Sekolah Manusia Unggul akankah Melahirkan Generasi Unggul?

Ilustrasi Pinterest
Septa Anitawati, S.I.P.
Founder Sekolah Tahfizh Khoiru Ummah

MediaMuslim.my.id, Opini_ Program Sekolah Manusia Unggul (Maung) merupakan langkah awal pemerintah dalam menghadirkan sekolah yang diharapkan menjadi tempat lahirnya generasi unggul. tvberita.co.id/news/22052026.

Beberapa waktu lalu, SMAN 1 Purwakarta menetapkan syarat IQ minimal 130 bagi calon siswa jalur Cerdas Istimewa dan Bakat Istimewa (CIBI) dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027 yang dibuka mulai 25 Mei 2026. Ketentuan tersebut diberlakukan seiring penetapan SMAN 1 Purwakarta sebagai Sekolah Manusia Unggul (Maung) oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat di bawah kepemimpinan Gubernur Dedi Mulyadi. kompas.com/27/05/2026.

Analisis Problematis

Dari fakta yang terjadi, setidaknya ada 3 analisis problematis penting berikut ini. 
Pertama, pembentukan generasi unggul dan berkarakter mestinya terukur. Validasi penting diukur dengan landasan akidah Islam. Karena generasi adalah sosok manusia, bukan robot untuk menghasilkan uang dengan standar nilai umum Barat seperti “daya saing global” Kapitalistik berasaskan Sekulerisme yang tidak mau diatur oleh agama. 

Kedua, dalam program pemilihan dilakukan melalui sekolah-sekolah tertentu yang menjadi Manusia Unggul atau “Maung”. Melalui seleksi prestasi, sarana dan tenaga pendidik. Padahal pendidikan merupakan kebutuhan pokok publik yang harus disediakan negara untuk semua warga tanpa diskriminasi. Menjadikan hanya 41 sekolah sebagai “unggulan”, akan berpotensi menciptakan kastanisasi dalam pendidikan. Alih-alih menjadi solusi. Tugas negara adalah memenuhi kebutuhan publik diantaranya adalah pendidikan. Seluruh warga negara berhak mendapatkan pendidikan berkualitas secara gratis. Bukan membuat sekolah elite dan non-elite, sehingga terjadi diskriminasi. 

Ketiga, model pendidikan yang meniru sistem sekuler Barat, hanya akan melahirkan generasi yang pintar secara teknis tapi rapuh akidahnya.  Yang jelas tidak lagi memperhatikan halal haram, benar salah ataupun baik buruk. Karena standar ini hanya ada pada landasan akidah Islam dan syariah secara kafah. Buktinya saat ini. Mental health, pergaulan bebas, lgbt, bunuh diri, bullying, judol, pinjol, narkoba, miras, korupsi dan segala bentuk kemaksiatan menjadi out put pendidikan saat ini. Miris. 

Solusi Konstrukstif dan Komprehensif

Jika ditelisik analisis problematis di atas, terdapat tiga hal penting berikut. 
Pertama, dalam pandangan Islam, Negara memiliki tanggung jawab untuk mengembalikan tujuan pendidikan. Yakni, menjadikan manusia sebagai hamba Allah Swt. sebagaimana firman-Nya dalam Al-Quran surat Adz-Dzariyaat ayat 56.

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka menghamba kepada-Ku.

Disamping itu juga menjadikannya sebagai khalifah fil ardh. Sebagaimana dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 30.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".

Dari dua tujuan pendidikan, yakni menjadikan manusia sebagai hamba Allah dan sebagai khalifah fil ardh inilah terlahir sosok manusia yang berkepribadian IsIam. Memiliki pola pikir dan pola sikap yang berlandaskan akidah IsIam, bagaikan Al-Quran berjalan. Seperti pada masa kepemimpinan Rasulullah SAW dan para Khalifah sesudahnya. Menghamba penuh ketaatan kepada Allah Swt. Makin pintar makin taat Allah dan Rasul-Nya. Ibadahnya, sampai mengelola bumi sesuai perintah Allah.

Penemuan baru, ilmu dan teknologi banyak dihasilkan. Penemuan peta dunia, angka nol yang menjadi basic digital, optik, sabun, pesawat terbang, kapal selam, dll. Disamping kekayaan karya fiqih IsIam. Sehingga Khilafah IsIam menjadi matahari dan kiblat peradaban dunia. Orang berbondong-bondong dari manca negara belajar ke negeri Islam. Bahkan dari dokumen ditemukan surat dari Kerajaan Inggris. "Paduka yang Mulia, Sultan Iskandar Muda, kami ingin menitipkan putra putri kami belajar ke negeri Tuan..." Ini semua adalah bukti keemasan IsIam saat menjadi Negara Super Power di bawah naungan Khilafah Rosyidah 'ala minhajin nubuwah. 

Kedua, Negara menjamin pendidikan secara gratis untuk seluruh warga. Untuk menunaikan kewajibannya, sesuai hadits thalabul 'ilmi faridhotun 'ala kulli muslim. Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Karena Negara sebagai pelaksana seluruh syariat, maka Negaralah yang memastikan seluruh warga negaranya untuk menuntut ilmu. Memberikan fasilitas unggulan untuk seluruh warga negara. Juga pendidik dan kurikulum serba unggul. Sehingga menghasilkan generasi unggulan. 

Guru mendapatkan gaji ratusan juta perbulan. Siswa-siswi sekolah dan kuliah gratis. Mendapatkan beasiswa saat melakukan riset. Dan mendapatkan hadiah emas seberat buku yang ditulisnya. Negaralah yang memberikan semuanya sebagai apresiasi atas karya-karya yang dihasilkan. Pantas saja pada saat Kekhilafahan memimpin dunia, memiliki perpustakaan terbesar di dunia. Semua orang rajin membaca buku dan menghasilkan buku. 

Ketiga, pendidikan pada masa Khilafah, tidak ada sistem seleksi yang mendiskriminasi. Semua orang mendapatkan hak yang sama untuk mendapatkan sekolah dan guru yang berkualitas. Karena pendidikan adalah kebutuhan pokok publik yang diberikan oleh negara kepada rakyatnya. 
Sungguh, hanya Islamlah satu-satunya yang mampu menjamin seluruh kebutuhan pokok masyarakat. Termasuk kebutuhan pendidikan. 
Wallahu a'lam.