Dehumanisasi Palestina, Ketika Manusia Tak Lagi Dianggap Manusia


Oleh: Widhy Lutfiah Marha 
Pendidik Generasi 

MediaMuslim.my.id, Opini_ Tangis seorang ibu di Gaza hari ini bukan lagi sekadar tangis kehilangan. Ia adalah jeritan panjang dari dunia yang gagal menjaga nuraninya sendiri. Di tanah yang sempit dan terus dihujani bom itu, anak-anak tidak hanya kehilangan rumah, tetapi juga masa depan. Banyak dari mereka kehilangan tangan, kaki, bahkan seluruh keluarganya dalam hitungan detik. Yang hidup diburu, yang mati pun tidak diberi ketenangan. Jenazah dibongkar dari kuburnya sendiri, dipindahkan, dihinakan, seolah rakyat Palestina bahkan tidak diberi hak untuk beristirahat setelah kematian.

Inilah wajah paling mengerikan dari dehumanisasi, ketika suatu bangsa tidak lagi dipandang sebagai manusia yang memiliki hak hidup, kehormatan, dan rasa aman. Palestina bukan hanya sedang menghadapi perang. Palestina sedang menghadapi upaya sistematis untuk menghapus kemanusiaannya sedikit demi sedikit.

Fakta-fakta yang muncul dari Gaza terus memperlihatkan betapa brutalnya agresi Zion*s. Wilayah pendudukan terus diperluas, bahkan serangan baru terus disiapkan untuk memperbesar penguasaan atas tanah Palestina.  Gaza juga berubah menjadi tempat paling mematikan bagi jurnalis. Lebih dari 300 jurnalis dilaporkan tewas sejak 7 Oktober 2023, menunjukkan bagaimana informasi dan kesaksian ingin dibungkam agar dunia tidak melihat kejahatan yang terjadi.
Korban jiwa pun terus bertambah dalam angka yang mencabik hati. (antaranews.com, 10/05/2026)

 Puluhan ribu warga meninggal dan ratusan ribu lainnya terluka akibat agresi yang terus berlangsung.  Di tengah reruntuhan bangunan dan bau mesiu, anak-anak Palestina menjadi korban paling menyayat. Banyak dari mereka harus menjalani amputasi karena luka perang yang parah.  Sementara itu, kesaksian-kesaksian dari tentara Israel sendiri mengungkap adanya instruksi brutal terhadap warga Gaza.  Semua ini menunjukkan bahwa yang terjadi bukan sekadar konflik biasa, melainkan penghancuran kemanusiaan secara sistematis.

Penjajahan yang Dipelihara 

Apa yang terjadi di Palestina tidak bisa dipahami hanya sebagai bentrokan militer biasa. Ini adalah persoalan penjajahan yang telah berlangsung panjang dan terus dipelihara oleh kekuatan global. Zion*s tidak memedulikan kesepakatan gencatan senjata dan terus menyerang Gaza demi memperluas pendudukannya. Dukungan politik, militer, dan keuangan dari Amerika Serikat membuat agresi itu terus berlangsung tanpa rasa takut terhadap hukuman internasional.

Di saat rumah sakit dihancurkan, kamp pengungsian dibombardir, dan anak-anak menjadi korban, dunia sering kali hanya mampu mengeluarkan kecaman tanpa tindakan nyata. Bahkan jurnalis yang mencoba menyiarkan fakta kepada dunia ikut menjadi target pembunuhan. Tujuannya jelas, membungkam saksi agar kejahatan tidak terlihat.

Namun akar masalah yang lebih dalam sesungguhnya adalah keberadaan entitas penjajah di tanah milik kaum muslim Palestina. Selama penjajahan itu tetap berdiri dan dilindungi kekuatan besar dunia, maka penderitaan Palestina akan terus berulang. Inilah sebabnya mengapa masalah Palestina tidak pernah selesai hanya dengan perundingan, kecaman, atau bantuan kemanusiaan sesaat.

Ironisnya, dunia Islam yang memiliki lebih dari 50 negeri justru tampak tercerai-berai. Kaum muslim dipisahkan oleh batas nasionalisme yang membuat penderitaan Palestina sering dianggap bukan urusan bersama. Padahal dahulu umat Islam memiliki ikatan akidah yang melampaui suku, bangsa, dan wilayah. Nasionalisme telah mengikis ukhuwah Islamiah dan membuat kekuatan besar umat tercerai menjadi negara-negara kecil yang bergerak sendiri-sendiri.

Akibatnya, Palestina seperti dibiarkan berjuang sendirian menghadapi kekuatan militer besar yang didukung negara-negara kuat dunia. Inilah tragedi terbesar umat Islam hari ini,  jumlah besar tanpa persatuan, potensi besar tanpa kekuatan politik yang menyatukan.

Persatuan Umat dan Pembebasan Palestina

Islam memandang kaum muslim sebagai satu tubuh. Ketika satu bagian terluka, bagian lain wajib merasakan sakit yang sama. Karena itu, pembebasan Palestina tidak cukup hanya dengan doa, kecaman, atau bantuan sementara. Palestina membutuhkan ukhuwah Islamiah hakiki yang diwujudkan dalam persatuan politik umat Islam.

Dalam sejarah Islam, persatuan itu pernah nyata hadir melalui institusi Khilafah. Selama berabad-abad, wilayah-wilayah kaum muslim berada dalam satu kepemimpinan yang menjaga kehormatan umat dan melindungi negeri-negeri Islam dari penjajahan. Ketika Perang Salib mengguncang dunia Islam, sosok seperti Shalahuddin al-Ayyubi mampu membebaskan Palestina bukan karena kekuatan individu semata, tetapi karena adanya persatuan umat dan kekuatan politik Islam yang menyatukan kaum muslim.

Kisah Shalahuddin bukan sekadar cerita heroik masa lalu. Ia adalah bukti bahwa Palestina pernah dibebaskan ketika umat Islam bersatu dalam satu visi perjuangan. Bahkan saat memasuki Yerusalem, Shalahuddin tidak membalas dendam secara brutal kepada penduduk sipil. Ini menunjukkan bahwa Islam bukan agama penjajahan, tetapi agama yang memuliakan manusia dan menjaga keadilan bahkan kepada musuh.

Karena itu, solusi yang ditawarkan Islam bukan sekadar penghentian perang sementara, melainkan penghentian akar penjajahan itu sendiri. Khilafah dipandang sebagai institusi pemersatu umat yang akan mengerahkan kekuatan kaum muslim untuk menghentikan pendudukan, melindungi rakyat Palestina, dan mengembalikan tanah Palestina kepada pemiliknya. Dalam sistem ini, negara bertanggung jawab meriayah rakyat agar dapat hidup aman, bermartabat, dan terbebas dari penjajahan.
Allah SWT berfirman:

“Dan mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak…”
(QS An-Nisa: 75)

Ayat ini menunjukkan bahwa membela kaum tertindas bukan sekadar pilihan emosional, tetapi kewajiban yang lahir dari keimanan. Palestina hari ini bukan hanya luka rakyat Gaza, melainkan luka seluruh umat Islam.

Agenda besar umat Islam hari ini bukan sekadar menyaksikan penderitaan Palestina dari layar ponsel, lalu melupakannya beberapa jam kemudian. Palestina membutuhkan perjuangan nyata, persatuan nyata, dan kepemimpinan yang benar-benar membela umat. Sebab selama dunia masih membiarkan manusia diperlakukan bukan sebagai manusia, maka tragedi seperti Gaza akan terus terulang dengan wajah yang berbeda. Wallahu 'alam bishshawab.