Ilustrasi Pinterest
Oleh : Ummu Zeyn
MediaMuslim.my.id,.Opini_ Hari pendidikan nasional (Hardiknas) setiap 2 Mei selalu diperingati setiap tahun dengan sejumlah rangkaian seremonial. Pidato normatif, dan retorika tentang masa depan generasi bangsa.
Namun, nyatanya fakta menunjukkan pendidikan kita semakin buram dan memprihatinkan.
Kejahatan dan pelecehan seksual di lingkungan institusi pendidikan semakin meningkat, degradasi moral kian tinggi, kecurangan dalam ujian semakin merebak, pengedar narkoba dikalangan peserta didik semakin melambung, siswa yang berani melawan guru semakin banyak ditemukan, dan banyak lagi problem yang terjadi di dunia pendidikan yang membuatnya semakin buram dan memprihatinkan.
Lalu, dimana letak kekurangan pendidikan kita sehingga hal-hal yang seperti ini bisa terjadi?
Reduksi Makna Pendidikan Dalam Sistem Sekularisme
Pendidikan saat ini menunjukkan kecenderungan reduksionistik. Pendidikan diposisikan sebagai instrumen ekonomi—menghasilkan sumber daya manusia yang “siap pakai” untuk memenuhi kebutuhan industri. Kurikulum disusun berdasarkan kebutuhan pasar, bukan kebutuhan pembentukan manusia sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi.
Paradigma sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan telah menjadikan pendidikan kehilangan ruhnya. Nilai-nilai moral dan spiritual seringkali hanya menjadi pelengkap, bukan fondasi. Akibatnya, lahirlah generasi yang cerdas secara intelektual, namun rapuh secara moral; kompeten secara profesional, tetapi miskin integritas.
Fenomena korupsi yang melibatkan individu berpendidikan tinggi, krisis etika di kalangan elit, hingga degradasi moral di kalangan generasi muda menjadi indikator bahwa sistem pendidikan belum sepenuhnya berhasil mendidik dalam makna yang hakiki.
Pendidikan Dalam Islam : Membangun Manusia Paripurna
Dalam perspektif Islam, pendidikan (tarbiyah) tidak hanya sekedar transfer ilmu pengetahuan (ta'lim), melainkan proses pembentukan kepribadian (syakhsiyah) yang utuh _ yakni intergrasi antara pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) yang berlandaskan akidah Islam. Dengan demikian, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik atau kompetensi teknis, melainkan dari terbentuknya manusia yang beriman, berilmu dan beramal sesuai syariat.
Dalam sejarah peradaban Islam, pendidikan tidak pernah dipisahkan dari akidah. Ilmu pengetahuan berkembang pesat justru karena didorong oleh keimanan. Para ilmuwan Muslim seperti Ibnu Sina, Al-Khwarizmi, dan Al-Ghazali bukan hanya pakar di bidangnya, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan integritas moral yang tinggi.
Model pendidikan Islam menempatkan akidah sebagai asas kurikulum. Seluruh disiplin ilmu—baik sains, teknologi, maupun humaniora—diajarkan dalam kerangka tauhid, sehingga menghasilkan cara pandang yang holistik dan terintegrasi.
Reorientasi Sistem Pendidikan: dari Kapitalistik ke Islami
Refleksi Hardiknas semestinya menjadi momentum untuk melakukan reorientasi fundamental terhadap sistem pendidikan. Selama pendidikan masih berada dalam kerangka kapitalistik dan sekuler, maka tujuan hakikinya akan sulit tercapai.
Diperlukan perubahan paradigma menuju sistem pendidikan berbasis ideologi Islam, yang menjadikan akidah sebagai landasan, syariat sebagai standar, dan ridha Allah sebagai tujuan akhir. Negara dalam hal ini memiliki peran sentral sebagai penyelenggara pendidikan yang tidak tunduk pada kepentingan pasar, melainkan bertanggung jawab membentuk generasi yang berkualitas secara iman, ilmu, dan amal.
Hardiknas seharusnya tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi titik tolak perubahan menuju sistem pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membimbing manusia menuju tujuan penciptaannya.
Wallahu A'lam BI Ash-Shawwab
Social Plugin