Oleh: Kamilla Azzahra
Gelombang PHK massal kembali menghantam pekerja Indonesia. Dari pabrik tekstil di Bandung, manufaktur elektronik di Batam, sampai startup digital di Jakarta, ribuan karyawan dirumahkan tanpa kepastian. Data Kementerian Ketenagakerjaan mencatat lebih dari 60 ribu pekerja terkena PHK sepanjang Januari sampai Agustus 2025. Angka itu naik 23 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Di lapangan, yang terjadi bukan sekadar statistik. Ada bapak yang harus menunda biaya sekolah anaknya, ada ibu yang mengurangi jatah makan keluarga, ada anak muda yang ijazahnya belum sempat berguna.
Ini bukan kecelakaan. Ini akibat logika kapitalisme yang menjadikan keuntungan sebagai tujuan tunggal. Perusahaan tumbuh saat ekonomi naik, tapi begitu margin tipis atau investor menuntut efisiensi, pekerja adalah pos pertama yang dipotong. Manusia diperlakukan seperti mesin. Dipakai saat produktif, dibuang saat dianggap beban. Kapitalisme tidak punya ikatan moral untuk menjaga pekerja. Hubungan buruh dan majikan hanya kontrak untung rugi. Negara pun sering hanya jadi penonton yang sibuk menjaga iklim investasi, sementara rakyat kecil yang menanggung akibatnya.
Islam datang dengan sistem yang berbeda. Dalam Islam, kerja bukan sekadar transaksi upah. Kerja adalah ibadah dan sarana menjaga kehormatan manusia. Negara wajib hadir sebagai pelindung, bukan sekadar regulator pasar. Prinsip hifz an-nafs dan hifz al-mal menuntut setiap kebijakan ekonomi diletakkan di atas kemaslahatan rakyat, bukan di atas kepentingan segelintir pemilik modal. Rasulullah SAW bersabda, “Berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya kering.” [HR. Ibnu Majah]. Kalimat itu menegaskan bahwa pekerja punya hak yang harus dijaga, bukan ditunda apalagi dihapus saat perusahaan rugi.
Solusi Islam tidak berhenti pada larangan PHK sewenang-wenang. Islam membangun ekonomi berbasis produksi nyata, bukan spekulasi. Zakat, infak, sedekah, dan Baitul Mal berfungsi sebagai jaring pengaman sosial yang aktif. Saat ada guncangan ekonomi, dana umat langsung bergerak untuk menanggung pekerja yang kehilangan nafkah, memberi pelatihan, dan membuka lapangan kerja baru berbasis industri halal dan kebutuhan rakyat. Tidak ada istilah “terlalu besar untuk gagal” lalu rakyat dibiarkan jatuh. Sistem Islam meletakkan keadilan di depan efisiensi.
PHK massal hari ini adalah cermin retaknya kapitalisme. Ia hanya kuat saat untung, tapi rapuh saat diuji. Islam menawarkan jalan keluar yang lurus. Ekonomi yang memanusiakan manusia, negara yang melindungi rakyatnya, dan harta yang berputar untuk kemaslahatan bersama. Saat ribuan keluarga kehilangan pekerjaan, jawabannya bukan sekadar paket insentif, tapi kembali pada sistem yang menjadikan manusia sebagai tujuan, bukan korban.
Social Plugin