Ilustrasi Pinterest
Oleh: Eka Ummu Hamzah
(Aktifis Dakwah dan Pemerhati Publik)
MediaMuslim.my.id, Opini_ Lagi-lagi rakyat Indonesia disuguhi potret buram dunia pendidikan saat ini. Bu Syamsiah, pengajar mata pelajaran PKN di SMA Negeri Purwakarta diolok-olok oleh anak muridnya viral di jagad maya. Terlihat beberapa murid dengan bangga menunjukkan tengah kepada sang guru. Aksi mereka ini dengan bangga disebarkan di sosial media. (kompas.tv, 20 April 2026). Guru yang semestinya dihormati, harus mendapat perlakuan tidak pantas dari anak muridnya.
Sebelumnya, telah banyak kasus-kasus ketidak harmonisan antara guru dan peserta didik. Menurut data dari Jaringan Pemantau Pendidik Indonesia (JPPI) terdapat 601 kasus kekerasan di sekolah, 46% kasus guru ke siswa. Akan tetapi, insiden siswa melawan guru juga semakin marak, seringkali dipicu ketidaksopanan hingga berujung pada penganiayaan dan pengeroyokan.
Sebenernya, maraknya kasus perseteruan antara guru dan murid ini adalah sesuatu yang tidak wajar. Angka perseteruan di atas harusnya tidak terjadi. Pasalnya, lingkungan pendidikan merupakan tempat mencetak generasi cemerlang dengan ilmu pengetahuan serta didikan moral yang tinggi. Guru tidak hanya fokus mencetak akal murid, tapi juga membentuk akidah yang kuat sehingga tercetak generasi emas yang beradab. Tapi, fakta yang kita saksikan justru generasi cemas. Tawuran berdarah, pembunuhan antar pelajar, perundungan keji, hingga murid menyerang guru terus meningkat beberapa tahun belakangan ini. Satu pertanyaan besar muncul: ada apa dengan pendidikan kita?
Pendidikan Sekuler telah Gagal.
Sejak negeri ini dipimpin dengan sistem sekuler-liberal, semua sistem kehidupan termasuk sistem pendidikan dibangun atas dasar meraih kepuasan materi. Sistem pendidikan sekuler secara zhahir memang terlihat maju, dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tapi, dibalik gemerlapan teknologi dan kemajuan materi, sistem sekuler menyimpan luka yang mendalam. Generasi tumbuh dalam lingkungan yang menekankan prestasi akademik, tapi mengabaikan nilai moral dan spiritual, itulah sekuler. Generasi di kejar target nilai, namun kehilangan arah hidup. Mereka diajari berfikir kritis, tapi tidak tahu untuk apa berfikir. Nilai yang dikejar untuk meraih materi dan menjadi budak korporasi.
Semakin hari, semakin terlihat jelas jika pendidikan telah dijadikan alat produksi kapitalisme, bukan sarana pendidikan jiwa. Tanpa pijakan akidah yang kokoh, generasi muda terombang ambing dalam arus relativisme. Pendidikan tidak lagi hadir sebagai tempat mencari makna kehidupan, mereka justru mencarinya di tempat lain, seperti media sosial, tempat tongkrongan, geng motor dan lain-lain. Inilah kegagalan pendidikan sekuler. Membentuk generasi cerdas tapi hampa, bebas tapi kehilangan arah, tahu segalanya tapi nihil nilai-nilai moral dan spiritual.
Islam Menjaga Generasi.
Pendidikan sekuler Barat telah terbukti gagal dalam menjaga generasi. Semakin hari, semakin nampak rusaknya moral generasi. Ini bukan hanya persoalan lokal, tapi ini adalah personal global. Krisis moral dan akhlak terjadi di mana-mana, kenyataan pahit ini tidak bisa kita hindari. Maka, sudah saatnya kita kembali kepada sistem yang mencetak generasi emas.
Islam memandang anak adalah amanah yang agung. Islam tidak membiarkan anak tumbuh tanpa kendali. Ada tanggung jawab besar harus dimiliki oleh keluarga, masyarakat dan negara untuk memastikan anak-anak atau generasi tumbuh dalam nuansa yang kondusif bagi keimanan dan akhlak mulia.
Dalam Islam, keluarga adalah fondasi utama dama membentuk generasi. Orang tua bukan sekedar pencari nafkah, tapi ia adalah pendidikan sejati. Ayah sebagai qawwam (pemimpin rumah tangga) yaang bertanggung jawab atas pembinaan iman dan akhlak anak-anaknya. Sedangkan ibu sebagai madrasatul ula (sekolah pertama) dalam menanamkan nilai-nilai Islam sejak usia dini. Rasulullah saw bersabda: "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi." ( HR. Bukhari dan Muslim).
Selain keluarga, mendidik generasi juga merupakan tanggung jawab besar masyarakat. Dalam Islam, masyarakat bukan sekedar kumpulan individu, melainkan wadah yang saling beramar ma'ruf nahi munkar. Konsep amar ma'ruf nahi munkar ini, memastikan bahwa masyarakat tidak membiarkan penyimpangan moral merajalela. Bila seorang remaja, masyarakat berkewajiban menasihati, bukan sekedar mencela. Bila remaja terjebak dalam pergaulan bebas, lingkungan mesti sekitar hadir sebagai pelindung, bukan sebagai penghakim.
Islam juga melarang segala bentuk hiburan dan tontonan yang merusak moral. Maka, disinilah peran sentral negara. Negara adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas pendidikan generasi. Negara bertugas menyaring informasi dan memastikan bahwa media menjadi sarana dakwah dan pendidikan, bukan alat penghancur moral generasi. Negara wajib menyediakan sistem pendidikan yang membentuk kepribadian Islam den mengembangkan potensi anak, juga berkewajiban menyediakan guru yang kompeten dengan fasilitas yang modern, dan lingkungan sosial yang sehat. Sistem pendidikan Islam adalah sistem pendidikan yang khas. Tidak hanya sekedar mencerdaskan otak tapi juga membentuk kepribadian Islam (syakhsiyah Islam). Tujuan pendidikan dalam Islam bukan lah sekedar Agara anak pintar dan sukses secara materi, tapi agar ia menjadi hamba Allah yang taat dan khalifah yang amanah.
Inilah mengapa negara harus mengganti sistem yang gagal ini dengan sistem yang sempurna yakni syari'at Islam, agar sistem pendidikan berlangsung secara benar dengan melibatkan semua elemen. Atmosfer ketaatan kepada Allah SWT akan hadir jika semuanya bertakwa. Sebagai sistem hidup yang menyeluruh, Islam membangun generasi dengan pondasi keimanan, membimbing keluarga dengan syariat, menata masyarakat dengan amar ma'ruf nahi munkar, dan menyelenggarakan pendidikan yang menyeluruh dalam naungan negara yang bertakwa.
Wallahu a'lam.
Social Plugin