekolah yang terseok-seok karena kendala sarana dan minimnya apresisasi kepada guru akibat tidak memiliki dana. Padahal kualitas generasi bermula dari sekolah yang berkualitas.

Ketika pendidikan tidak mendapatkan perhatian serius, output yang dihasilkan juga akan jauh dari harapan. Apalagi visi dan misi negara dalam memajukan kualitas pendidikan salah jalur. Perut dikenyangkan tapi otak ditumpulkan.

Pendidikan Kita Hari ini 

Cita-cita "Indonesia emas" sepertinya masih jauh dari kenyataan. Pendidikan di negeri ini memang penuh dengan persoalan, mulai dari kurikulum yang berganti-ganti, gaji guru yang kecil, sarana prasarana sekolah yang minim hingga output siswa yang rendah dan masalah sosial seperti putus sekolah, kasus tawuran, perundungan, dan seterusnya. 

Negara yang memiliki visi dan misi bagaimana mencetak generasi yang unggul pasti akan memiliki standar kurikulum yang jelas dan terarah. Tidak mudah berganti-ganti kurikulum karena permintaan pasar atau mencontoh negara lain yang belum tentu baik bagi negeri sendiri. 

Untuk menghasilkan pendidikan yang berkualitas, tentu dibutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Inilah yang mengherankan! Indonesia adalah negeri yang kaya raya tapi anggaran pendidikan sangat sedikit. Dari total APBN, alokasi untuk pendidikan tidak sampai 20 persen, itupun harus disedot untuk anggaran MBG yang jumlahnya cukup banyak. 

Pemerintah saat ini kurang dalam mengapresiasi para pelajar yang memiliki kompetensi, sehingga banyak dari para cendekiawan Indonesia yang lebih memilih mengembangkan ilmu dan karir mereka di luar negeri. Jika para intelektual sudah tidak dihargai, lalu bagaimana negeri ini bisa maju? 

Krisis kepribadian juga melanda para pelajar kita, mereka banyak terseret ke dalam pergaulan yang menyimpang. Kaum penyimpang ini sudah merambah mulai dari SD hingga Perguruan Tinggi. 

Pendidikan dalam Sistem Kapitalisme

Seluruh persoalan yang terjadi khususnya pada negeri ini, muaranya adalah satu yakni diterapkannya sistem kapitalisme liberalisme di negeri ini. Sistem kapitalisme berpijak pada kebebasan. Bebas berkeyakinan, bebas memiliki, bebas berekspresi, dan bebas menyuarakan apa yang mereka anggap benar.

Pendidikan dalam sistem kapitalisme merupakan komoditi yang bisa diperjualbelikan layaknya barang dan jasa. Negara berlepas tangan dalam urusan hak mendasar ini, artinya pendidikan tanggung jawab masing-masing individu rakyat. Kalau rakyat mampu sekolah sampai Perguruan Tinggi, kalau tidak lulus SMA sudah sangat beruntung.

Secara logika, seharusnya dengan kekayaan yang dimiliki oleh negeri ini, rakyat bisa sekolah hingga Perguruan Tinggi dengan gratis,. Rakyat tidak perlu patungan membayar pajak untuk membangun negeri ini karena dari kekayaan alamnya yang berupa batubara saja sudah cukup.

Inilah kesalahan mendasar dari sistem ekonomi kapitalisme, yakni menyerahkan pengelolaan kekayaan alam milik rakyat kepada swasta, baik lokal maupun asing. Kita sudah seringkali menengok bagaimana tambang emas Freeport yang emasnya dikeruk habis-habisan oleh AS. Orang waras pasti bertanya-tanya, kenapa tambang sekeren itu bukan kita yang menguasai? Dan kemudian hasilnya untuk rakyat!

Sistem Kapitalisme memang jahat, sistem ini menjajah negeri-negeri kaya yang dipimpin penguasa boneka,. Penguasa seperti ini dipilih seolah-olah oleh rakyat tapi pada kenyataannya mereka adalah antek penjajah.

Kembalilah Kepada Islam

Sungguh Islam adalah sebuah ideologi, bukan hanya agama yang mengajarkan tata cara ibadah saja. Islam memiliki konsep kemana pendidikan ini akan dibawa dan hasil seperti apa yang akan dicapai.

Islam secara rinci menjelaskan bahwa pendidikan adalah hak mendasar bagi setiap manusia yang harus dipenuhi. Islam mewajibkan bagi setiap muslim agar menuntut ilmu karena ilmu adalah cahaya. Setiap perbuatan manusia harus berdasarkan ilmu bukan sekehendak hatinya.

Diantara bebarapa hadis yang menekankan pentingnya menuntut ilmu adalah:

"Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim." (HR. Ibnu Majah) 

"Berilmulah sebelum kamu berbicara, beramal, atau beraktivitas." (HR. Bukhari) 

"Barangsiapa yang hendak menginginkan dunia, maka hendaklah ia menguasai ilmu. Barangsiapa menginginkan akhirat, maka hendaklah dengan ilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan keduanya (dunia dan akhirat) hendaknya ia menguasai ilmu." [HR. Ahmad)

Inilah yang membedakan antara sistem kapitalisme dengan Islam. Islam begitu memuliakan ilmu, hingga berbicara saja harus ada dasarnya atau ilmunya. Ini semua dikarenakan setiap tingkah laku manusia akan dimintai pertanggungjawaban.

Disisi lain, Islam juga mewajibkan kepada seorang pemimpin untuk memberikan kemudahan bagi para rakyatnya agar bisa menuntut ilmu ini. Mempermudah berarti penguasa bertanggung jawab secara penuh terhadap urusan ini. Mulai dari tempat, sarana dan prasarana, murobi atau orang yang mengajar, kurikulum yang diterapkan, dan seterusnya.

Tentu, semua itu membutuhkan biaya yang sangat besar. Maka, Islam sudah menyiapkan satu mekanisme agar semua kebutuhan tersebut bisa dipenuhi, yakni mengatur pemasukan dan pengeluaran negara dari pos-pos yang jelas dan terukur. 

Dalam Islam ada kepemilikan negara (jizyah, kharaj, fa'i,) yang diperuntukkan untuk kebutuhan negara seperti, dakwah dan jihad, menggaji tentara, dan guru. Islam sangat memperhatikan gaji guru. Khalifah Umar bin Khattab r.a pernah menggaji guru sebesar 15 dinar per bulan (63,75 gram emas). 

Pada masa Khilafah Abbasiyyah, para penghafal Al-Qur'an dan penuntut ilmu diberikan 2000 dinar per tahun. Ahli Fiqih dan periwayat hadis diberikan 4000 dinar per tahun. Yuk! Silahkan dihitung berapa besarannya jika dikurskan dengan emas saat ini.

Selanjutnya ada kepemilikan umum (tambang emas, minyak bumi, batubara, laut, hutan) yang pengelolaannya wajib oleh negara, tidak boleh swasta. Hasilnya bisa digunakan untuk pendidikan, kesehatan, layanan BBM.

Yang terakhir adalah kepemilikan individu (waris, hibah, hasil bekerja). Selain itu ada pos zakat yang peruntukannya juga sudah dijelaskan dalam Al-Qur'an. Seluruh aturan ini dijalankan dalam rangka memenuhi kewajiban kita sebagai seorang muslim yang diperintahkan untuk taat kepada Zat yang telah menciptakan manusia.

Hanya dengan Islam kehidupan ini akan berjalan dengan yang semestinya. Manusia bisa menikmati kehidupan dunia sekaligus meraih kehidupan yang kekal nanti, yakni akhirat. Hal iini karena manusia bisa memenuhi akalnya dengan ilmu yang telah ditekankan oleh Islam, bukan hawa nafsu. Wallahu a'lam bishawab.