Ilustrasi Pinterest
Oleh Nadisah Khairiyah
MediaMuslim.my.id, Opini_ Al-Qur'an masih kita baca.
Kita mengajarkannya kepada anak-anak kita. Kita menghafalnya. Kita mendengarkannya di masjid, di rumah, dan dalam berbagai majelis ilmu.
Namun ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan:
Sudahkah Al-Qur'an benar-benar memimpin kehidupan kita? Ketika kita bingung menentukan mana yang benar, kepada siapa sebenarnya kita bertanya?
Di tengah derasnya arus informasi saat ini, jawabannya tidak selalu mudah. Setiap hari kita menerima begitu banyak berita, pendapat, komentar, video, dan analisis. Sebagian datang dari media, sebagian dari tokoh publik, sebagian lagi dari orang-orang yang bahkan tidak kita kenal. Tidak jarang suatu pendapat dianggap benar hanya karena banyak yang membagikannya. Sesuatu dianggap penting karena sedang viral. Bahkan kadang-kadang, yang paling keras suaranya justru yang paling banyak diikuti.
Inilah yang oleh banyak kalangan disebut sebagai era post-truth, yaitu kondisi ketika opini, emosi, dan persepsi lebih berpengaruh daripada fakta dan kebenaran objektif.
Namun sesungguhnya fenomena ini bukanlah hal baru. Jauh sebelum manusia mengenal media sosial dan teknologi digital, Allah ﷻ telah memperingatkan manusia tentang kecenderungan mengikuti prasangka dan suara mayoritas.
Allah ﷻ berfirman:
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ
"Jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Mereka tidak mengikuti kecuali hanya prasangka saja." (QS al-An'am [6]: 116).
Ayat ini mengingatkan bahwa ukuran kebenaran tidak pernah ditentukan oleh jumlah pengikut, popularitas, atau banyaknya dukungan. Kebenaran tetaplah kebenaran meskipun sedikit yang mengikutinya. Sebaliknya, kesalahan tetaplah kesalahan meskipun didukung oleh banyak orang.
Karena itu persoalan utama umat hari ini bukan sekadar banyaknya informasi yang beredar. Persoalan yang lebih mendasar adalah: apa yang menjadi standar ketika kita menilai informasi tersebut?
Sebagai Muslim, kita meyakini bahwa Allah ﷻ telah menurunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk hidup manusia.
"Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa." (TQS al-Baqarah [2]: 2).
Al-Qur'an bukan sekadar kitab yang dibaca untuk mendapatkan pahala. Al-Qur'an bukan hanya penghibur ketika hati sedih atau bacaan yang dikumandangkan pada acara-acara tertentu. Al-Qur'an diturunkan untuk menjadi petunjuk yang membimbing manusia dalam memahami kehidupan, menilai berbagai persoalan, dan menentukan arah langkah yang harus ditempuh.
Sesungguhnya tidak ada kitab yang lebih dicintai kaum Muslim selain Al-Qur'an. Kita menjaganya di tempat yang mulia. Kita mengajarkan huruf-hurufnya kepada anak-anak kita. Kita merasa tenang ketika mendengarnya dibaca. Tidak sedikit yang meneteskan air mata saat ayat-ayatnya menyentuh hati.
Namun cinta sejati selalu ingin dekat dengan yang dicintainya. Cinta sejati tidak hanya menikmati suaranya, tetapi juga mengikuti arahannya.
Karena itu pertanyaan pentingnya bukan sekadar: "Apakah kita mencintai Al-Qur'an?"
Pertanyaan yang lebih dalam adalah: "Sudahkah Al-Qur'an memperoleh tempat yang semestinya dalam kehidupan kita?"
Sayangnya, realitas yang kita saksikan hari ini menunjukkan hal yang berbeda. Al-Qur'an masih dibaca oleh jutaan kaum Muslim. Mushaf Al-Qur'an hadir di rumah-rumah kita. Majelis tilawah dan tahfizh berkembang di berbagai tempat. Namun dalam banyak aspek kehidupan, standar yang digunakan sering kali bukan lagi Al-Qur'an dan as-Sunnah.
Cara pandang tentang ekonomi lebih banyak dibentuk oleh Kapitalisme. Cara pandang tentang kebebasan dibentuk oleh sekularisme. Ukuran keberhasilan sering ditentukan oleh materi. Bahkan cara memandang berbagai persoalan umat sering dibentuk oleh media dan opini publik.
Akibatnya, tidak sedikit kaum Muslim yang secara lisan mengagungkan Al-Qur'an, tetapi dalam praktik kehidupan lebih mengikuti ukuran-ukuran yang berasal dari pemikiran manusia.
Padahal Allah ﷻ telah mengingatkan:
"Siapa saja yang mengikuti petunjuk-Ku maka dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Sebaliknya, siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku maka sungguh baginya kehidupan yang sempit." (TQS Thaha [20]: 123–124).
Membaca, menghafal, dan mengajarkan Al-Qur'an adalah kemuliaan yang harus terus dijaga. Namun cinta kepada Al-Qur'an akan mencapai kesempurnaannya ketika Al-Qur'an juga menjadi pemimpin kehidupan.
Konsekuensinya, Al-Qur'an memimpin cara berpikir kita. Al-Qur'an memimpin cara kita memandang persoalan.
Al-Qur'an memimpin perasaan kita dalam mencintai, membenci, berharap, dan takut.
Al-Qur'an juga menjadi dasar dalam mengatur kehidupan masyarakat, termasuk pendidikan, ekonomi, pergaulan, media, hukum, dan berbagai urusan publik lainnya.
Inilah makna mencintai Al-Qur'an secara utuh.
Bukan hanya mencintai lafazhnya, tetapi juga mencintai petunjuknya. Bukan hanya mencintai bacaan dan hafalannya, tetapi juga mencintai hukum-hukumnya.
Bukan hanya menjadikan Al-Qur'an sebagai penghias rak dan dinding rumah, tetapi menjadikannya pemimpin kehidupan.
Pertanyaan yang dibutuhkan saat ini adalah: siapakah yang sebenarnya memimpin cara berpikir kita hari ini?
Ketika menentukan benar dan salah, apakah yang menjadi rujukan kita adalah wahyu Allah atau opini manusia?
Ketika menilai suatu peristiwa, apakah kita melihatnya dengan pandangan Al-Qur'an atau dengan kacamata yang dibentuk oleh budaya dan sistem yang jauh dari petunjuk Allah?
Sebab masalah terbesar umat hari ini bukan karena Al-Qur'an hilang dari tengah-tengah kaum Muslim. Tetapi yang hilang adalah kedudukannya sebagai pemimpin kehidupan. Marilah kita bertanya dengan jujur kepada diri kita sendiri. Ketika Al-Qur'an berbicara tentang kehidupan, apakah kita benar-benar siap mengikutinya?
Ketika Al-Qur'an menjelaskan mana yang haq dan mana yang batil, apakah kita menerimanya dengan penuh ketundukan? Ketika Al-Qur'an menunjukkan jalan, apakah kita menjadikannya sebagai pemimpin perjalanan hidup kita?
Sebab mencintai Al-Qur'an secara utuh bukan hanya mencintai bacaan yang keluar dari lembaran mushaf.
Mencintai Al-Qur'an secara utuh adalah membiarkan cahaya wahyu menerangi cara kita berpikir, membentuk perasaan kita, dan mengarahkan seluruh langkah kehidupan kita.
Saat itulah Al-Qur'an tidak hanya kita baca, tetapi benar-benar hidup dan memimpin di tengah kehidupan kita.
Wallahu a'lam bi ash-shawab.
Social Plugin