Hari Kartini dan Realita Perempuan Hari ini


Ilustrasi Pinterest
Oleh : Kiasatina Izzati Pertiwi 

MediaMuslim.my.id, Opini_ Ketua Yayasan Al-Muhajirin, Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd., mengucapkan Selamat Hari Kartini 2026. Beliau menyampaikan bahwa semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini telah mengangkat peran strategis perempuan dalam pembangunan bangsa dan tetap relevan di tengah dinamika zaman saat ini. (almuhajirin.co.id 21/04/26)

Peringatan Hari Kartini setiap tahun selalu dipenuhi narasi tentang “perempuan hebat”, “perempuan harus mandiri”, dan “perempuan harus berdaya”. Namun di balik slogan-slogan itu, banyak perempuan justru semakin lelah, kehilangan arah, bahkan kehilangan kemuliaannya. Perempuan didorong keluar rumah untuk terus produktif, dituntut sukses secara materi, cantik secara fisik, aktif di media sosial, tetapi pada saat yang sama tetap harus sempurna dalam rumah tangga. Standar ini perlahan menjadikan perempuan hidup dalam tekanan yang tidak ada habisnya.

Hari ini perempuan sering dipuji atas nama emansipasi, tetapi di saat yang sama tubuh dan kehidupannya justru menjadi objek eksploitasi. Dunia kerja memanfaatkan tenaga perempuan murah, industri kecantikan menjadikan insecurity sebagai ladang bisnis, media sosial menjadikan perempuan komoditas konten, bahkan standar “perempuan sukses” diukur dari seberapa tinggi jabatan dan penghasilannya. Akhirnya banyak perempuan merasa tidak berharga ketika hanya menjadi ibu rumah tangga, padahal Islam justru memuliakan peran tersebut.

Fakta menunjukkan bahwa perempuan modern justru menghadapi semakin banyak masalah. Kekerasan terhadap perempuan terus meningkat, pelecehan seksual marak, kesehatan mental perempuan memburuk, dan banyak ibu mengalami kelelahan fisik maupun mental akibat beban ganda. Di tengah narasi kebebasan, perempuan ternyata tetap menjadi pihak yang paling sering dikorbankan oleh sistem kehidupan hari ini. Mereka dipaksa menjadi “kuat” karena sistem tidak memberi rasa aman dan perlindungan yang layak.

Dalam sistem sekuler-kapitalisme, perempuan dipandang berdasarkan nilai manfaat dan produktivitas ekonomi. Selama perempuan menghasilkan keuntungan, maka ia dianggap berharga. Karena itu perempuan terus didorong menjadi tenaga kerja, pasar industri, objek hiburan, sekaligus target konsumsi. Bahkan kecantikan perempuan pun dijadikan alat bisnis. Tidak heran jika perempuan hari ini semakin mudah merasa insecure, membandingkan diri, dan kehilangan rasa syukur terhadap dirinya sendiri.

Padahal Islam memandang perempuan dengan cara yang sangat berbeda. Islam tidak menilai perempuan dari standar materi, fisik, atau popularitas, tetapi dari ketakwaannya. Islam tidak pernah menjadikan perempuan sekadar alat produksi ekonomi ataupun objek hiburan. Perempuan dimuliakan sebagai hamba Allah, pendidik generasi, penjaga kehormatan, dan bagian penting dalam membangun peradaban Islam.

Kartini sering dijadikan simbol perjuangan perempuan. Namun perjuangan perempuan sejatinya bukan sekadar soal kebebasan bekerja atau kebebasan menentukan hidup tanpa batas. Perjuangan terbesar perempuan adalah bagaimana tetap menjaga kehormatan, keimanan, dan fitrahnya di tengah sistem yang terus menarik perempuan menjauh dari nilai-nilai Islam. Karena perempuan yang kehilangan arah hidup demi mengejar validasi dunia hanya akan berakhir dalam kelelahan yang panjang.

Islam menghadirkan sosok perempuan mulia yang jauh lebih kuat daripada sekadar simbol emansipasi modern. Khadijah ra. adalah pebisnis sukses tetapi tetap menjadikan keimanan dan dakwah sebagai prioritas hidupnya. Fatimah ra. hidup sederhana tetapi menjadi wanita penghulu surga. Aisyah ra. menjadi ulama besar yang ilmunya menjadi rujukan umat. Mereka aktif, cerdas, dan berkontribusi bagi masyarakat tanpa kehilangan kehormatan dan fitrah kewanitaannya.

Karena itu solusi Islam terhadap problem perempuan bukan sekadar slogan pemberdayaan, tetapi perubahan cara pandang hidup secara menyeluruh. Islam mengajarkan bahwa kemuliaan perempuan tidak bergantung pada pengakuan manusia, karier, atau penampilan, tetapi pada kedekatannya kepada Allah. Perempuan tidak harus menjadi seperti laki-laki untuk dianggap hebat. Islam justru memuliakan perempuan sesuai fitrahnya.

Secara individu, perempuan muslim harus kembali memahami identitas dirinya sebagai hamba Allah, bukan budak standar sosial dan media. Perempuan perlu menyadari bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh jumlah followers, bentuk tubuh, usia, status pekerjaan, ataupun validasi manusia. Ketika iman menjadi pusat kehidupan, perempuan tidak akan mudah hancur hanya karena standar dunia.

Dalam keluarga, Islam menetapkan laki-laki sebagai pemimpin dan penanggung jawab nafkah agar perempuan tidak dipaksa memikul seluruh beban kehidupan sendirian. Islam juga menjadikan ibu sebagai madrasah pertama bagi generasi. Ini bukan bentuk merendahkan perempuan, tetapi bentuk pemuliaan terhadap peran besar perempuan dalam membangun peradaban.

Sementara secara politik dan sistem, negara dalam Islam wajib melindungi kehormatan perempuan, menyediakan pendidikan berbasis akidah, menjaga media dari eksploitasi tubuh perempuan, serta menciptakan lingkungan yang aman bagi perempuan. Negara tidak boleh membiarkan kapitalisme menjadikan perempuan sekadar mesin ekonomi dan objek pasar. Ketika aturan Islam diterapkan secara menyeluruh, perempuan tidak perlu memilih antara kehormatan atau kehidupan, karena keduanya akan terjaga bersama.

Hari Kartini seharusnya tidak hanya menjadi perayaan simbolik tentang kebebasan perempuan, tetapi momentum untuk bertanya: apakah perempuan hari ini benar-benar dimuliakan, atau justru semakin dieksploitasi atas nama kebebasan? Sebab perempuan tidak diciptakan untuk menjadi komoditas dunia, melainkan untuk menjadi mulia dengan Islam.