Ilustrasi Pinterest
Oleh Pastri Sokma Sari
MediaMuslim.my.id, Opini_ Dampak dari gejolak ekonomi global dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sangat dirasakan para produsen tempe. Hal ini sebagaimana dilansir oleh (megapolitan.kompas.com, 22/5/2026), pelemahan rupiah terhadap dolar AS menyebabkan harga kedelai impor terus meningkat dan menekan para perajin tahu-tempe, contohnya seperti yang dialami perajin di Kompleks Kopti Semanan, Jakarta Barat. Untuk menghindari kenaikan harga jual, para perajin terpaksa mengambil keputusan dengan memperkecil ukuran produk serta menanggung lonjakan biaya bahan baku dan plastik kemasan. Ketergantungan pada kedelai impor membuat mereka sulit beralih ke kedelai lokal yang dianggap belum mampu bersaing dengan kualitas impor. Jika harga kedelai mencapai Rp12.000 per kilogram, para perajin mengaku tidak lagi mampu bertahan tanpa menaikkan harga produk. Kondisi ini menunjukkan kondisi betapa rentannya usaha rakyat terhadap gejolak ekonomi global dan ketergantungan impor pangan.
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, Mohammad Nur Rianto Al Arif, melalui artikel yang dilansir oleh (uinjkt.ac.id, 20/5/2026) menjelaskan bahwa pelemahan rupiah seperti yang terjadi saat ini menunjukkan rapuhnya ketahanan pangan Indonesia yang saat ini masih sangat bergantung pada barang impor. Kebutuhan pangan strategis seperti gandum, kedelai, gula, dan bawang putih sebagian besar dipasok dari luar, sehingga kenaikan nilai dolar langsung mendorong naiknya harga pangan di dalam negeri. Tidak hanya itu, berbagai kebutuhan pertanian seperti pupuk, pestisida, mesin pertanian, dan pakan ternak juga masih sangat bergantung pada impor. Akibatnya, lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar meningkatkan biaya produksi sekaligus menekan daya beli masyarakat. Kondisi ini mencerminkan lemahnya kemandirian pangan dan ekonomi nasional dalam menghadapi gejolak global.
Lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang diikuti kenaikan harga kedelai impor menunjukkan rapuhnya sistem ekonomi kapitalisme yang bertumpu pada pasar global. Ketika kurs dolar menguat, biaya impor langsung meningkat dan dampaknya dirasakan oleh para pelaku usaha kecil hingga konsumen. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan pokok rakyat sangat rentan terhadap gejolak ekonomi internasional. Akibatnya, rakyat kecil menjadi pihak yang paling terdampak oleh ketidakstabilan ekonomi tersebut.
Kenaikan harga kedelai yang diikuti lonjakan harga plastik kemasan semakin membebani perajin tahu dan tempe. Mereka bahkan sampai pada keputusan terpaksa mengurangi ukuran produk, menekan produksi, atau menaikkan harga jual demi mempertahankan usaha. Situasi ini menunjukkan lemahnya peran negara dalam melindungi dan menjaga keberlangsungan usaha rakyat. Padahal, sektor usaha kecil memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dan menopang perekonomian.
Ketergantungan yang tinggi terhadap impor kedelai juga mencerminkan lemahnya kemandirian pangan nasional. Indonesia yang memiliki sumber daya alam dan lahan pertanian luas masih bergantung pada pasokan luar negeri untuk memenuhi kebutuhan pangan penting. Akibatnya, gejolak nilai tukar dan kondisi global mudah memengaruhi harga serta ketersediaan bahan pangan di dalam negeri. Ketergantungan ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan nasional belum dibangun di atas fondasi yang kuat.
Kondisi tersebut sekaligus menggambarkan lemahnya kemandirian ekonomi negara secara keseluruhan. Selama kebutuhan strategis masih bergantung pada impor, stabilitas ekonomi akan terus berada dalam kondisi rentan terhadap tekanan eksternal. Negara seharusnya berupaya memperkuat produksi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada pasar global. Dengan demikian, kebutuhan rakyat dapat terpenuhi secara lebih stabil dan berkelanjutan.
Dalam sistem Islam, negara bertanggung jawab penuh menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat, termasuk pangan. Politik ekonomi Islam tidak berorientasi pada keuntungan pasar, melainkan pada pemenuhan kebutuhan setiap individu secara adil. Karena itu, negara wajib memastikan ketersediaan pangan dengan harga yang terjangkau serta melindungi petani, pedagang, dan perajin kecil dari tekanan ekonomi. Negara hadir sebagai pengurus rakyat, bukan sekadar regulator yang menyerahkan urusan pangan kepada mekanisme pasar.
Khilafah juga menerapkan sistem mata uang berbasis emas dan perak (dinar dan dirham) yang memiliki nilai intrinsik. Sistem ini membuat nilai uang lebih stabil dan tidak mudah tergerus inflasi maupun dipermainkan oleh spekulasi pasar keuangan. Dengan mata uang yang kuat, gejolak nilai tukar yang sering memicu kenaikan harga bahan baku impor dapat diminimalkan. Stabilitas sektor keuangan ini turut mendukung kestabilan harga kebutuhan pokok di tengah masyarakat.
Untuk mewujudkan kemandirian pangan, khilafah mendorong peningkatan produksi pertanian melalui intensifikasi dan ekstensifikasi. Negara menyediakan sarana produksi, teknologi, irigasi, benih unggul, serta dukungan riset guna meningkatkan hasil pertanian. Selain itu, tanah-tanah yang terlantar akan dihidupkan dan dimanfaatkan untuk memperluas lahan produksi pangan. Dengan kebijakan tersebut, produksi kedelai dalam negeri dapat ditingkatkan sehingga ketergantungan terhadap impor dapat dihilangkan.
Khilafah juga akan mengatur distribusi pangan dan mengawasi pasar agar tidak terjadi penimbunan, monopoli, maupun permainan harga. Negara memastikan hasil produksi tersalurkan secara merata sehingga tidak terjadi kelangkaan dan lonjakan harga yang merugikan rakyat. Para perajin kecil, termasuk perajin tahu dan tempe, mendapat perlindungan dari tekanan biaya produksi yang tidak terkendali. Dengan pengelolaan yang berlandaskan syariat Islam, kemandirian pangan dan kesejahteraan masyarakat dapat diwujudkan secara berkelanjutan.
Dengan demikian, kemandirian dan stabilitas pangan hanya dapat terwujud apabila prioritas utama dalam sistem adalah kesejahteraan rakyat secara menyeluruh, bukan hanya segolongan saja. Oleh karena itu, sistem islam menawarkan tata kelola yang menjamin produksi, distribusi, dan akses pangan secara adil bagi seluruh masyarakat. Ketika syariat diterapkan secara menyeluruh dalam kehidupan, ketahanan pangan dan kesejahteraan umat bukan sekadar harapan, melainkan kenyataan yang dapat dirasakan.
Social Plugin