Saat Dunia Diam, Tahanan Palestina Bersaksi

Ilustrasi Pinterest
Oleh Nadisah Khairiyah


MediaMuslim.my.id,Opini_ Setiap tanggal 17 April, dunia mengenal satu peringatan yang sering luput dari perhatian: Hari Tahanan Palestina. Namun bagi rakyat Palestina, ini bukan sekadar tanggal. Ini adalah luka yang terus hidup.

Di berbagai belahan dunia, aksi solidaritas dilakukan. Suara-suara menuntut pembebasan menggema. Terlebih ketika kebijakan keras terhadap tahanan Palestina terus menguat, termasuk dorongan penerapan hukuman yang semakin berat bagi mereka.

Sejak tahun 1967, diperkirakan sekitar 1 juta warga Palestina, hampir seperlima populasi, pernah merasakan dinginnya sel penjara. Hari ini, sekitar 9.600 orang masih berada di balik jeruji.

Mereka bukan sekadar angka. Di dalam penjara, berbagai laporan mengungkap kondisi yang menyayat: pemukulan, penyiksaan, kelaparan, penahanan tanpa proses yang adil, hingga kematian dalam tahanan.

Ini bukan hanya pelanggaran. Ini adalah potret panjang dari sebuah penjajahan. Lalu akal pun mulai bertanya: mengapa semua ini terus terjadi?
Jika ini hanya soal kemanusiaan, mengapa dunia yang mengaku menjunjung HAM tidak mampu menghentikannya? Jika ini hanya soal hukum internasional, mengapa lembaga-lembaga global tidak memberi perlindungan nyata?

Faktanya, penjajahan atas Palestina tidak berdiri sendiri. Ia ditopang oleh kepentingan global, dilindungi oleh kekuatan politik internasional, dan dibiarkan oleh sistem yang mengklaim dirinya sebagai penjaga keadilan dunia.

Standar HAM tampak tidak netral, tegas kepada sebagian pihak, namun lunak bahkan diam terhadap yang lain.
Di titik ini, akal mulai jujur melihat: ini bukan sekadar krisis kemanusiaan.

Di saat dunia tidak mampu memberi jawaban, wahyu justru datang menjelaskan.

Allah ﷻ berfirman yang artinya:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…
(TQS. Al-Hujurat: 10)

Rasulullah ﷺ bersabda:
Perumpamaan kaum mukminin dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Maka penderitaan Palestina bukan “berita luar negeri”.
Ia adalah bagian dari tubuh umat ini.

Lebih dari itu, Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Imam (Khalifah) itu adalah perisai (junnah), yang di belakangnya kaum Muslim berperang dan berlindung.
(HR. Muslim)

Tanpa perisai itu, umat menjadi tercerai, lemah, dan mudah dizalimi. Kesadaran ini tidak boleh berhenti di hati. Ia harus melahirkan amal.

Pertama, meluruskan cara pandang.
Palestina bukan sekadar isu kemanusiaan. Ia adalah qodhiyyah Islamiyyah, persoalan umat Islam. Kepedulian terhadapnya tidak boleh lahir hanya dari empati sesaat, tetapi dari akidah yang mengikat.

Kedua, tidak diam dalam keterbatasan sistem.
Menyerahkan sepenuhnya pada sistem internasional yang terbukti lemah bukanlah solusi.

Allah ﷻ berfirman yang artinya:
Dan jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan…”
(TQS. Al-Anfal: 72)

Ini bukan sekadar seruan emosional, tetapi perintah yang menuntut sikap.

Ketiga, mengarah pada solusi yang hakiki.
Sejarah menunjukkan bahwa penjajahan tidak diakhiri dengan kecaman, tetapi dengan kekuatan yang terorganisir, yang melindungi umat, memiliki kekuatan riil, dan menjalankan kewajiban menjaga kaum Muslimin. Tanpa itu, penderitaan hanya akan berulang dalam bentuk yang berbeda.

Hari Tahanan Palestina bukan sekadar momen mengenang. Ia adalah cermin. Apakah kita masih merasa satu tubuh? Ataukah kita sudah terbiasa melihat luka tanpa rasa?

Akal telah melihat realitas. Wahyu telah memberi arah. Maka diam bukan lagi pilihan. Pertanyaannya kini bukan: apa yang terjadi di Palestina? Tetapi: di mana posisi kita di hadapan Allah atas semua ini?

و الله اعلم بالصواب