Solusi Islam Mencegah Depresi pada Gen Z

Ilustrasi Pinterest
Oleh : Ami Ammara 

MediaMuslim.my.id, Opini_ Di tengah tekanan ekonomi dan tuntutan produktivitas yang semakin tinggi, Gen Z justru menunjukkan sikap yang lebih terbuka terhadap isu kesehatan mental. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang cenderung menyimpan masalah secara pribadi, Gen Z kini melihat kesehatan mental sebagai bagian penting dari kesejahteraan secara keseluruhan.

Kesadaran ini tercermin dari cara mereka merespons masalah emosional. Hampir setengah dari Gen Z yang mengalami gangguan kesehatan mental mengaku percaya pada layanan profesional seperti konsultasi, terapi, hingga penggunaan obat sebagai cara untuk pulih. Sikap terbuka ini menandai perubahan signifikan dalam cara generasi muda memandang kerentanan emosional—bukan sebagai kelemahan, melainkan sebagai hal yang wajar dan perlu ditangani.

Namun, di balik kesadaran tersebut, tekanan yang dihadapi Gen Z juga tidak ringan. Kekhawatiran terhadap masa depan menjadi pemicu utama gangguan mental, dengan proporsi mencapai 60%. Hal ini menunjukkan adanya ketidakpastian yang besar terkait karier, stabilitas ekonomi, hingga kondisi global.

Selain itu, tekanan finansial juga menjadi faktor signifikan 57%, diikuti oleh ekspektasi sosial 42% serta perasaan tidak berdaya terhadap situasi yang berada di luar kendali 36%.

Dampaknya pun terlihat dalam berbagai bentuk gangguan yang mereka alami sehari-hari. Perubahan suasana hati atau mood swing menjadi masalah paling umum dialami 62% responden, disusul gangguan tidur seperti insomnia atau tidur berlebihan dengan 50%. Selain itu, kecemasan berlebih (38%) dan kesulitan mengelola emosi (38%) juga menjadi tantangan yang kerap dihadapi.

Survei ini melibatkan 1.158 responden dari kalangan Gen Z dan dilaksanakan pada 10–12 Desember 2025 melalui kuesioner daring yang diakses menggunakan aplikasi mobile Jakpat. Sampel disusun berdasarkan proporsi pengguna internet di Indonesia, dengan margin of error di bawah 5%.

Meski demikian, terdapat paradoks menarik dalam kondisi ini. Di satu sisi, Gen Z disebut sebagai generasi yang paling rentan dalam sistem ekonomi formal. Namun di sisi lain, mereka juga dinilai sebagai generasi yang paling tangguh secara emosional. Kemampuan untuk mengenali, menerima, dan mencari solusi atas masalah mental menjadi kekuatan baru yang membedakan mereka dari generasi sebelumnya.

Pengaruh Media Sosial

Banyak anak muda yang mengukur nilai diri berdasarkan jumlah pengikut, suka, atau pencapaian yang ditampilkan di dunia maya.

Mereka sering melihat kehidupan orang lain yang terlihat sempurna, sehingga memicu rasa tidak percaya diri, iri hati, dan perasaan gagal saat membandingkan kondisi diri sendiri dengan orang lain.

Fenomena fear of missing out (FOMO) juga membuat mereka selalu merasa tertinggal dan tidak puas dengan apa yang dimiliki

Ketidakpastian Masa Depan

Dalam situasi ekonomi yang tidak menentu dan persaingan yang semakin ketat, banyak Gen Z merasa khawatir tentang masa pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan mereka. Rasa takut tidak mampu mencapai harapan diri maupun harapan orang sekitar menimbulkan beban pikiran yang berat.

Kurangnya Koneksi Emosional

Meskipun terhubung melalui perangkat, banyak anak muda yang kehilangan hubungan akrab dengan keluarga dan teman-teman di dunia nyata. Kesepian yang mendalam seringkali menjadi akar dari perasaan sedih yang berkelanjutan dan depresi.

Kurangnya Tujuan Hidup

Banyak yang hidup hanya untuk memenuhi keinginan duniawi tanpa memahami makna dan tujuan sebenarnya dari kehidupan. Ketika segala sesuatu terasa tidak berarti, mudah bagi seseorang untuk terjebak dalam perasaan putus asa.

Krisis multidimensi yang melanda dunia hari ini jadi pemicu utama Kecemasan Gen Z. Potensi mereka sebagai pemuda dilemahkan dengan berbagai hal yang merusak jati diri melalui peradaban sekuleristik kapitalistik.

Serta adanya sikap Abai negara terhadap pengriayahan generasi. Alih-alih dirangkul, Generasi muda justru seringkali mendapat stigma buruk dari generasi di atasnya. Di sisi lain, kecemasan dan sikap kritis Gen Z bisa menjadi peluang perubahan untuk mereka bangkit menuju kondisi yang lebih ideal.

Solusi Islam Mengatasi dan Mencegah Depresi

Islam menawarkan Solusi yang menyeluruh praktis dan mendalam untuk membantu gen Z beralih dari kondisi tertekan menuju ketahanan jiwa yang kuat.solusi ini bukan hanya mencakup aspek spiritual, emosional saja tetapi Islam sebagai solusi dari krisis yang melanda dunia hari ini.

Penerapan Islam mendatangkan Rahmatan lil Alamin. Membawa ketenangan dan keselamatan hidup bagi manusia. Karakter generasi di masa kejayaan Islam sangat kuat. Berkepribadian Islam dan cakap dalam berbagai bidang keilmuan.

Banyak sekali contoh bagaimana keberhasilan para pemuda-pemuda islam berbagai bidang keilmuan seperti al-Khawarizmi, di usianya yang sangat muda menjadi astronom dan matematikawan utama di Baitul Hikma (pusat penerjemah dan penelitian di Baghdad).

Ada Ibnu Sina (Avicenna) sejak usia 18 tahun menjadi dokter Istana yang sangat dihormati serta dijuluki bapak kedokteran Modern.

Kehadiran negara sebagai pelindung dan pelayan umat, menjamin pemenuhan kebutuhan hidup secara adil. Serta Menyadarkan pemuda hari ini untuk mengemban mabda Islam, serta peduli terhadap kondisi umat. Agar masa depan emas bukan lagi sebatas angan-angan.
Wallahu alam bishowab