Ilistrasi Pinterest
Oleh: Ummu Ayla
(Pemerhati Keluarga dan Generasi)
MediaMuslim.my.id, Opini_ Setiap tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Tahun ini merupakan peringatan yang ke 67. Namun, dunia pendidikan masih diselimuti duka. Kondisinya memprihatinkan bahkan potretnya semakin buram. Hardiknas tak selayaknya hanya dijadikan seremonial, seharusnya menjadi momen refleksi terhadap sistem pendidikan yang diterapkan.
Seperti halnya kerusakan moral para pelajar kian parah. Usia sekolah sudah berani menjadi pelaku kriminal. Dilansir dari laman (kompas.id , 21/04/2026), sebanyak 6 pelajar menjadi tersangka penganiayaan seorang pelajar SMAN 5 Bandung hingga tewas. Di Bantul juga terjadi kasus serupa, Ilham Dwi Saputra (16), meninggal dunia usai mengalami pengeroyokan brutal yang terjadi pada 14 April 2026 di wilayah Pandak. (tvonenews.com, 22/04/2026).
Selain itu, kecurangan ujian juga marak di dunia pendidikan. Dua joki Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) terungkap di Surabaya, Jawa Timur. Salah satu pelaku mengaku dijanjikan bayaran Rp 100 juta lebih jika berhasil. (Kompas.id, 22/04/2026). Selain praktik perjokian, kecurangan juga dilakukan menggunakan alat bantu dengar yang ditemukan di peserta UTBK di lokasi tes Universitas Diponegoro. (Tempo.co, 21/04/2026).
Potret di atas hanya sebagian kasus yang mencuat dan viral, lainnya bisa jadi tidak terekspos atau ditutupi. Peringatan Hardiknas seharusnya menjadi alarm keras bagi semua pihak untuk memperbaiki kondisi buruk dunia pendidikan hari ini. Apa yang tampak merupakan hasil dari implementasi peta jalan pendidikan yang dicanangkan.
Setiap tahun, Hari Pendidikan Nasional diperingati dengan penuh seremoni. Namun realitas di lapangan justru menunjukkan wajah pendidikan yang kian buram dan memprihatinkan.
Akar Krisis Pendidikan Sekuler
Krisis ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi dari kesalahan mendasar dalam membangun sistem pendidikan. Akar utama persoalan terletak pada paradigma sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan.
Akibatnya, pendidikan kehilangan ruh pembentuk kepribadian dan hanya berfokus pada aspek kognitif serta capaian materi.
Selain itu, dominasi kapitalisme dalam sektor pendidikan menjadikan sekolah dan kampus lebih berorientasi pada pasar kerja dibanding pembentukan manusia beradab. Pendidikan diposisikan sebagai investasi ekonomi, bukan sebagai proses pembinaan manusia seutuhnya.
Di sisi lain, negara belum menjalankan peran optimal sebagai penanggung jawab utama pendidikan. Lemahnya penegakan hukum, terutama terhadap pelajar yang melakukan pelanggaran, justru menormalisasi berbagai bentuk kriminalitas dengan dalih kenakalan remaja.
Tak kalah penting, lingkungan sosial yang permisif baik dari media, pergaulan, maupun budaya popular turut mempercepat degradasi moral pelajar.
Fenomena ini sejatinya menjadi alarm keras bagi seluruh elemen bangsa. Peringatan Hardiknas bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum refleksi mendalam atas arah pendidikan yang kian kehilangan tujuan hakikinya.
Sistem pendidikan saat ini terbukti gagal membentuk kepribadian pelajar yang utuh. Output yang dihasilkan cenderung sekuler, liberal, dan pragmatis yang mengukur keberhasilan hanya dari materi dan capaian duniawi, tanpa fondasi moral yang kokoh. Dalam sistem sekuler kapitalistik, pendidikan direduksi menjadi alat produksi tenaga kerja, bukan pembentuk manusia beradab.
Kondisi pendidikan saat ini berbeda dalam sistem Islam. Pendidikan diprioritaskan sebagai modal awal membangun sebuah peradaban. Kurikulumnya dibangun berdasarkan akidah Islam, dengan tujuan untuk membentuk generasi berkepribadian Islam, menguasai pemikiran Islam dengan handal, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memiliki keterampilan yang berdaya guna. Hasilnya, generasi tumbuh dengan keimanan yang kukuh, mendalam pemikirannya, sehingga menjadi sosok yang taat terhadap syariat Islam. Dampaknya, tercipta masyarakat yang bertakwa, gemar beramar makruf nahi mungkar.
Peran negara Islam dalam mengurus pendidikan telah terbukti melahirkan banyak ulama dan ilmuwan. Tsaqafah Islam, ilmu pengetahuan yang kita pelajari, juga produk-produk industri yang kita nikmati saat ini merupakan hasil karya mereka. Sebut saja Ibnu Sina (pakar kedokteran), al-Khawarizmi (pakar geografi), Az-Zarqali (pakar astronomi), Ibnu al-Haitsam (pakar fisika), dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, sudah saatnya berbenah secara fundamental, yakni menerapkan sistem pendidikan Islam secara kaffah. Karena sudah terbukti sistem pendidikan sekularisme-kapitalis gagal mencetak generasi cemerlang. Wallahu a'lam bishshawab.
Social Plugin