Ketika Negeri Kaya Kehilangan Cahaya

Ilustrasi Pinterest
Oleh Nadisah Khairiyah

MediaMuslim.my.id, Opini_ Allah Swt. berfirman yang artinya,
"Bagaimana kalian dapat mengingkari Allah, padahal dahulu kalian mati, lalu Dia menghidupkan kalian... Dialah Allah yang menciptakan segala yang ada di bumi untuk kalian."
(QS. Al-Baqarah: 28–29)

Sungguh, betapa lembut cara Allah mengingatkan manusia.
Allah tidak langsung mengancam. Allah mengajak kita berpikir.

"Bagaimana mungkin kalian mengingkari-Ku?"

Pertanyaan itu seakan mengajak kita membuka kembali lembaran kehidupan.
Bukankah sejak lahir hingga hari ini kita hidup di dalam lautan nikmat Allah?

Kita dapat menghirup udara tanpa pernah mengeluarkan biaya.
Kita dapat meminum air yang Allah turunkan dari langit.
Kita dapat menikmati hangatnya mentari setiap pagi.
Kita dapat merasakan manisnya buah-buahan, indahnya pegunungan, sejuknya pepohonan, deburan ombak di pantai, bahkan senyum orang-orang yang Allah hadirkan dalam kehidupan kita.
Saat kita tidur, jantung tetap berdetak. Paru-paru tetap bekerja. Darah tetap mengalir. Padahal tidak sekali pun kita memerintahkannya.

Allah memberikan semuanya dengan kasih sayang-Nya.

Belum lagi bumi yang Allah hamparkan.
Di dalamnya tersimpan minyak, gas, batubara, emas, nikel, hutan, laut, sungai, dan berbagai kekayaan yang cukup untuk menopang kehidupan manusia hingga bergenerasi-generasi.
Semua itu Allah ciptakan untuk manusia.

Bukan untuk segelintir manusia.
Bukan untuk kelompok tertentu.
Melainkan agar seluruh manusia dapat merasakan rahmat-Nya.

Lalu mengapa hari ini banyak orang merasa hidup begitu berat?
Mengapa masih ada yang kesulitan memperoleh kebutuhan pokok?
Mengapa di negeri yang kaya akan sumber energi justru terjadi krisis listrik?

Beberapa waktu terakhir, masyarakat di berbagai wilayah Indonesia harus mengalami pemadaman listrik. Aktivitas terganggu. Pelaku usaha merugi. Anak-anak belajar dalam keterbatasan. Rumah-rumah menjadi gelap, padahal Indonesia termasuk salah satu penghasil batubara terbesar di dunia.

Apakah Allah kurang menyediakan kekayaan alam?
Tentu tidak.

Allah tidak pernah pelit kepada manusia.

Yang sering terjadi justru manusialah yang berlaku pelit kepada sesamanya.

Allah menciptakan bumi untuk seluruh manusia. Namun manusia membuat aturan yang menyebabkan nikmat Allah hanya berputar di tangan sebagian orang.
Allah menyediakan kekayaan alam yang melimpah. Namun manusia mengelolanya dengan cara yang lebih mengutamakan keuntungan daripada kemaslahatan.

Akibatnya, bukan karena nikmat Allah berkurang, tetapi karena jalan manusia untuk menikmati nikmat itu menjadi semakin sempit.

Di sinilah letak persoalan yang sesungguhnya.
Krisis listrik bukan sekadar persoalan batubara.
Bukan semata persoalan pembangkit listrik.
Bukan pula sekadar persoalan distribusi energi.
Krisis ini menunjukkan bahwa ketika petunjuk Allah ditinggalkan, sesuatu yang Allah ciptakan sebagai rahmat dapat berubah menjadi sumber kesulitan.

Padahal Rasulullah ﷺ telah memberikan prinsip yang sangat jelas,
"Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api."
(HR. Ibnu Majah)

Hadis ini menunjukkan bahwa kebutuhan dasar yang menjadi hajat hidup orang banyak tidak boleh dikuasai untuk kepentingan segelintir pihak. Negara berkewajiban mengelolanya agar manfaatnya kembali kepada seluruh rakyat sebagai amanah dari Allah.

Lalu mengapa aturan Allah belum menjadi pedoman dalam mengelola kehidupan?
Pertanyaan ini tidak cukup dijawab dengan menyalahkan satu pihak.

Para pemimpin memikul amanah besar. Mereka membutuhkan keimanan yang kokoh dan ilmu yang benar agar berani menjadikan syariat Allah sebagai dasar kebijakan.

Para ulama juga memikul amanah besar. Mereka dituntut menyampaikan kebenaran dengan ilmu, hikmah, dan keberanian, sekalipun terkadang berbeda dengan arus pemikiran yang sedang dominan.

Namun kita pun harus jujur kepada diri sendiri.
Berapa banyak di antara kita yang membaca Al-Qur'an, tetapi belum sungguh-sungguh berusaha memahami petunjuknya?
Berapa banyak yang mengagumi Islam sebagai agama, tetapi belum mengenalnya sebagai sistem kehidupan?

Padahal Allah tidak hanya menurunkan Al-Qur'an untuk dibaca.
Al-Qur'an diturunkan agar dipahami.
Dipahami agar diamalkan.
Diamalkan agar menjadi rahmat bagi seluruh manusia.

Karena itu, perubahan harus dimulai dari diri kita.

Mari menguatkan iman agar hati semakin yakin bahwa setiap aturan Allah pasti membawa kebaikan.
Mari mempelajari Al-Qur'an dan As-Sunnah hingga kita memahami bagaimana Allah mengatur kehidupan.
Mari mengamalkan syariat-Nya sesuai kemampuan kita.
Dan mari mendakwahkannya dengan ilmu, kasih sayang, dan keteladanan agar semakin banyak manusia kembali merasakan luasnya rahmat Allah.

Jangan sampai kita hidup di atas bumi yang penuh nikmat, tetapi merasa hidup dalam kesempitan karena menjauh dari petunjuk Sang Pemberi Nikmat.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang bukan hanya pandai menghitung nikmat-Nya, tetapi juga pandai mensyukurinya dengan cara memahami, mengamalkan, dan memperjuangkan hukum-hukum-Nya.

Wallāhu a'lam biṣ-ṣawāb.