Ilustrasi Pinterest
Oleh Nadisah Khairiyah
MediaMuslim.my.id, Opini_ Muharram kembali datang.
Tahun Hijriah kembali bertambah.
Bagi kaum Muslim, pergantian tahun ini bukan sekadar pergantian angka. Ia mengingatkan kita pada sebuah peristiwa yang dipilih oleh para sahabat sebagai penanda perjalanan waktu umat Islam: Hijrah Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah.
Pilihan itu menarik untuk direnungkan.
Mengapa Hijrah?
Mengapa bukan kelahiran Rasulullah ﷺ, turunnya wahyu pertama, Perang Badar, atau Fathu Makkah? Padahal semua peristiwa itu merupakan bagian penting dari sejarah Islam.
Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. pernah menjelaskan alasan dipilihnya Hijrah sebagai awal penanggalan Islam:
_"Hijrah telah memisahkan antara yang haq dan yang batil. Karena itu jadikanlah hijrah sebagai dasar penanggalan."_
Kalimat itu seolah mengajak kita memahami bahwa Hijrah bukan sekadar perpindahan dari satu kota ke kota yang lain.
Hijrah adalah titik ketika Islam mulai memimpin kehidupan.
Sebelum hijrah, kaum Muslim telah memiliki akidah yang kokoh. Mereka mengenal Allah, memahami halal dan haram, serta membangun kepribadian Islam di bawah bimbingan Rasulullah ﷺ. Namun mereka masih hidup dalam tekanan. Mereka belum memiliki kekuatan yang mampu melindungi agama dan umat. Kebenaran telah diyakini, tetapi belum memiliki ruang untuk mengatur kehidupan.
Lalu hijrah terjadi.
Dan setelah itu sejarah berubah.
Di Madinah, Islam tidak lagi hanya menjadi keyakinan yang hidup di dalam hati para pemeluknya. Islam hadir sebagai petunjuk yang mengatur kehidupan masyarakat. Dari kota itulah lahir sebuah perubahan yang tidak hanya mengubah Jazirah Arab, tetapi juga mengubah arah sejarah dunia.
Persaudaraan dibangun di atas ikatan akidah, mengalahkan fanatisme suku dan kabilah. Kaum Muhajirin dan Anshar dipersaudarakan. Allah ﷻ berfirman yang artinya:
"Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara." (TQS al-Hujurat [49]: 10).
Perekonomian dibangun di atas keadilan. Praktik riba, monopoli, dan penimbunan dihapuskan. Kekayaan tidak dibiarkan hanya beredar di kalangan tertentu, tetapi dikelola agar memberi manfaat bagi seluruh masyarakat.
Syariah Islam diterapkan secara menyeluruh. Wahyu tidak hanya membimbing ibadah seorang hamba kepada Rabb-nya, tetapi juga mengatur keluarga, perdagangan, peradilan, pemerintahan, hingga hubungan dengan bangsa-bangsa lain.
Kaum Muslim yang sebelumnya tertindas pun berubah menjadi umat yang disegani. Dari Madinah, risalah Islam menyebar ke berbagai penjuru dunia, membawa cahaya bagi manusia tanpa membedakan suku, bangsa, ataupun warna kulit.
Semua itu lahir setelah hijrah.
Karena yang berubah bukan sekadar tempat tinggal kaum Muslim.
Yang berubah adalah keadaan umat.
Kini, lebih dari empat belas abad kemudian, kita kembali menatap keadaan umat Islam.
Jumlah kita lebih dari dua miliar jiwa.
Al-Qur'an dibaca di berbagai penjuru dunia.
Masjid berdiri megah di banyak negeri.
Namun mengapa umat ini masih sering tampak lemah?
Mengapa negeri-negeri Muslim yang kaya sumber daya justru bergantung kepada kekuatan lain?
Mengapa ketika sebagian kaum Muslim tertindas, bagian umat yang lain sering tidak mampu memberikan perlindungan yang berarti?
Pertanyaan-pertanyaan itu bukan untuk membuat kita berputus asa.
Sebaliknya, ia mengajak kita kembali melihat pelajaran terbesar dari Hijrah.
Kebangkitan umat ternyata tidak lahir hanya dari banyaknya jumlah orang yang beriman.
Tidak pula lahir hanya dari kesalehan yang berhenti pada kehidupan pribadi.
Kaum Muslim di Makkah telah memiliki keimanan yang luar biasa. Namun perubahan besar baru terjadi ketika Islam hadir sebagai petunjuk yang memimpin kehidupan masyarakat.
Di situlah letak makna Hijrah yang sering luput dari perhatian.
Hijrah bukan hanya berpindah dari kemaksiatan menuju ketaatan.
Hijrah adalah bergerak menuju keadaan yang membuat petunjuk Allah benar-benar menjadi pemimpin kehidupan.
Karena itu Allah ﷻ berfirman:
نَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri." (TQS ar-Ra'd [13]: 11).
Ayat ini tidak hanya berbicara tentang perubahan seorang individu. Allah menggunakan kata قَوْمٍ—suatu kaum. Artinya, perubahan yang dikehendaki Al-Qur'an adalah perubahan yang menjangkau kehidupan bersama, perubahan masyarakat, bahkan perubahan peradaban.
Muharram kembali datang.
Maka jangan biarkan Hijrah hanya menjadi kisah yang dikenang setahun sekali.
Biarlah ia menjadi pengingat bahwa umat ini pernah bangkit ketika menjadikan wahyu sebagai pemimpin kehidupan.
Umat ini pernah dipersatukan oleh akidah.
Pernah menghadirkan keadilan.
Pernah melahirkan peradaban yang menerangi dunia.
Semua itu bukan dongeng.
Ia adalah bagian dari sejarah.
Dan sejarah itu mengajarkan satu pelajaran penting: ketika umat berpegang teguh kepada petunjuk Allah dan memperjuangkannya dalam kehidupan, perubahan bukanlah sesuatu yang mustahil.
Karena itu, Muharram tahun ini jangan hanya mengajak kita menghitung bertambahnya usia.
Biarlah ia juga mengajak kita bertanya kepada diri sendiri:
Sudahkah aku menjadi bagian dari perubahan yang Allah kehendaki bagi umat ini?
Wallahu a'lam bish-shawab.
Social Plugin