Masa Depan Anak Gaza di Tengah Genosida

Ilustrasi Pinterest
Oleh: Irma Ulpah

MediaMuslim.my.id, Opini_ Anak adalah penerus sebuah peradaban. Keberadaan mereka menentukan masa depan, harapan, dan keberlangsungan sebuah bangsa. Namun keberadaan anak-anak di Gaza dipaksa musnah oleh Zionis lewat aksi genosida. Zionis tidak ingin anak-anak Gaza meneruskan peradaban di Palestina. Data dan laporan dari berbagai lembaga Internasional dalam 2 tahun terakhir menunjukkan gambaran yang sangat mengkhawatirkan tentang kondisi anak-anak di Gaza.

Anak Gaza Menjadi Korban Paling Rentan

Laporan lembaga PBB menyatakan bahwa sejak Oktober 2023, serangan di Gaza telah menewaskan lebih dari seribu anak. Rata-rata, setiap hari dilaporkan ada satu anak Gaza yang syahid akibat serangan tersebut. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan nyawa manusia yang terputus di usia paling dini.

Selain korban jiwa, ribuan anak lainnya mengalami luka fisik berat. Banyak dari mereka mengalami cacat permanen karena luka bakar, amputasi, dan hantaman reruntuhan bangunan. Di sisi lain, trauma psikologis yang dialami juga sangat dalam. Anak-anak kehilangan rumah, orang tua, sekolah, dan rasa aman. Gangguan tidur, ketakutan berlebihan, dan kehilangan kemampuan berbicara menjadi laporan umum dari para tenaga medis dan psikolog di lapangan.

Ketika sekolah, rumah sakit, dan tempat tinggal hancur, maka masa depan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan anak-anak Gaza ikut terancam. Situasi ini oleh banyak pihak digambarkan sebagai upaya sistematis yang mengarah pada penghapusan generasi.

Pola Serangan dan Tujuan Politiknya

Israel sengaja menargetkan anak-anak Palestina yang mengakibatkan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang di Jalur Gaza, serta kejahatan perang di Tepi Barat yang diduduki, demikian dilaporkan Komisi Penyelidik PBB. (BBCNewsIndonesia, 24-06-2026)
 

Dari pola serangan yang terjadi, muncul analisis bahwa anak-anak Gaza sengaja menjadi salah satu target utama. Penargetan terhadap kelompok paling rentan ini dipandang sebagai bagian dari strategi untuk mematahkan keberlanjutan demografis dan sosial masyarakat Palestina.

Tujuan politik yang disebut berulang dalam narasi pihak penyerang adalah penguasaan seluruh wilayah Palestina dan mewujudkan proyek "Isr*_l Raya". Untuk mencapai tujuan tersebut, berbagai cara ditempuh, termasuk penggunaan kekuatan militer secara masif. Gencatan senjata dan kecaman dari lembaga internasional, termasuk puluhan resolusi PBB, terbukti tidak menghentikan eskalasi kekerasan di lapangan.

Harapan bahwa situasi akan berubah karena pergantian kepemimpinan di pihak penyerang juga dinilai tidak realistis, selama doktrin politik dan militernya tidak berubah. Demikian pula, PBB sebagai institusi multilateral dinilai gagal menjalankan fungsinya secara efektif.

Di sisi lain, posisi dunia Islam juga menjadi sorotan. Semakin banyak negara-negara Muslim yang membangun normalisasi hubungan dengan AS dan Zionis atas dasar nasionalisme negara-bangsa dan kepentingan ekonomi kapitalistik. Kondisi ini melemahkan posisi tawar kolektif umat Islam untuk menghentikan agresi dan membela Palestina.

Akibatnya, anak-anak Gaza terjebak dalam krisis kemanusiaan yang berkepanjangan tanpa ada jaminan keamanan dan masa depan yang jelas.

Khilafah Sebagai Solusi Politik Umat

Dalam pandangan Islam, pembelaan terhadap orang-orang tertindas, khususnya anak-anak, adalah kewajiban syar’i. Islam memandang Palestina sebagai tanah wakaf umat Islam yang harus dijaga dan dibebaskan dari penjajahan.

Satu-satunya institusi politik dalam sejarah Islam yang memiliki kewenangan penuh untuk mengerahkan kekuatan militer dan politik secara terpadu adalah Khilafah. Khilafah dipandang sebagai institusi yang akan menerapkan jihad fi sabilillah untuk mengalahkan pihak penjajah dan membebaskan seluruh wilayah Palestina, termasuk Masjid Al-Aqsa. Tanpa adanya institusi pemersatu umat ini, setiap upaya pembelaan menjadi parsial dan terfragmentasi oleh batas-batas nasionalisme.

Khilafah dalam sistem Islam memiliki kewajiban untuk melindungi seluruh rakyatnya, termasuk anak-anak. Perlindungan itu mencakup jaminan keamanan dari serangan dan agresi militer, membangun rumah sakit, menyediakan layanan trauma healing, dan rehabilitasi bagi penyintas, menjamin hak belajar tanpa takut, membangun kembali sekolah dan universitas dam menjamin sandang, pangan, papan, serta ruang tumbuh agar anak-anak Palestina dapat menjadi generasi yang kuat dan berilmu.

Dengan begitu, Khilafah tidak hanya menghentikan pembantaian, tetapi juga membangun kembali peradaban dan masa depan anak-anak Palestina.
Penegakan Khilafah adalah Qadhiyah Mashiriyah Umat. Membebaskan Palestina bukan hanya isu geografis, melainkan isu akidah dan peradaban. Karena itu, penegakan kembali Khilafah disebut sebagai qadhiyah mashiriyah atau isu penentu nasib umat. Tanpa adanya institusi pemersatu umat Islam berdasarkan akidah Islam, maka setiap seruan pembelaan akan lemah dan tidak memiliki kekuatan politik untuk mengubah peta di lapangan.

Penutup: Memilih Jalan yang Jelas

Kondisi anak-anak Gaza hari ini adalah cermin dari rapuhnya sistem internasional yang gagal melindungi yang lemah. Ketika lembaga dunia, perubahan kepemimpinan, dan normalisasi politik terbukti tidak menghentikan genosida, maka umat Islam dituntut untuk kembali kepada solusi dari dalam ajaran agamanya sendiri.

Masa depan anak Gaza tidak boleh diserahkan pada belas kasihan penjajah atau pada institusi yang sudah terbukti mandul. Masa depan mereka hanya dapat dijamin ketika ada negara yang benar-benar berfungsi sebagai pelindung dan pembela, yaitu Khilafah. 

Karena itu, memperjuangkan tegaknya Khilafah adalah jalan untuk menghentikan darah anak-anak, mengembalikan hak Palestina, dan memastikan tidak ada lagi generasi yang lahir dalam bayang-bayang ketakutan dan reruntuhan. Wallahualam bissawab