oleh: Rizqi Awal, SE.Sy (Pengamat Politik dan Ekonomi)
Meninggalnya sejumlah calon pengurus Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dalam sebuah kamp pelatihan militer bukan sekadar kecelakaan prosedural. Tragedi ini adalah duka kemanusiaan sekaligus monumen kebodohan struktural. Koperasi, yang digadang-gadang sebagai soko guru perekonomian pedesaan, seharusnya menjadi arena adu gagasan dan inovasi bisnis, bukan medan tempur fisik yang merenggut nyawa tunas-tunas penggerak ekonomi warga.
Sebagai publik, kita wajib menggugat kekeliruan fatal dalam cara pandang para perumus kebijakan. Mengapa calon pengelola aset ekonomi desa dipaksa menjalani latihan fisik ekstrem ala prajurit tempur?
Ilusi "Tahan Banting" dan Kepatuhan Buta
Ada kesesatan berpikir (logical fallacy) yang akut di kalangan birokrat dan inisiator program saat merumuskan pengembangan kapasitas SDM. Mereka mengira kedisiplinan dan ketahanan mental hanya bisa dicetak melalui baris-berbaris di bawah terik matahari, perpeloncoan, atau hukuman fisik yang menyiksa.
Padahal, realitas ekonomi bekerja dengan hukum yang sama sekali berbeda. Doktrin militer berpusat pada kepatuhan mutlak (chain of command) dan keseragaman. Sebaliknya, dunia bisnis dan pengelolaan koperasi justru menuntut kelincahan manajerial, daya kritis kritis, dan inovasi. Memaksakan metode militer kepada calon manajer koperasi justru mematikan kreativitas dan potensi intelektual mereka.
Mental Juara di Panggung Ekonomi Desa
Ketangguhan sejati seorang pengurus koperasi tidak diuji dari seberapa kuat bahunya memanggul beban fisik, melainkan dari seberapa tangguh daya tahan kognitifnya saat koperasi merugi atau gagal panen.
Jika inisiator KDMP benar-benar ingin mencetak pemimpin yang tahan banting, kurikulum yang diberikan harus mereplikasi tekanan dunia nyata. Para calon pengurus ini seharusnya duduk di kelas atau turun langsung ke pasar untuk mengasah kapasitas manajerial, dengan fokus pada:
Penyusunan Rencana Kerja Strategis: Mereka butuh keahlian merancang program kerja tahunan yang terukur, melakukan kalkulasi margin keuntungan, dan membaca tren permintaan pasar lokal maupun nasional.
Strategi Pemasaran dan Narasi Persuasif: Produk unggulan desa tidak akan laku hanya dengan kedisiplinan berbaris. Calon pengurus perlu menguasai ilmu copywriting dan pemasaran digital. Mereka harus dilatih merangkai kata untuk mempromosikan hasil bumi desa, menguasai taktik selling yang elegan, dan tahu cara memenangkan hati mitra bisnis serta konsumen.
Manajemen Rantai Pasok dan Krisis: Mental juara di panggung bisnis diukur dari ketenangan seorang pemimpin saat menghadapi disrupsi harga pasar, bukan saat merayap di tanah berlumpur.
Hentikan Glorifikasi Militerisme Sipil
Kematian tragis para kandidat KDMP ini adalah harga yang terlalu mahal untuk sebuah arogansi institusional yang enggan beradaptasi. Mengorbankan nyawa pemuda-pemudi yang niat awalnya membangun desa adalah sebuah kejahatan manajerial yang harus diusut tuntas.
Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan wajib melakukan evaluasi total. Hentikan seluruh program outbound berkedok militerisasi yang nir-substansi bagi kalangan sipil dan pelaku ekonomi. Ubah paradigma pembinaan ke arah inkubasi kepemimpinan, perancangan antarmuka bisnis desa yang modern, dan literasi finansial. Perekonomian desa hanya bisa diselamatkan oleh kecerdasan strategi dan inovasi pasar, bukan oleh otot yang dipaksa melampaui batas kemanusiaannya.
Social Plugin