Polemik Film Pesta Babi: Ketika Pembangunan Mengambil Tanah Kehidupan

Ilustrasi Pinterest
Oleh Nadisah Khairiyah


MediaMuslim.my.id, Opini_ Film dokumenter Pesta Babi menghadirkan potret yang menggugah hati: hutan Papua yang selama ini menjadi ruang hidup masyarakat adat perlahan berubah menjadi kawasan proyek industri dan food estate berskala besar.

Bagi sebagian orang, hutan mungkin hanya terlihat sebagai lahan yang belum “produktif”. Namun bagi masyarakat Papua, hutan adalah tempat mereka menjalani kehidupan.

Di sanalah mereka mencari makan, membangun keluarga, mengenal tradisi, dan bertahan hidup dari generasi ke generasi.

Karena itu, ketika hutan dibuka dalam skala luas, yang hilang bukan hanya pepohonan. Yang hilang adalah rasa aman terhadap kehidupan mereka sendiri.

Seorang ibu kehilangan tempat mencari sagu.
Seorang anak kehilangan ruang untuk mengenal alamnya.
Sebuah komunitas perlahan kehilangan pijakan hidup yang selama ini menopang mereka.

Lalu muncul pertanyaan besar:

Mengapa pembangunan sering datang dengan mengambil, bukan membina?

Hari ini keberhasilan pembangunan sering diukur dari besarnya investasi, luasnya proyek, dan tingginya pertumbuhan ekonomi. Akibatnya, tanah dan hutan lebih mudah dipandang sebagai aset ekonomi daripada amanah yang harus dijaga.

Ketika keuntungan materi menjadi orientasi utama, maka pihak yang memiliki modal terbesar akan memiliki pengaruh terbesar terhadap penguasaan sumber daya.

Di sinilah kritik terhadap proyek-proyek besar seperti food estate muncul. Banyak rakyat melihat bahwa pembangunan terasa lebih dekat kepada kepentingan korporasi dan pemilik modal dibanding pembinaan manusia dan penjagaan kehidupan rakyat.

Akibatnya, ketimpangan semakin melebar:

• perusahaan besar memperoleh konsesi lahan sangat luas,
• sementara rakyat kecil kehilangan akses terhadap sumber kehidupan mereka sedikit demi sedikit.

Allah ﷻ telah mengingatkan:
Agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kalian.”
(TQS. Al-Hasyr: 7)

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam tidak membiarkan kekayaan dan sumber daya hanya berputar pada kelompok tertentu sementara rakyat menanggung dampaknya.

Islam Membangun Manusia Sebelum Membangun Proyek

Islam tidak memandang pembangunan hanya sebatas membuka lahan, membangun industri, atau memperbesar angka ekonomi.

Yang pertama dibangun oleh Islam adalah manusia dan cara berpikirnya.

Rasulullah ﷺ di Makkah tidak memulai perubahan dengan perebutan kekuasaan atau penguasaan sumber daya. Beliau membina manusia agar memahami:

• untuk apa manusia hidup,
• bagaimana memandang kekayaan,
• dan bagaimana memperlakukan sesama manusia.

Dari perubahan cara berpikir itulah lahir perubahan perilaku dan peradaban.

Orang yang memahami bahwa hidup adalah amanah dari Allah tidak akan menjadikan keuntungan sebagai tujuan utama hingga tega mengorbankan manusia lain.
Orang yang memahami bahwa bumi adalah ciptaan Allah tidak akan merusaknya demi kepentingan sesaat.

Karena itu, solusi Islam bukan sekadar mempertahankan suatu komunitas dalam kondisi apa adanya. Islam datang untuk membina manusia agar memiliki pemikiran yang benar, sehingga mereka mampu membangun kehidupan yang mulia dan ikut membangun peradaban yang manusiawi.

Allah ﷻ berfirman:
Dan sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam.”
(TQS. Al-Isra’: 70)

Kemuliaan manusia dalam Islam bukan diukur dari suku, warna kulit, atau daerah asalnya, tetapi dari ketakwaan dan amal salehnya.

Pembangunan dalam Islam Berorientasi pada Kemaslahatan

Islam tidak menolak pembangunan. Islam justru mendorong kemajuan ilmu, pertanian, teknologi, dan pengelolaan sumber daya. Namun pembangunan tidak boleh merusak kehidupan manusia atau menjadikan kekayaan hanya berputar pada segelintir pihak.

Rasulullah ﷺ bersabda:
Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.”
(HR. Abu Dawud)

Hadits ini menunjukkan bahwa sumber daya vital tidak boleh dimonopoli demi keuntungan kelompok tertentu. Tanah dan kekayaan alam Papua yang termasuk kepemilikan umum harus dikelola negara untuk kepentingan umat, dan hasilnya dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk kesejahteraan dan pelayanan kehidupan.

Karena itu, negara dalam Islam bukan alat kepentingan oligarki. Negara adalah pengurus urusan rakyat.

Allah ﷻ berfirman:
Dan janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.”
(TQS. Al-A’raf: 56)

Kerusakan bukan hanya ketika hutan ditebang. Kerusakan juga terjadi ketika manusia kehilangan ketenangan hidup dan kekayaan hanya berputar di tangan segelintir elite.

Saatnya Kembali kepada Petunjuk Allah

Hari ini manusia mampu membangun gedung tinggi dan teknologi canggih, tetapi gagal menghadirkan ketenangan dan keadilan. Alam rusak, ketimpangan melebar, sementara rakyat kecil semakin tersingkir.

Mengapa?

Karena manusia membangun dunia dengan ukuran materi, tetapi meninggalkan petunjuk Allah.

Ketika keuntungan menjadi tujuan utama, maka hutan berubah menjadi angka investasi dan manusia berubah menjadi korban pembangunan.

Padahal bumi ini adalah amanah.

Islam datang bukan hanya untuk mengatur ibadah ritual, tetapi untuk membangun peradaban yang menjaga manusia, menjaga alam, dan menjaga keadilan.

Perubahan hakiki tidak cukup hanya mengganti proyek atau kebijakan. Yang paling mendasar adalah mengubah cara pandang manusia: dari mengejar keuntungan menuju mencari ridha Allah, dari kerakusan menuju amanah, dan dari kepentingan oligarki menuju kemaslahatan umat.

و الله اعلم بالصواب