Ilustrasi Pinterest
Oleh ; Pina Purnama S.,km
MediaMuslim.my.id, Opini_ Rusia mengungkap agenda lain dari perang Amerika Serikat(AS) dan Israel terhadap Iran. Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan agenda tersembunyi itu adalah untuk mencegah normalisasi hubungan Teheran dengan negara-negara Arab Teluk.
Menurutnya, kampanye militer gabungan Washington dan Tel Aviv tersebut dimaksudkan untuk mendorong negara-negara Arab lebih dekat ke Israel dan menekan mereka untuk meninggalkan dukungan bagi Palestina.
Iran menanggapi serangan udara AS-Israel yang diluncurkan pada 28 Februari dengan menargetkan pangkalan-pangkalan militer Amerika di negara-negara Teluk, bersama dengan infrastruktur energi dan pelabuhan yang terkait dengan operasi AS.
Lavrov mengutuk serangan terhadap Iran sebagai agresi "tanpa provokasi" dan menggambarkan respons Teheran sebagai tindakan membela diri. “Saya tidak ragu bahwa ketika rencana untuk memicu agresi terhadap Iran sedang disusun, salah satu tujuannya adalah untuk mencegah normalisasi hubungan antara Iran dan negara-negara Arab,” kata Lavrov, seperti dikutip dari Russia Today, (sindonews.com 14/5/2026)
Krisis pasokan energi global semakin dalam setelah penutupan Selat Hormuz yang berlangsung hampir 70 hari memicu kekurangan pasokan minyak dunia lebih dari 1 miliar barel. Gangguan distribusi di jalur pelayaran strategis tersebut mulai menekan cadangan energi, pertumbuhan ekonomi, hingga stabilitas harga pangan di berbagai negara berkembang.
Menurut Chen, sebelum konflik terjadi sekitar 20 juta barel minyak per hari atau hampir seperlima pasokan global melintasi Selat Hormuz. Penutupan jalur tersebut dipicu serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang kemudian mengganggu distribusi minyak dunia selama lebih dari dua bulan terakhir. Dampak krisis mulai dirasakan negara-negara Asia, Afrika, dan Timur Tengah yang kini menghadapi penurunan cadangan energi secara drastis. Menteri Perminyakan Pakistan Ali Pervaiz Malik menyebut negaranya hanya memiliki cadangan minyak mentah untuk lima hingga tujuh hari, tanpa cadangan strategis nasional.
Dengan Selat Hormuz tertutup selama sekitar 70 hari, akumulasi kekurangan pasokan kini telah melampaui satu miliar barel," kata Chen Chien-Ming, akademisi kebijakan energi dari Nanyang Technological University Singapura dikutip Eurasia Review, (Sindonews.com/13/5/2026).
Konstelasi internasional pada kuartal pertama tahun 2026 menunjukkan peningkatan suhu politik yang sangat tajam antara Republik Islam Iran dan Amerika Serikat (AS). Situasi di Selat Hormuz dan meja negosiasi nuklir menjadi titik krusial yang mengancam stabilitas dunia.
Penyebab Ketegangan dan Pemicu Perang
Berdasarkan data terkini, penyebab utama eskalasi ini adalah sikap keras dalam diplomasi nuklir. Presiden Iran, Pezeshkian, secara terbuka menyatakan bahwa negaranya tidak akan tunduk pada tekanan Amerika dalam pembicaraan nuklir. Ketegangan ini diperparah dengan aksi militer di wilayah strategis; Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) tercatat telah menembakkan rudal Sayyad-3G di Selat Hormuz sebagai unjuk kekuatan.
Secara mendalam, akar masalah ini terletak pada ambisi hegemonik Amerika yang memandang dunia sebagai ladang milik mereka dan ingin memastikan dominasi atas sumber daya energi di Timur Tengah. AS terus menggunakan strategi "stick and carrot" serta ancaman militer untuk menundukkan negara-negara Muslim di bawah kendali politik dan ekonominya.
Dampak Perang terhadap Dunia
Ancaman perang terbuka antara Amerika dan Iran diprediksi akan membawa dampak sistemik antara lain:
Gejolak Ekonomi Global: Perang di kawasan Teluk akan memicu lonjakan harga minyak dunia yang drastis, mengingat Selat Hormuz adalah jalur vital perdagangan energi.
Instabilitas Keamanan: Konflik ini dapat menyeret negara-negara adidaya lainnya ke dalam pusaran persaingan, yang berisiko menciptakan krisis keamanan internasional yang luas.
Krisis Pengungsi: Sejarah menunjukkan bahwa intervensi militer di wilayah Islam selalu berakhir dengan penderitaan manusia dan gelombang pengungsian besar-besaran.
Dampak terhadap Kehidupan Islam
Secara khusus, kehidupan umat Islam menjadi sasaran serangan yang lebih sistematis:
Serangan Ideologis: Konflik militer sering digunakan AS sebagai dalih untuk menyerang pemikiran Islam melalui label "terorisme" atau "ekstremisme "
Intervensi Tsaqafah: Penjajah Barat berusaha menyusupkan peradaban materialistis dan kurikulum pendidikan yang menjauhkan generasi Muslim dari akidahnya.
Pelemahan Posisi Tawar: Melalui skema diplomasi seperti Board of Peace, terdapat kekhawatiran adanya upaya memandulkan potensi jihad umat Islam dengan kedok perdamaian yang semu.
Analisis Politik ke Depan
AS di bawah pemerintahan yang cenderung unilateral akan terus mengabaikan legitimasi internasional (PBB) jika kepentingan nasionalnya terancam. Mereka akan berusaha mengamankan pangkalan militer di berbagai titik strategis demi membendung pengaruh rival regionalnya. Sementara itu, ketergantungan para penguasa di negeri-negeri Muslim terhadap Barat menjadikan posisi umat Islam semakin rentan.
Solusi Islam
Umat Islam harus meningkatkan kesadaran politik dengan memahami manuver-manuver jahat penjajah agar tidak terjebak dalam persekongkolan yang merugikan. Diperlukan peran mediator internasional yang jujur seperti upaya Indonesia melalui jalur diplomasi formal untuk mencegah pertumpahan darah lebih lanjut.
Selain itu, segala bentuk permintaan bantuan kepada kekuatan asing (Barat) harus dihentikan karena merupakan bentuk pengkhianatan terhadap umat
Pertama Kedaulatan Syariat : Khilafah akan menerapkan hukum Islam secara menyeluruh, sehingga kedaulatan kembali ke tangan hukum Tuhan, bukan kehendak penjajah.
Larangan cenderung kepada orang zhalim
Sebagaimana dalam Firman Allah
" Janganlah kalian cenderung kepada orang orang yang zhalim sehingga kalian disentuh api neraka (QS Hud [11] ; 113)
Serta pada fakta nya dampak dari peperangan ini menumpahkan darah kaum muslim yang tidak bersalah dalam Islam hukum nya haram sebagaimana firman Allah SWT :
" Janganlah kalian membunuh jiwa yang telah Allah haramkan (untuk dibunuh) kecuali karena alasan yang benar (QS al-isra [17] ; 33)
Kedua Kemandirian Ekonomi: Dengan menerapkan kembali sistem mata uang emas dan perak, dunia Islam dapat melepaskan diri dari hegemoni dolar AS dan menstabilkan ekonomi global secara alami.
Ketiga Pasukan Pelindung: Khilafah akan membentuk pasukan militer yang tangguh dan industri persenjataan mandiri (industri berat) untuk menggentarkan musuh Allah dan melindungi kehormatan umat.
Keempat Penyatuan Umat: Khilafah akan melebur berbagai bangsa Muslim menjadi satu umat yang solid, menghapuskan batas-batas nasionalisme semu warisan penjajah yang selama ini memecah belah kekuatan Islam.
Hanya dengan tegaknya institusi politik Islam dalam bingkai khilafah alaminhajinubuwah inilah, keadilan dapat dirasakan oleh seluruh alam rahmatan lil alamin dan dominasi imperialisme di atas muka bumi dapat dilenyapkan secara tuntas.
Wallahualambishawab.
Social Plugin