Masa Depan Suram Gen Z: Benarkah Tidak Ada Jalan ke Luar?

Ilustrasi Pinterest
Oleh: Saffana Afra (Aktivis Mahasiswa)

MediaMuslim.my.id, Opini_ Dalam beberapa tahun terakhir, isu kesehatan mental menjadi salah satu persoalan yang paling banyak diperbincangkan, terutama di kalangan Generasi Z. Berbagai survei menunjukkan bahwa kelompok usia ini merupakan generasi yang paling rentan mengalami kecemasan, stres, hingga gangguan kesehatan mental. Di Indonesia, Survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022 mencatat 34,8 persen atau 15,5 juta remaja di Tanah Air mengalami masalah kesehatan mental dan 5,5 persen di antaranya memenuhi kriteria gangguan mental (kompas.id; 18/06/2026). Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di banyak negara. Beragam faktor, mulai dari tekanan media sosial, tuntutan akademik, persaingan kerja, hingga ketidakpastian masa depan, menjadi pemicu meningkatnya kecemasan di kalangan generasi muda.

Generasi Z lahir dan tumbuh di tengah perubahan yang berlangsung sangat cepat. Mereka menyaksikan krisis ekonomi, pandemi global, konflik geopolitik, ancaman perubahan iklim, hingga perkembangan teknologi digital yang mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Berbagai perubahan tersebut memang menghadirkan banyak kemudahan, tetapi pada saat yang sama juga melahirkan ketidakpastian yang belum pernah dialami oleh generasi sebelumnya.

Media sosial turut memperbesar tekanan tersebut. Kehidupan digital membuat setiap orang dapat melihat pencapaian orang lain hanya dalam hitungan detik. Kesuksesan, kekayaan, prestasi akademik, gaya hidup, hingga penampilan fisik terus dipertontonkan melalui berbagai platform media sosial. Akibatnya, banyak anak muda tanpa sadar membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain yang sebenarnya hanya menampilkan sisi terbaiknya. Perbandingan yang terus-menerus tersebut memunculkan perasaan tertinggal, tidak cukup baik, bahkan kehilangan rasa percaya diri.

Di saat yang sama, peluang kerja yang semakin kompetitif dan biaya hidup yang terus meningkat membuat banyak anak muda merasa bahwa masa depan semakin sulit diprediksi. Tidak mengherankan jika sikap pesimis dan skeptis terhadap masa depan semakin banyak dijumpai di kalangan Generasi Z.

Jika dicermati lebih dalam, meningkatnya kecemasan Generasi Z sebenarnya merupakan gejala dari krisis multidimensi yang sedang melanda dunia. Peradaban modern yang dibangun di atas asas sekularisme dan kapitalisme mendorong manusia untuk mengejar keberhasilan material sebagai ukuran utama kesuksesan. Prestasi diukur dari besarnya pendapatan, kepemilikan aset, popularitas, dan pencapaian karier. Akibatnya, manusia terus didorong untuk bersaing tanpa henti, sementara aspek spiritual dan makna hidup semakin terpinggirkan.

Dalam sistem seperti ini, generasi muda sering kali kehilangan arah hidup yang sebenarnya. Mereka dibesarkan untuk mengejar kesuksesan duniawi, tetapi tidak memperoleh fondasi nilai yang kuat dalam menghadapi berbagai kegagalan dan ujian kehidupan. Ketika realitas tidak sesuai dengan harapan, kecemasan pun muncul. Tidak mengherankan apabila banyak anak muda merasa kosong meskipun secara materi telah memiliki berbagai pencapaian.

Di sisi lain, pembinaan generasi juga belum mendapatkan perhatian yang memadai. Pemuda sering kali dipandang sebagai bagian dari masalah, bukan sebagai aset yang harus dibina. Tidak sedikit yang menerima stigma sebagai generasi yang lemah, manja, atau kurang tangguh, padahal mereka sedang menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan generasi sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan belum optimalnya peran negara dalam melindungi, membimbing, dan menyiapkan generasi agar mampu menghadapi perubahan zaman.

Meski demikian, meningkatnya kecemasan Generasi Z tidak harus dipandang sebagai akhir dari harapan. Justru kegelisahan yang mereka rasakan dapat menjadi titik awal lahirnya kesadaran untuk mencari solusi yang lebih mendasar. Generasi Z dikenal kritis, cepat beradaptasi dengan perkembangan teknologi, dan memiliki kepedulian terhadap berbagai persoalan sosial. Potensi tersebut dapat menjadi modal penting untuk menghadirkan perubahan apabila diarahkan kepada tujuan yang benar.

Islam menawarkan solusi yang tidak hanya menyentuh gejala, tetapi juga akar persoalan. Sebagai agama yang sempurna, Islam mengatur hubungan manusia dengan Allah Swt., sesama manusia, dan kehidupan secara keseluruhan. Ketika syariat Islam diterapkan secara menyeluruh, kehidupan akan dibangun di atas asas keimanan, keadilan, dan tanggung jawab sehingga mampu menghadirkan rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil 'alamin).

Islam juga akan membentuk individu yang memiliki orientasi hidup yang jelas. Seorang muslim memahami bahwa tujuan hidup bukan sekadar mengejar kesuksesan materi, melainkan menggapai keridaan Allah Swt. Kesadaran ini melahirkan ketenangan karena keberhasilan tidak lagi diukur hanya dari capaian duniawi, tetapi dari ketaatan kepada Sang Pencipta. Dengan cara pandang seperti ini, seseorang akan lebih siap menghadapi berbagai ujian kehidupan tanpa kehilangan harapan.

Sejarah peradaban Islam membuktikan bahwa sistem Islam mampu melahirkan generasi yang berkepribadian Islam sekaligus unggul dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, kepemimpinan, dan peradaban. Kekuatan tersebut lahir dari sistem pendidikan yang membangun akidah, akhlak, serta penguasaan ilmu secara seimbang. Generasi muda tidak hanya dipersiapkan menjadi individu yang cerdas, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Selain membentuk individu yang kuat, Islam juga menempatkan negara sebagai pelindung dan pelayan umat. Negara berkewajiban menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat, menyediakan pendidikan yang berkualitas, membuka lapangan pekerjaan, serta menciptakan rasa aman dan keadilan bagi seluruh rakyat. Dengan dukungan sistem yang demikian, generasi muda dapat berkembang secara optimal tanpa dibayangi ketidakpastian yang berkepanjangan.

Karena itu, solusi atas persoalan Generasi Z tidak cukup berhenti pada ajakan untuk lebih kuat secara mental atau lebih bijak menggunakan media sosial. Upaya-upaya tersebut memang penting, tetapi tidak akan menyelesaikan akar persoalan apabila sistem kehidupan yang melahirkan berbagai krisis tetap dipertahankan. Perubahan yang hakiki memerlukan perubahan cara pandang sekaligus perubahan sistem yang mengatur kehidupan manusia.

Generasi Z memiliki peluang besar menjadi pelopor perubahan tersebut. Kecemasan yang mereka rasakan hari ini dapat menjadi momentum untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kembali kepada Islam sebagai pedoman hidup. Dengan membangun kepribadian Islam, meningkatkan kepedulian terhadap persoalan umat, serta memperjuangkan penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan, generasi muda dapat mengambil peran penting dalam mewujudkan peradaban yang lebih adil, tenteram, dan bermartabat.

Masa depan yang lebih baik tidak akan terwujud hanya dengan kemajuan teknologi atau pertumbuhan ekonomi. Masa depan yang benar-benar menjanjikan membutuhkan generasi yang memiliki akidah yang kokoh, akhlak yang mulia, ilmu yang luas, serta sistem kehidupan yang berpijak pada petunjuk Allah Swt. Di tengah berbagai krisis yang melanda dunia saat ini, Generasi Z memiliki kesempatan untuk mengubah kegelisahan menjadi energi kebangkitan. Dengan menjadikan Islam sebagai landasan kehidupan, harapan akan masa depan yang lebih baik bukan lagi sekadar angan-angan, melainkan cita-cita yang layak diperjuangkan.