Gerakan 'No Kings' Meluas : Kapitalisme di Titik Nadir

 

Sumber : iStock/Jorge Villalba

Penulis : Rini Ummu Husna


MediaMuslim.my.id, OPINI - Aksi unjuk rasa bertajuk 'No Kings' kembali mengguncang Amerika Serikat (AS) dengan skala yang kian meluas. Dalam putaran ketiga, lebih dari 3.200 aksi digelar di 50 negara bagian dengan jumlah massa mencapai 9 juta orang. Ini menandai peningkatan signifikan partisipasi, termasuk dari komunitas kecil diluar kota besar. Melansir Reuters, demonstran besar tercatat di New York, Dallas, Philadelphia, hingga Washington.

Gerakan 'No Kings' yang meledak di berbagai kota besar di Amerika bukan sekedar unjuk rasa biasa. Slogan yang diteriakkan massa menjadi penanda retaknya narasi besar kapitalisme : American Dream. Rakyat America meneriakkan berbagai bentuk tuntutan yang menurut mereka Trump telah gagal dalam menjalankan tugasnya sebagai Presiden Negara Demokrasi hari ini. Adanya ketimpangan ekonomi 1% versus 99% di AS menunjukkan banyaknya muncul 'raja-raja baru' yang menguasai sektor vital perekonomian, yang mana hal ini memantik amarah rakyat AS yang saat ini bergelut dengan biaya hidup yang naik pesat.

Belum lagi kini utang nasional AS yang per April 2026 telah mencapai $38.986 triliun, naik lebih dari 2 kali lipat dalam satu dekade. Beban ini setara $300.000 per rumah tangga dan terus tumbuh $10.000 per rumah tangga per tahun. Bunga yang dibayar AS sekarang rata-rata 3.382%, naik dari 1.583% lima tahun lalu. Artinya 1 dari 7 dolar pajak warga AS hanya untuk membayar bunga, belum pokok utangnya. Hal ini memicu dampak lain dimana inflasi sedang dalam posisi kritis, homeless crisis pun tak terbendung, banyak penduduk AS tak mampu memiliki tempat tinggal, bahkan untuk pelunasan utang kuliah mereka. Biaya hidup meningkat drastis, biaya kesehatan semakin sulit dijangkau sehingga banyaknya dari rakyat AS mengalami depresi akut akibat sulitnya hidup di Amerika saat ini.

Sejatinya 'No Kings' hadir sebagai jeritan kolektif bahwa sistem yang dulu dijanjikan membebaskan justru melahirkan kasta baru : segelintir elite korporasi yang mengatur hajat hidup orang banyak. Di titik inilah, kapitalisme kehilangan legitimasi moralnya.

Jika dibedah lebih dalam , kemarahan massa 'No Kings' sejatinya menyasar pada tiga titik nadir kapitalisme kontemporer. Pertama, ketimpangan ekonomi ekstrem dimana 1% populasi menguasai lebih dari sepertiga kekayaan nasional. Kedua, komodifikasi kebutuhan dasar seperti kesehatan, pendidikan, dan tempat tinggal yang membuat rakyat kecil terlilit hutang seumur hidup. Ketiga, oligarki politik yang membuat kebijakan publik tunduk pada lobi korporasi, bukan suara rakyat. Ketiga dimensi ini saling menguatkan dan menciptakan lingkaran setan yang mustahil diputus dari dalam sistem kapitalisme itu sendiri .

Protes kali ini tidak hanya menolak oligarki ekonomi, tapi juga oligarki perang. Ketika 61% rakyat AS menolak keterlibatan di Iran dan jutaan turun ke jalan dalam protes terbesar sepanjang sejarah, ini membuktikan tesis Charles Tilly, sistem politik gagal menyalurkan aspirasi damai rakyatnya. Perang Iran menjadi simbol bahwa 'raja-raja' di Washington lebih tunduk pada lobi asing dan industri militer dibanding suara 99% warga yang menderita akibat inflasi dan harga bensin.

Bahkan David Harvey menyebut accumulation by dispossession sebagai jantung kapitalisme neoliberal. Ketika keuntungan dari produksi riil macet, modal mencari 'ruang rampasan' baru: utang publik, perang, dan privatisasi layanan dasar.

Islam Rahmatan Lil'alaminn sebagai Jawaban

Gerakan 'No Kings' yang menggema di Amerika Serikat menjadi penanda nyata bahwa kapitalisme telah berada di titik nadirnya. Retaknya American Dream, ketimpangan ekstrem, dan kekosongan spiritual yang disuarakan massa menunjukkan bahwa sistem kapitalisme tidak hanya gagal menyejahterakan, tapi juga gagal memanusiakan manusia.

Maka, spirit 'No Kings' pada hakikatnya adalah penolakan terhadap penghambaan manusia kepada manusia lain. Kapitalisme telah melahirkan 'raja-raja baru' dalam wujud CEO, konglomerat, dan elite politik yang menentukan nasib jutaan orang. Islam datang dengan konsep tauhid La Ilaha illallah yang secara tegas meruntuhkan segala bentuk pen-Tuhanan selain Allah. Dalam kerangka tauhid, tidak ada manusia yang boleh mengklaim kedaulatan mutlak atas manusia lainnya. Prinsip inilah yang menjadi pondasi ideologis Islam untuk memutus mata rantai oligarki.

Jika kapitalisme gagal karena terlalu bebas dan Sosialisme gagal karena terlalu mengekang, maka Islam menawarkan solusi yang khas. Ekonomi Islam mengakui kepemilikan individu, tapi melarang penumpukan harta yang menzalimi orang lain melalui riba, monopoli, dan spekulasi. Zakat, infak, dan larangan kanz atau penimbunan harta menjadi mekanisme distribusi otomatis agar kekayaan tidak hanya berputar dikalangan kaya saja. Sebagaimana dalam surah Al-Hasyr ayat 7:

"(Demikian) agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.

Sementara Baitul Mal berfungsi sebagai institusi negara yang menjamin kebutuhan dasar rakyat: pangan, sandang, papan, pendidikan dan kesehatan. Inilah tawaran konkret Islam untuk menjawab tiga dimensi kebobrokan yang diteriakkan gerakan 'No Kings'.

Maka, istilah Islam Rahmatan lil 'alamin bukan hanya slogan. Istilah ini sering disempitkan hanya menjadi ceramah tentang akhlak pribadi. Padahal secara historis, ketika Islam diterapkan sebagai sistem, ia terbukti menjadi Rahmat nyata bagi seluruh dunia. Dibawah naungan Khilafah Islam, Yahudi dan Nasrani dilindungi, ilmu pengetahuan berkembang pesat di Baghdad dan Cordoba, dan tingkat kemiskinan dapat ditekan lewat sistem jaminan sosial Baitul Mal.

Spirit 'No Kings' yang mendambakan dunia tanpa penindasan justru menemukan bentuk sempurnanya dalam sistem Islam. Pemimpin adalah pelayan rakyat, bukan raja. Karena itu, kebangkitan Islam hari ini bukan untuk mengulang sejarah, tapi menghadirkan kembali prinsip Rahmat yang sama untuk menjawab krisis peradaban modern. 

Wallahu'alam bishawab



Editor : Vindy Maramis


Disclaimer:

Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab MediaMuslim.