Dominasi Dollar dan Cengkeraman Ekonomi Kapitalisme Global

 

Sumber Ilustrasi : iStock.

Oleh : Tengku Anita Carolina, S.Pd

MediaMuslim.my.id, OPINI - Kapitalisme yang dibangun berdasarkan prinsip pemisahan antara agama dengan sistem yang mengatur berbagai interaksi dalam kehidupan yang lebih dikenal dengan istilah Sekuler. Ide skcular ini merupakan akidah sekaligus qiyadah fikriyah (kepemimpinan berpikir). Artinya, akidah kapitalisme telah memberikan kebebasan mutlak kepada manusia dengan prinsip kebebasan, mulai dari kebebasan berpendapat, kebebasan beragama hingga kebebasan kepemilikan yang menjadi cikal bakal lahirnya sistem ekonomi kapitalis.

Sistem ekonomi kapitalisme merupakan sekumpulan prinsip–prinsip ekonomi yang menyerahkan pengaturan masalah ekonomi atau hubungan manusia dengan kekayaan kepada prinsip liberalisasi (mekanisme pasar), yang artinya sistem ekonomi kapitalis ini hanya membahas tentang kebutuhan manusia dan pemenuhan nya semata. Dalam sistem ekonomi kapitalis orientasi nya adalah untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dengan menikmati kebebasan bertindak yang sebebas-bebasnya dimana ketundukan pelakunya hanya pada akal mereka semata.

Kapitalisme Merancang Pasar Bebas

Sebelum meletusnya perang dunia kedua, sebagian besar perekonomian Amerika Serikat berbasis pada industri, dengan sebagian besar tenaga kerja bekerja pada sektor manufaktur. Setelah perang berakhir, perekonomian Amerika Serikat mulai bergeser pada perekonomian berbasis jasa, dengan kata lain perekonomian Amerika Serikat digerakkan oleh konsumsi pada sektor barang, alhasil Amerika sangat mengandalkan konsumsi sehingga Amerika menjadi negara konsumen terbesar di dunia. Konsumen Amerika menjadi pusat dari perekonomian Amerika, konsumsi mereka dianggap sebagai faktor yang menggerakkan perekonomian negara. Hal ini sejalan dengan pemikiran sekuler yang ditanamkan ke dalam benak benak mereka, dimana dalam memenuhi kebutuhan, berekspresi telah dijamin hak kebebasannya, oleh karena itu setiap orang berhak dan bebas mengekspresikan haknya dalam bentuk apapun.

Dengan melonjaknya produksi, ditanamkan lagi ide kebebasan kepemilikan menjadi pemicu tingkat konsumsi yang tinggi di tengah tengah masyarakat. Memang, secara umum pendapatan masyarakat tidaklah sama, ada yang jumlah pendapatannya besar ada juga yang kecil. Namun, akibat dogma konsumtif yang selalu dihembuskan malah menjadi alat perangsang bagi masyarakat untuk membeli berbagai macam produk yang dijual di pasaran. Untuk masyarakat yang memiliki pendapatan yang besar, mereka bisa bebas membeli dan memiliki apa saja, untuk masyarakat yang pendapatannya hanya pas-pasan, ada solusi yang ditawarkan, yakni dengan hutang yang telah disediakan di bank-bank yang telah didirikan oleh negara, yang menawarkan solusi “kredit” dengan iming-iming suku bunga yang rendah.

Di awal, kebutuhan masyarakat masih berkutat di seputar pangan, pakaian dan papan. Seiring waktu dengan adanya pihak investor yang mengambil modal dari Bank mulai memberikan iming-iming surgawi seperti halnya pentingnya memiliki rumah sendiri, tidak hanya sampai disitu, hunian yang dibangun mestilah hunian yang nyaman, bergaya klasik dan lain sebagainya serta diisi dengan furniture yang mempesona. Untuk semakin memantapkan penampilan, sepeda motor dan mobil menjadi unit penunjang untuk mendapat gelar “orang kaya” dan hebat.

Hal yang demikian diserap oleh masyarakat sebagaimana spons menyerap air, karena benak-benak mereka sudah diisi dengan tsaqofah asing, yang menggantikan standar halal haram dengan kebebasan,menggantikan pandangan hidup yang semula mengikuti perintah Allah menjadi asas manfaat serta  menggantikan tujuan hidup mardhotillah menjadi validasi umum. Perubahan pemikiran ini sudah dimulai sejak lama melalui orang-orang terpelajar di negeri Islam. Sehingga, begitu mudah dan cepatnya pemikiran yang demikian tersebar di masyarakat.

Krisis Kredit Global

Antusiasme masyarakat dalam berbelanja dengan modal hutang yang mengandung riba, menjadikan masyarakat terjebak dalam hutang yang kian dalam dari waktu ke waktu. Bagaimana tidak, misalnya saja seseorang yang bekerja dengan pendapatan 10 juta per bulan, punya cicilan rumah 2 juta per bulan, cicilan mobil 3 juta per bulan, sepeda motor 1 juta per bulan, furniture, barang elektronik, handphone dan sebagainya 2 juta per bulan, artinya total kredit 8 juta per bulan, hanya memiliki sisa gaji 2 juta per bulan, yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, sekolah, kesehatan dan lain-lain. Sudah jelas, sisa uang 2 juta tadi tentu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, di sisi lain, kredit tidak bisa ditunda karena akan dikenakan sanksi berupa denda, pilihan terakhir adalah efisiensi belanja di dalam rumah tangga. Penghematan belanja yang dilakukan oleh masyarakat secara komunal, menjadikan pasar, pusat perbelanjaan, mall, tempat hiburan sepi pengunjung, yang menjadikan daya beli atau belanja masyarakat menurun. Sebagai akibatnya, perputaran ekonomi pun lambat, inflasi terjadi hingga berujung pada krisis kredit dalam negeri maupun global. Belum sampai disitu, karena pinjaman ini ditambah lagi dengan riba dengan suku bunga tertentu yang sewaktu waktu bisa berubah, semakin menambah cost yang harus digelontorkan oleh para pelaku riba.

Coal To Liquid

Intrik kredit masih awal permainan yang dirancang oleh kapitalis global, dahulu masyarakat sangat mengagumi istilah Coal to Liquid ( 1920-an). Dimana, kendaraan dan industri yang saat itu digunakan dengan tenaga Batu bara berubah menjadi Minyak. Jerman sebagai pelopor hal ini setelah perang dunia ke 2 men-support impian Amerika Serikat yang menginginkan ketergantungan masyarakat terhadap Bahan Bakar Minyak. Tujuannya, agar kendaraan berbahan bakar batu bara diganti dengan kendaraan berbahan bakar minyak, sehingga masyarakat dan industri akan melirik dan menjadi pengguna secara massal, yang notabene memberikan supply dana yang besar lagi bagi kapitalis melalui bank yang dijadikan sebagai alat penarik keuntungan melalui riba dari pembiayaan pembelian.

Sungguh, jeratan yang rumit dan sistematis. Tak hanya itu, setelah masyarakat meninggalkan bahan bakar batu bara dan beralih ke bahan bakar minyak, harga bahan bakar minyak sangat riskan dengan spekulasi politik global, karena banyaknya pihak terkait dalam pengelolaan bahan bakar minyak ini.

Dollar Standar Mata Uang Dunia

Untuk menjadi spekulan terhadap pengaturan kenaikan suku bunga, Amerika Serikat menyadari betul harus menjadikan mata uang Dollar AS sebagai standard mata uang dunia, dan juga harus berbahan dasar kertas. Karena ketika Dollar sebagai standard mata uang dunia, maka Amerika Serikat bisa menjadi 'player' pengatur suku bunga melalui Bank Central nya yang juga dijadikan syarat bagi negara lain harus memiliki Bank Central agar lebih mudah melalui pengontrolan keuangan, dalihnya. Sementara uang kertas ditetapkan sebagai alat tukarnya karena mereka paham betul kelemahan uang kertas yang tidak sama antara nilai intrinsik dan ekstrinsiknya yang berakibat nilai uangnya dapat dimainkan kapan saja sesuai kebutuhan. Nilai yang fluktuatif pun bisa diatur dengan berbagai macam kondisi seperti menciptakan kerusuhan, peperangan, serta sabotase lainnya yang berakibat naik atau turunnya nilai dollar.

Krisis Pangan Global

Untuk menunjang perkembangan industri di negara negara dunia, agar dapat di labeli sebagai negara maju, Amerika Serikat mendorong negara negara di dunia untuk menjadi negara industri. Negara industri ditandai dengan banyaknya industri di sejumlah negara. Tentu, untuk mendirikan industri butuh lahan, lahan yang semula sebagai lahan pertanian berubah menjadi lahan industri. Hal ini terjadi dari satu kota ke kota yang lain bahkan dari satu negara ke negara lain. Dampaknya, penjualan hasil industri mungkin bisa menyerap banyak tenaga kerja, akan tetapi kebutuhan pangan yang merangkak naik tidak sebanding dengan gaji yang diperoleh para karyawan yang mengakibatkan masih tingginya angka kemiskinan.  Harga pangan yang melambung tinggi sebagai akibat menyempitnya lahan pertanian yang tidak lagi berbanding lurus dengan kebutuhan masyarakat, akibatnya terjadi krisis pangan di suatu negara. Solusi yang ditawarkan adalah impor yang nilainya pun tetap dengan standar Dollar. Bagaikan siklus yang saling menerkam, tidak ada ruang untuk selamat apalagi sejahtera, benar benar hanya mimpi belaka.

Target Negara Dunia Ketiga

Negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia, Pakistan, Afrika dan juga negara-negara di kawasan Timur Tengah yang dijejali gagasan ide pasar bebas dimana mereka menganut gaya pasar finansial ala barat yang menjadikan sejumlah besar kekayaan menjadi subjek spekulasi dalam perekonomian dan perkiraan arus pendapatan. Seperti halnya Malaysia, negeri muslim pertama yang dijejali ide ini, langsung mendapatkan sokongan hangat  dari spekulan terkemuka di dunia yakni George Soros yang menggelontorkan dana dalam jumlah yang besar.  Tidak hanya model investasi, pinjaman pun menjadi bagian dari jebakan bagi dunia ketiga. Dengan dalih pembangunan infrastruktur, agar disebut sebagai negara maju, menjadikan negara di dunia ketiga menggantungkan hidup mereka pada hutang luar negeri. Dengan suku bunga yang rendah di awal lalu berubah semakin merangkak dari waktu ke waktu, sampai menumpuk hutang yang bagaikan gunung yang menjulang tinggi. Jangankan membayar hutang dasar, mencicil bunga hutang pun harus dengan mendapatkan pinjaman lain lagi. Sungguh memprihatinkan, menyesakkan dada seolah tidak ada jalan keluar yang dapat ditempuh hanya demi mendapat titel negara maju atau negara berkembang. Negara dunia ketiga satu per satu bangkrut akibat jeratan hutang dengan suku bunga yang tinggi, sebagai gadaiannya, Sumber daya alam menjadi tumbal kapitalis.

Kutukan Globalisasi

Sejak munculnya kapitalisme pasar bebas dan perdagangan terus menyebar sebagai satu-satunya cara menggerakkan perekonomian. Pada akhir abad ke-20 seruan itu semakin gencar, di kokohkan dengan seruan globalisasi. Sebagai hasilnya, kita dapat melihat banyaknya negara yang diliberalisasi akibat globalisasi dan kemudian menghadapi bencana besar. Misalnya, pada tahun 2001 Turki menerima dampak terbesar dari kebijakan globalisasi IMF karena investor asing menarik modal mereka dalam jumlah besar. Turki kemudian diminta menyesuaikan kurs-nya pada dollar, dengan pemastian bursa pertukaran tetap berada dalam ikatan pasar bebas, sampai akhirnya Turki tidak mampu menopang nilai tukar yang berimbas pada ketidakmampuan untuk membayar hutang mereka. Ternyata acuan pada dollar tidak cukup ampuh juga.

Sistem Ekonomi Islam Satu-satunya Solusi

Sistem ekonomi Islam merupakan cabang dari Islam sebagai aqidah siyasiyah, artinya pengaturan ekonomi dalam Islam tetaplah bersumber dari aqidah Islam yang terpancar dari hukum syara’. Pada dasarnya, setiap sistem ekonomi memiliki tujuan untuk menggunakan sumber daya yang tersedia dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat. Hanya saja, akan berbeda dari sisi bagaimana pengalokasian sumber daya yang ada. Islam menetapkan batas yang jelas antara sistem ekonomi dan ilmu ekonomi., hal ini karena adanya perbedaan pandangan fundamental dalam metode produksi barang dan jasa (ilmu ekonomi) dengan cara distribusinya (sistem ekonomi). Produksi barang dan jasa tidak mengikuti sudut pandang tertentu. Kebijakan ekonomi dalam Islam adalah memastikan pemenuhan kebutuhan dasar setiap individu seutuhnya dan memungkinkan individu memenuhi kebutuhan kemewahan. Berdasarkan perspektif ini, Islam memperhatikan masyarakat secara individual bukan keseluruhan, artinya bahwa kebijakan ekonomi harus diarahkan untuk melayani semua orang, tidak meyerahkan pada mekanisme pasar yang tidak dapat menjamin kebutuhan tiap-tiap individu. Tujuan ini dicapai karena islam memiliki seperangkat aturan untuk memastikan distribusi kekayaan dan keterlibatan pemerintah di dalam ekonomi untuk memastikan ekonomi berjalan pada jalur yang ditetapkan, sehingga semua dapat saling berbagi kekayaan yang dihasilkan.

Penghapusan Riba Meningkatkan Sirkulasi Kekayaan

Di dalam ekonomi Barat, setiap model ekonomi dilandaskan pada suku bunga, sebagai dampaknya pengeluaran dan investasi menjadi tidak seimbang. Karena modal yang di keluarkan pada satu investasi harus di akumulasikan dengan pertambahan bunga yang menjadikan jumlah modal meningkat. Ditambah diberlakukannya pajak di berbagai sektor, yang semakin menambah nilai suatu produk dan semakin tidak berimbang pada penghasilan masyarakat. Dalam sistem ekonomi Islam, pajak hanya ditarik hanya pada saat negara dalam keadaan paceklik dan hanya kepada orang kaya saja. Alhasil, porsi pendapatan Masyarakat dalam Islam utuh diterima oleh rakyat sebagai harta individu. Hal ini dikarenakan kemampuan negara Islam mengelola sumber daya alam di negaranya yang menuai peningkatan kekayaan nasional dan juga terciptanya lapangan kerja yang sangat besar. Kesejahteraan tidak lagi jadi mimpi walaupun pada kelas buruh. Karena itulah, ekonomi Islam terkonsentrasi pada sirkulasi kekayaan bukan pada penciptaan kekayaan.

Tidak hanya itu, inflasi yang dianggap sebagai setan yang memang dibutuhkan dan bagian kehidupan abad ke 21, inflasi merupakan peningkatan harga secara keseluruhan dalam sistem ekonomi. Padahal, inflasi dapat mengurangi daya beli masyarakat. Karena, saat inflasi terjadi uang yang beredar di masyarakat memang banyak sebagai akibat dari naiknya harga, akan tetapi inflasi juga menunjukkan lemahnya masyarakat, karena pengguna uang dipastikan dari mereka yang berduit saja. Inflasi berimbas pada pencetakan uang yang banyak dan berakhir beredar di pasar untuk pembayaran barang dan jasa. Sementara Islam yang menjadikan mata uangnya dinar dan dirham,sejarah Islam telah menunjukkan bagaimana penggunaan emas dan perak sebagai satuan pengukur untuk pertukaran barang dan pembayaran upah. Kurs diatur berdasarkan satuan emas dan perak, yang berarti segala uang kertas dan logam yang beredar harus setara dengan dinar dan dirham di kas Baitul Mal. Hal ini akan menghindari inflasi karena antara uang yang beredar sama jumlahnya dengan nilai emas di kas negara. Pencetakan uang tidak bisa dilakukan sesuka hati sebagai biang inflasi. Maka, sistem Islam membuat kekayaan rakyatnya meningkat sementara kapitalis meningkatkan jumlah uang tetapi tidak menambah kekayaan.

Demikianlah pengaturan yang sempurna dalam sistem ekonomi Islam, yang lahir dari aqidah Islam sebagai aqidah siyasiyah. Sistem ekonomi Islam menjamin kesejahteraan setiap individu dan dipastikan kembali oleh penguasa bahwa semua rakyat harus mendapatkan kekayaan dari hasil pengurusan negara terhadap sumber daya yang dikelola. Mata uang dinar dan dirham tidak bisa dicetak sembarangan sebagaimana mata uang kertas yang bahkan dipalsukan pun bisa. Sistem Islam yang di rindukan ini hanya bisa terwujud dalam naungan Daulah Khilafah Islamiyah.

Wallahu a’lam bisshawab.


Editor : Vindy Maramis


Disclaimer:

Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab MediaMuslim.