Membawa Talbiyah Pulang

Ilustrasi Pinterest
Oleh Nadisah Khairiyah

MediaMuslim.my.id, Opini_ Ada kerinduan yang tidak dapat dibeli dengan harta.
Kerinduan itu tumbuh ketika seorang Muslim mendengar panggilan untuk berhaji ke Baitullah. Ia menunggu bertahun-tahun. Ia menabung sedikit demi sedikit. Ia memohon kepada Allah ﷻ agar diizinkan menjadi tamu-Nya.

Lalu tibalah hari itu.

Di hadapan Ka'bah, jutaan manusia dari berbagai bangsa berkumpul. Perbedaan bahasa, warna kulit, jabatan, dan kekayaan seolah lenyap. Semua datang sebagai hamba yang memenuhi panggilan Rabb-nya.

Dari jutaan lisan terdengar kalimat yang sama:
Labbayk Allahumma labbayk. Labbayka laa syariika laka labbayk.

Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah.
Aku memenuhi panggilan-Mu.
Tidak ada sekutu bagi-Mu.

Talbiyah bukan sekadar bacaan manasik. Talbiyah adalah pernyataan ketundukan seorang hamba kepada Allah. Ia adalah janji untuk menaati seluruh perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya.

Karena itu pertanyaan terpenting setelah haji bukanlah berapa kali talbiyah diucapkan, tetapi apakah talbiyah itu tetap hidup setelah seseorang meninggalkan Makkah.

Rasulullah ﷺ bersabda:
"Haji mabrur tidak ada balasan baginya selain surga."

Para ulama menjelaskan bahwa tanda kemabruran haji tampak setelah seseorang kembali ke negerinya. Imam Hasan al-Bashri rahimahullah menyatakan bahwa haji mabrur menjadikan seseorang lebih mencintai akhirat daripada dunia. Imam al-Ghazali rahimahullah menambahkan bahwa ia semakin bersiap untuk bertemu Pemilik Ka'bah setelah berjumpa dengan Ka'bah.

Dengan demikian, yang terpenting bukan hanya bagaimana seseorang datang ke Baitullah, tetapi apa yang ia bawa pulang dari sana.

Di sinilah letak pelajaran besar dari ibadah haji. 

Selama berhaji, kaum Muslim berusaha mengikuti setiap tuntunan Rasulullah ﷺ dengan penuh ketundukan. Mereka thawaf sebagaimana beliau thawaf. Mereka sa'i sebagaimana beliau sa'i. Mereka wukuf sebagaimana beliau wukuf.

Tidak ada yang berkata, "Saya punya cara sendiri."
Tidak ada yang berkata, "Manasik ini sudah tidak sesuai zaman."
Tidak ada yang mencari aturan selain yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya.

Pertanyaan pentingnya adalah:
Mengapa kaum Muslim begitu patuh kepada Allah dalam urusan manasik haji, tetapi sering ragu menjadikan syariah Allah sebagai pedoman dalam kehidupan?

Mengapa ketika Allah mengatur thawaf, sa'i, dan wukuf, kita tunduk?
Namun ketika Allah mengatur pergaulan, ekonomi, pendidikan, hukum, dan kehidupan bermasyarakat, sebagian manusia justru merasa aturan lain lebih layak diikuti?

Sebab Allah yang memerintahkan thawaf adalah Allah yang sama yang memerintahkan keadilan. Allah yang memerintahkan wukuf adalah Allah yang sama yang menurunkan syariah sebagai petunjuk kehidupan.

Ketaatan kepada Allah tidak boleh dibatasi hanya pada ibadah ritual. Islam diturunkan untuk mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.

Allah ﷻ berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan." (TQS al-Baqarah [2]: 208).

Ayat ini menyeru kaum Muslim agar menerima Islam secara utuh, bukan sebagian-sebagian. Karena itu seorang Muslim tidak cukup menjadikan Islam sebagai pedoman ibadah pribadi, sementara urusan kehidupan diserahkan kepada aturan buatan manusia.

Semangat ketaatan yang sama seharusnya hadir dalam seluruh aspek kehidupan.

Haji juga mengajarkan bahwa kaum Muslim adalah satu umat. Di Tanah Suci mereka bertemu saudara-saudara seiman dari berbagai negeri. Mereka menyaksikan bahwa umat Islam menghadapi berbagai persoalan yang memerlukan solusi dari Allah ﷻ.

Karena itu haji bukan hanya perjalanan ibadah ritual semata, tetapi juga pengingat bahwa umat ini membutuhkan ketaatan yang lebih luas, lebih kuat, dan lebih menyeluruh kepada Rabb-nya.

Hari ini jutaan kaum Muslim masih mengumandangkan talbiyah.

Jika talbiyah benar-benar hidup dalam hati, ia akan terus menjawab panggilan Allah dalam seluruh kehidupannya.

Saat Allah memerintahkan shalat, ia menjawab: Labbayk.
Saat Allah memerintahkan kejujuran dan keadilan, ia menjawab: Labbayk.
Saat Allah melarang riba, korupsi, dan kezaliman, ia menjawab: Labbayk.
Semoga talbiyah itu tidak berhenti di Makkah.
Semoga ia terus hidup di rumah, di sekolah, di pasar, di tempat kerja, dan di tengah masyarakat.

Sebab talbiyah yang sejati bukan hanya terucap oleh lisan.

Talbiyah yang sejati adalah ketika seluruh kehidupan seorang Muslim berkata:
Labbayk Allahumma labbayk.
Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah.
Dalam seluruh urusan hidupku.

و الله اعلم بالصواب