Ilustrasi Pinterest
Oleh : Windy Febrianti
MediaMuslim.my.id, Opini_ Agresi Zionis terhadap Gaza kembali menunjukkan wajah asli penjajahan yang tidak mengenal batas hukum maupun kemanusiaan. Dunia internasional kembali dibuat geram setelah kapal-kapal pembawa bantuan kemanusiaan menuju Gaza dicegat dan disita di perairan internasional dekat Yunani. Ratusan aktivis kemanusiaan ditangkap, puluhan lainnya terluka, hanya karena berusaha menyalurkan bantuan bagi rakyat Gaza yang selama bertahun-tahun hidup di bawah blokade dan bombardir brutal.
Peristiwa ini semakin menegaskan bahwa penderitaan Gaza bukan sekadar konflik biasa, melainkan penjajahan sistematis yang terus dipelihara. Zionis berulang kali menggunakan label “teroris” untuk membungkam solidaritas terhadap Palestina. Tuduhan tersebut dijadikan legitimasi untuk menyerang siapa saja yang berdiri bersama rakyat Gaza, termasuk relawan kemanusiaan dan jurnalis.
Fakta bahwa hampir 300 jurnalis terbunuh sejak agresi dimulai pada Oktober 2023 menunjukkan bagaimana penjajah berusaha membungkam kebenaran. Gaza bukan hanya dihancurkan secara fisik, tetapi juga diisolasi agar dunia tidak melihat kejahatan yang terjadi di sana. Infrastruktur sipil luluh lantak, ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal, dan puluhan ribu nyawa melayang tanpa perlindungan nyata dari dunia internasional.
Ironisnya, negeri-negeri Muslim yang memiliki kekuatan militer dan sumber daya besar justru hanya sebatas mengeluarkan kecaman diplomatik. Tidak ada armada laut yang dikirim untuk melindungi kapal bantuan kemanusiaan. Tidak ada langkah nyata untuk menghentikan blokade dan agresi. Hal ini menunjukkan bahwa sistem negara-bangsa hari ini tidak mampu menjadi pelindung umat Islam secara hakiki.
Akar persoalannya terletak pada tidak adanya kepemimpinan umat Islam yang bersatu di bawah sistem Islam. Negeri-negeri Muslim tercerai-berai oleh batas nasionalisme sehingga mudah didikte kekuatan Barat dan tidak memiliki keberanian politik untuk melindungi Palestina secara nyata. Akibatnya, Gaza terus menjadi sasaran penjajahan dan kekerasan tanpa adanya perisai yang benar-benar melindungi kaum Muslimin.
Padahal, Gaza adalah bagian dari tanah kaum Muslimin yang wajib dijaga dan dibela. Membiarkan blokade dan pembantaian terus berlangsung tanpa upaya serius merupakan kemungkaran besar. Umat Islam tidak boleh berhenti hanya pada rasa sedih, doa, atau kecaman semata, tetapi harus membangun kesadaran politik Islam bahwa umat membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjadi junnah (perisai) bagi kaum Muslimin.
Dalam Islam, kepemimpinan Islam memiliki fungsi melindungi darah, kehormatan, dan wilayah kaum Muslimin dari penjajahan. Karena itu, perjuangan menegakkan kembali kepemimpinan Islam yang menerapkan syariat secara menyeluruh dipandang sebagai jalan penting untuk menyatukan kekuatan umat dan menghentikan dominasi penjajah atas negeri-negeri Muslim.
Kemarahan umat atas tragedi Gaza semestinya diarahkan menjadi energi perjuangan yang lebih mendasar, yakni membangun kesadaran umat untuk kembali kepada Islam secara kaffah dan melanjutkan dakwah perjuangan Rasulullah ﷺ dalam membangun kepemimpinan Islam yang menjadi pelindung umat. Sebab selama umat tidak memiliki perisai yang melindungi mereka, tragedi demi tragedi akan terus berulang di Palestina dan negeri-negeri Muslim lainnya.
Social Plugin