Ilustrasi Pinterest
Oleh: Ami Ammara
MediaMuslim.my.id, Opini_ Polisi menangkap dua dari lima pelaku pengeroyokan terhadap seorang pelajar bernama Ilham Dwi Saputra (16 tahun) di Jalan Banyu Urip, Caturharjo, Pandak, Kabupaten Bantul. Dwi sempat dirawat lalu dinyatakan meninggal di rumah sakit akibat luka yang dideritanya.
Kasi Humas Polres Bantul, Iptu Rita Hidayanto, mengatakan dua orang pelaku, yakni BLP (laki-laki, 18 tahun) asal Kretek, Kabupaten Bantul, dan YP (laki-laki, 21 tahun) asal Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, telah ditangkap.
"Terhadap kedua pelaku tersebut saat ini sudah dilakukan penahanan di Polres Bantul," kata Rita saat dikonfirmasi, Selasa (21/4).
Kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang makin banyak dilakukan oleh pelajar dan mahasiswa, termasuk pelecehan siswa terhadap guru di Purwakarta yang sempat menghebohkan media sosial, bahkan sampai kasus dipenjarakannya guru karena memarahi atau menghukum siswa. Ditambah lagi kejadian adanya pelaku dan pengedar narkoba di kalangan anak sekolah dan mahasiswa juga bertambah banyak.
Terlahirnya pelajar yang krisis kepribadiannya, yaitu cenderung sekuler, liberal, dan pragmatis, sehingga jauh dari predikat kaum intelektual yang beradab dan bermoral tentu tidak terlepas dari sistem pendidikan saat ini. Sistem pendidikan sekuler kapitalistik telah menghasilkan output orang-orang yang ingin sukses instan tanpa mau berusaha secara serius, juga orang-orang yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang dalam jumlah besar.
Kondisi ini diperparah dengan longgarnya sanksi negara bagi pelaku pelajar yang mayoritas masih di bawah umur sehingga menoleransi kriminalitas yang dilakukan sebagai kenakalan anak semata. Hal ini ditambah dengan minimnya pendidikan nilai-nilai agama yang benar dalam pendidikan sekuler, memperlebar ruang kebebasan yang akhirnya mengikis moral dan kepribadian, bahkan mudah terseret pada tindak kejahatan dan kemaksiatan.
Melihat gambaran kondisi pendidikan saat ini, maka seharusnya Hardiknas kita jadikan awal komitmen menyamakan niat dan tujuan bersama untuk membawa pendidikan kearah yang lebih baik tentu dengan bercermin pada aturan dari Sang Pencipta dengan membuka kembali dan mempelajari bagaimana Islam memandang pendidikan.
Solusi Islam
Dalam Islam, Negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan hak pendidikan bagi setiap anak terpenuhi di seluruh wilayah. Ini termasuk menyediakan infrastruktur publik dan fasilitas pendidikan yang memadai di seluruh wilayah secara merata. Dengan demikian, setiap anak dapat memperoleh pendidikan yang berkualitas tanpa hambatan, sehingga kesenjangan pendidikan dapat diminimalkan dan kualitas pendidikan secara keseluruhan dapat ditingkatkan.
Pendidikan yang merata dan terjangkau memungkinkan lahirnya banyak ulama besar dan ilmuwan kelas dunia yang memberikan kontribusi signifikan bagi kemajuan peradaban manusia. Mereka menjadi rujukan dan berperan penting dalam mengembangkan berbagai bidang ilmu pengetahuan. Pendidikan berkualitas menjadi kunci bagi kemajuan dan perkembangan masyarakat.
Penerapan sistem Pendidikan dalam Islam ini diwujudkan dengan institusi Khilafah. Dalam Khilafah, pendidikan ditempatkan sebagai kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi seluruhnya karena dianggap sebagai fondasi utama bagi lahirnya peradaban unggul. Hal ini tercermin dalam sejarah peradaban Islam yang mencapai puncak kejayaan dengan sistem pendidikan yang maju dan berpengaruh di dunia. Khilafah Islam pernah menjadi negara adidaya.
Adapun dalam sistem ekonomi Islam, sumber pembiayaan pendidikan dapat bersumber dari Baitul Maal yang didanai dari berbagai pos seperti fa’i, kharaj, dan kepemilikan umum seperti pengelolaan sumber daya alam. Jika diperlukan, negara juga dapat menarik pajak (dharibah) dalam kondisi tertentu, dengan ketentuan yang ketat seperti hanya dikenakan pada laki-laki muslim yang mampu. Fasilitas pendidikan seperti gedung sekolah, asrama, perpustakaan, dan laboratorium disediakan gratis oleh negara tanpa membebankan biaya kepada rakyat.
Wallahu alam bishowab.
Social Plugin