Ilustrasi Pinterest
Fathimah
(Aktivis Dakwah Kampus)
MediaMuslim.my.id, Opini_ Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti saintek) mengungkapkan rencana untuk menutup program studi (prodi) di perguruan tinggi yang tidak relevan dengan kebutuhan kehidupan dunia di masa depan.
"Nanti mungkin ada beberapa hal yang harus kami eksekusi dalam waktu yang tidak terlalu lama terkait dengan prodi-prodi perlu kita pilih, kita pilah, dan kalau perlu ditutup, untuk bisa meningkatkan relevansi ini," ujar Sekjen Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco dalam Simposium Nasional Kependudukan Tahun 2026, Kamis (23/4/2026) dikutip dari siaran di Kanal YouTube Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (www.kompas.com, 25/4/2026).
Di tengah gencarnya wacana pemerintah untuk mengevaluasi bahkan menutup program studi (prodi) yang dianggap "tak laku" di pasar kerja, dua nahkoda perguruan tinggi besar di Malang justru menyuarakan perlawanan terhadap logika tersebut.
Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Universitas Islam Malang (Unisma) kompak mengirimkan pesan kuat. Pendidikan tinggi tidak boleh diringkas hanya menjadi manufaktur pencetak pekerja.
Bagi Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, gagasan bahwa pendidikan hanya dari kacamata link and match yang linier dengan industri adalah cara berpikir yang sangat pragmatis dan sempit. Beliau mengatakan, Universitas adalah kawah candradimuka untuk membentuk life skill atau keterampilan hidup. Mahasiswa tidak hanya diajarkan cara bekerja, tetapi cara berpikir, berkarakter, dan beradaptasi.
Senada dengan itu, Rektor Unisma, Prof. Drs. H. Junaidi, Ph.D., mengingatkan pemerintah agar tidak gegabah dalam mengambil keputusan strategis. Penutupan sebuah prodi bukan sekadar urusan administratif, melainkan urusan masa depan peradaban.
"Selama masih ada manusia, maka pendidikan itu selalu diperlukan," ujar Prof. Junaidi mantap. Baginya, prodi-prodi di bidang kependidikan akan selalu relevan karena kebutuhan manusia untuk belajar bersifat abadi.
Ia menekankan bahwa tugas pemerintah seharusnya adalah melakukan pembinaan, bukan eksekusi. Transformasi kurikulum agar sesuai dengan denyut zaman jauh lebih bijak daripada menghapus keberadaan sebuah disiplin ilmu hanya karena kurangnya minat pasar atau tekanan korporasi (malang.suara.com, 2/5/2026).
Pendidikan: Pencetak Generasi Berkualitas
Pendidikan merupakan aspek krusial dalam pembentukan generasi ideal. Karena didalamnya, generasi dipupuk, dibina, dan dididik agar mampu berkembang dan mampu menjalani kehidupan dengan baik. Keberhasilan pendidikan adalah ketika lulusannya mampu menciptakan generasi yang punya cara berpikir yang khas, berkarakter, dan mampu memberikan solusi atas problem masyarakat.
Akan tetapi, munculnya wacana penyesuaian jurusan dengan kebutuhan industri ini berarti terjadi pergeseran paradigma pendidikan. Pendidikan tak lagi dipandang sebagai "wadah" eksplorasi dan mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Akan tetapi dipandang hanya sebagai "ceruk" pekerja bagi dunia industri.
Hal ini tentu pandangan yang tak dapat dibenarkan. Sebab, jika segala hal, termasuk pendidikan, hanya dinilai dari sudut pandang ekonomi, lantas dimana semangat mencetak generasi berkualitasnya? Dimana kita bisa memperoleh generasi kreatif dan berkarakter mulia?
Mindset sekulerisme kapitalisme ini tentu tidak dapat terus-menerus dipertahankan. Menilai segala sesuatu dari sudut pandang ekonomi semata, ini berarti mengesampingkan nilai-nilai keilmuan, karakter, dan keagamaan. Padahal baik buruknya generasi bukanlah dinilai dari seberapa banyak "cuan" yang dihasilkan. Akan tetapi, seberapa baik mindsetnya dalam memaknai kehidupan, mempertahankan karakter baik ditengah-tengah kondisi yang tidak ideal, dan berusaha berpikir kreatif untuk memperbaiki kondisi ini.
Perlu Perubahan
Fakta ini menunjukkan gagalnya negara dalam menciptakan mindset pentingnya dunia pendidikan. Hal ini menunjukkan pendidikan di negeri ini belum mumpuni. Pendidikan belum mampu menciptakan generasi tangguh yang mampu menjadikan lulusannya selalu berguna ditengah-tengah masyarakat. Sebaliknya, pendidikan hari ini justru menyesuaikan kebutuhan industri atau swasta. Katanya agar lulusan pendidikan bisa terserap oleh industri.
Sungguh, ini adalah bukti bahwa negara hanya berperan sebagai fasilitator. Negara tidak menyediakan lapangan kerja melimpah, melainkan hanya memfasilitasi atau menghubungkan para pekerja dengan industri. Sementara industrilah yang menetapkan jumlah lapangan kerja dan spesifikasi yang dibutuhkan. Bila seperti ini, sangat mungkin melahirkan banyak pengangguran. Karena pada faktanya, industri tidak selalu membuka lapangan kerja setiap tahun.
Padahal, bergantung dengan industri akan memunculkan banyak resiko. Sebab, seiring perkembangan zaman, industri pasti berubah. Mereka akan selalu berupaya mencari keuntungan maksimal. Jika kurikulum atau jurusan pendidikan mengikuti industri, maka ketika industri berubah, pendidikan akan dianggap tidak sesuai (mismatch) seperti yang terjadi hari ini. Sungguh, perlu ada perubahan mindset dalam penyelenggaraan sistem pendidikan hari ini.
Solusi Islam
Tentu berbeda jauh dengan paradigma Islam dalam mengatur negeri. Dalam Islam, pemimpin bukanlah sekedar jabatan, akan tetapi sebuah posisi yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Seorang pemimpin akan menjadi pengurus (ra’in) dan penjaga (junnah) bagi rakyatnya dengan menerapkan syariat Islam. Sebab pemimpin menyadari, kepemimpinan adalah amanah. Ia tidak akan berbuat zalim dan abai terhadap rakyatnya.
Sejarah mencatat, peradaban Islam pernah berjaya selama 13 abad dan terbukti mampu menciptakan kesejahteraan bagi rakyatnya. Bahkan, Khilafah mampu menciptakan generasi berkualitas dan memastikan lulusannya dapat bermanfaat sesuai dengan keilmuannya. Beberapa kebijakan dilakukan adalah sebagai berikut.
Pertama, menyelenggarakan sistem pendidikan islam. Hal ini karena Islam mewajibkan kaum muslim untuk selalu menuntut ilmu. Sebab, ilmu adalah cahaya penerang bagi berjalannya amal. Tanpa ilmu, manusia ibarat berjalan dalam kegelapan dan sukar menuju arah yang tepat.
Terdapat pahala besar bagi penuntut ilmu. Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
“Siapa saja yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan jalan bagi dirinya menuju surga.” (HR Muslim dan at-Tirmidzi).
Maka, pendidikan memiliki posisi penting dalam Islam. Siapapun berhak mendapatkan pendidikan, baik dia kaya atau miskin, tua atau muda, tinggal di kota atau di desa. Oleh karenanya, pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok rakyat yang dijamin oleh negara. Negara akan memberikan fasilitas, guru/dosen, laboratorium, perpustakaan, dan sarana terbaik demi menunjang pendidikan berkualitas.
Pendidikan islam diselenggarakan atas asas akidah islam. Pendidikan islam ini mempunyai tujuan untuk mencetak generasi berkepribadian islam (pola pikir islami dan pola sikap islami) yang menguasai tsaqafah islam dan ilmu pengetahuan.
Dengan begitu, generasi akan tumbuh penuh dengan ketakwaan dan tidak akan bingung setelah lulus harus melakukan apa. Karena negara telah mendidik mereka agar menjadi sarjana yang menguasai berbagai keilmuan yang dibutuhkan umat, mulai dari pendidikan, kesehatan, pertanian, perikanan, teknik, dsb. Sehingga setelah lulus, mereka akan selalu berupaya mengamalkan ilmu yang dipelajarinya.
Kedua, membuka lapangan kerja halal sebesar-besarnya. Negara pasti membutuhkan tenaga kerja melimpah dalam pengelolaan sumber daya alam secara mandiri. Sehingga, lapangan kerja terbuka lebar, mulai dari sektor pertanian, perikanan, perkebunan, pertambangan, industri, termasuk pendidikan. Semua akan dikembangkan berdasarkan potensi masing-masing wilayah. Maka, lapangan kerja akan selalu ada setiap saat. Dengan demikian, seluruh rakyat, terutama laki-laki yang memiliki kewajiban nafkah, dapat dengan mudah memperoleh pekerjaan.
Dengan sistem seperti ini, maka akan terjadi kecocokan antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Jumlah lulusan akan selalu tertampung oleh lapangan kerja, sehingga seluruh sarjana dapat dengan mudah memperoleh pekerjaan setelah lulus.
Dengan begitu, seluruh rakyat dapat mencapai derajat sejahtera dan pendidikan dapat terjaga kewibawaannya. Semua ini dapat terjadi ketika mindset pemimpin adalah takwa. Sehingga ia akan menjalankan amanah kepemimpinannya dengan baik sebagai pelayan umat yang selalu berusaha taat pada syariat. Ia akan menerapkan sistem politik, ekonomi, bahkan pendidikan dengan asas islam dan tidak bergantung pada negeri lain. Ia juga takut bila kebijakan yang ia tetapkan akan menzalimi siapapun, meskipun hanya satu rakyatnya.
Wallahu A'lam bishawwab
Social Plugin