Tuntutlah Ilmu Hingga ke Negeri Cina


Ilustrasi: Sekulerisme (pinterest)

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

Institut Literasi dan Peradaban


MediaMuslim.my.id, Opini--Ada pepatah lama, tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina. Pepatah ini tak berlebihan, karena sejak dahulu Cina dikenal sebagai salah satu pusat peradaban dan ilmu pengetahuan, termasuk dalam bidang pengobatan. Hari ini pun, Cina masih tegar berdiri sebagai salah satu negara besar, yang tak gentar menghadapi ancaman negara besar lainnya yaitu AS.


Apakah pepatah itu yang melandasi Kementerian Transmigrasi (Kementrans) memberangkatkan 36 peserta pelatihan ke Cina untuk mempelajari praktik pengentasan kemiskinan dan pembangunan pedesaan yang akan diterapkan di kawasan transmigrasi di Indonesia?


Menteri Transmigrasi M Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mempercepat pengentasan kemiskinan melalui pengembangan kawasan transmigrasi. Cina dinilai cukup berhasil dalam upaya pengentasan kemiskinan, empat dekake bukan angka yang kecil untuk menilai keberhasilan Cina menekan angka kemiskinan (Antaranews.com,7-5-2026).


Peserta selama dua minggu ( 9-22 Mei 2026) akan mengikuti pelatihan terkait pembangunan pedesaan dan pengentasan kemiskinan yang mencakup sesi perkuliahan, diskusi, serta kunjungan lapangan di Beijing dan Prefektur Otonom Honghe Hani dan Yi, Provinsi Yunnan. Mereka juga belajar di Pusat Pengentasan Kemiskinan.


Peserta terdiri atas unsur Kementerian Transmigrasi, pelatih dari balai-balai transmigrasi, serta akademisi dari 10 perguruan tinggi, antara lain UI, IPB, Universitas Padjadjaran, ITB, Universitas Diponegoro, Universitas Gadjah Mada, ITS, Unair, UB serta Universitas Hasanuddin. Mereka inilah yang menjadi bagian dari Tim Ekspedisi Patriot (TEP) untuk berkiprah di 53 kawasan transmigrasi, khususnya 10 kawasan transmigrasi di Papua.


Sulaiman juga menjelaskan hasil pelatihan nantinya akan disusun menjadi policy paper serta buku panduan implementatif yang dapat diterapkan di kawasan transmigrasi. Semua ini karena pemerintah ingin membangun model pengentasan kemiskinan yang dapat diterapkan mulai dari tingkat wilayah, kabupaten, desa, hingga keluarga. Nantinya satu anggota patriot dapat mendampingi sekitar 10 kepala keluarga miskin ekstrem agar mengalami peningkatan kesejahteraan.


Haruskah Ke Cina?

Tiongkok memang berhasil mengangkat lebih dari 800 juta orang keluar dari kemiskinan ekstrem sejak akhir tahun 1970-an, menjadikannya salah satu pengurangan kemiskinan terbesar dalam sejarah modern (Wikipedia). Secara resmi, di tahun 2020 Tiongkok secara resmi menyatakan berakhirnya kemiskinan absolut. Namun bagaimana bisa negara komunis terbesar di dunia bisa mencapai kekayaan sedemikian besar, bahkan diprediksi akan menjadi negara adidaya ekonomi terbesar di dunia?


Semua Ini berawal dari perubahan yang diperkenalkan oleh Deng Xiaoping sejak 1978, dua tahun setelah kematian Mao. Deng mempromosikan program ekonomi yang kemudian dikenal sebagai “Reformasi dan Keterbukaan”. Yang dimaksud adalah meliberalisasi ekonomi, membuka pintu bagi sektor swasta, dan mendesentralisasi kekuasaan sehingga otoritas lokal punya wewenang mengambil keputusan. Para era Deng, Cina akhirnya mulai membuka diri kepada dunia luar. Dia berkunjung ke Washington dan menjalin hubungan dengan AS (BBC.com, 30-9-2024).


Cukup jelas bukan bagaimana cara Cina mengentaskan kemiskinan negaranya. Melepas Idiologi Sosialis Komunis dan beralih kepada Sistem Ekonomi Kapitalisme, meski dengan tajuk keterbukaan. Namun, negara mana yang digandeng, yaitu AS sudah cukup menjelaskan secara gamblang kemana arah politik dan ekonomi mereka.


Lantas, benarkah Ekonomi Kapitalisme mampu membawa kepada kesejahteraan sejati? Itu ilusi! Sebab Kapitalisme asasnya sekuler, memisahkan agama dari kehidupan. Jelas tak ada campur tangan Tuhan dalam setiap perbuatan. Maka, jelas halal haram pun tidak ada. Salah satu mega proyek infrastruktur dan strategi ekonomi global yang dipimpin oleh Tiongkok (diluncurkan 2013), Belt and Road Initiative (BRI), dengan tujuan untuk menghidupkan kembali jalur perdagangan kuno “Jalur Sutra”. Ini melibatkan investasi besar di ratusan negara (Asia, Eropa, Afrika) untuk membangun pelabuhan, kereta api, dan jalan raya. Dan dalam perjalanannya banyak negara yang akhirnya gagal bayar, Yunani salah satunya yang kemudian hilang dari peta dunia ,karena diakuisisi Cina.


Islam Akidah dan Syariat

Mengapa pemerintah kita tidak mengambil kebijakan yang lebih baik? Mengevaluasi dan mencari sistem yang lebih baik? Karena kekuasaan itu nikmat. Bagaimana pun Kapitalisme memang menjanjikan kesuksesan bagi mereka yang punya modal, jika tidak maka siap-siap dianggap warga tereliminasi.


Islam adalah agama sempurna, terdiri dari akidah dan syariat. Allah SWT. berfirman,”Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (TQS An Nahl:89).


Al-Quran adalah penjelas dan petunjuk segala sesuatu maka tidak ada jalan lain bagi seorang muslim untuk taat kepada setiap ayat di dalamnya. Kemiskinan terjadi hingga tingkat ektrem di dalam Sistem Kapitalisme karena tak ada distribusi merata terkait kekayaan, siapa yang bermodal bisa mengelola kepemilikan individiu dan negara, dimana masing-masing seharusnya menjadi milik rakyat.


Maka, cara jitu mengangkat kemiskinan, adalah mencabut Kapitalisme dan menggantinya dengan syariat. Sejarah membuktikan pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, tak ada lagi rakyatnya yang mau menerima zakat yang diberikan. Ketika itu ia mengutus petugas pengumpul zakat, Yahya bin Said untuk memungut zakat ke Afrika. Tapi kenyataannya, saat ia akan menyalurkan zakat tersebut tidak ia dapati seorang pun rakyat miskin yang layak diberikan zakat. Jelas hari ini tidak akan bisa dicapai dengan Sistem Kapitalisme. Wallahualam bissawab.