Telaah Terhadap Orientasi Pendidikan Saat Ini

Sumber Ilustrasi : iStock.

 

Oleh: Ade Surya Ramayani

Mediamuslim.my.id, OPINI - Wacana penghapusan jurusan kuliah yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan pasar kembali menunjukkan arah pendidikan tinggi hari ini. Pemerintah menegaskan bahwa program studi harus menyesuaikan kebutuhan industri dan target pertumbuhan ekonomi nasional. Artinya, keberadaan jurusan di kampus diukur berdasarkan kebutuhan pasar kerja.

Sebagian kampus menolak dengan alasan perguruan tinggi bukan pabrik pekerja. Sebagian lain memilih menyesuaikan kurikulum agar tetap relevan dengan kebutuhan industri. Bahkan ada yang terbuka untuk menutup, merger, atau membuka program studi baru sesuai tuntutan pasar.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pendidikan tinggi hari ini tidak lagi berdiri sebagai wadah pembentuk peradaban, tetapi perlahan diarahkan menjadi pemasok tenaga kerja bagi industri. Kampus akhirnya hanya diposisikan sebagai alat produksi SDM ekonomis.

Pendidikan dalam Sistem Kapitalisme: Ilmu Diukur dengan Nilai Pasar

Dalam sistem kapitalisme-sekuler, pendidikan tidak dibangun untuk membentuk manusia bertakwa dan berilmu demi kemaslahatan umat. Pendidikan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan kepentingan industri.

Akibatnya, jurusan yang tidak dianggap menguntungkan secara ekonomi mulai dipersoalkan keberadaannya. Ilmu tidak lagi dinilai dari manfaat strategisnya bagi kehidupan masyarakat, tetapi dari sejauh mana ia menghasilkan keuntungan materi.

Ukuran keberhasilan kampus pun berubah: bukan seberapa besar kontribusi ilmu terhadap umat, tetapi seberapa cepat lulusan terserap pasar kerja. Inilah wajah pendidikan liberal-sekuler, manusia dicetak sesuai kebutuhan industri, bukan kebutuhan umat.

Negara Lepas Tangan terhadap Kebutuhan SDM

Dalam sistem hari ini, negara tidak benar-benar bertanggung jawab membangun SDM untuk melayani rakyat. Negara hanya berperan sebagai regulator yang mengikuti arus kepentingan ekonomi, investasi, dan tekanan global.

Kebutuhan strategis umat akhirnya diserahkan kepada mekanisme pasar. Padahal rakyat membutuhkan banyak ahli:

  • ahli pendidikan
  • ahli pertanian
  • ahli kesehatan
  • ahli syariah
  • peneliti
  • ilmuwan
  • ahli energi
  • ahli militer
  • dan berbagai disiplin ilmu lainnya
Namun ketika pasar menjadi penentu arah pendidikan, maka bidang ilmu yang tidak mendatangkan keuntungan ekonomi akan dipinggirkan. Akibatnya, pendidikan kehilangan orientasi pelayanan umat.

Refleksi: Untuk Siapa Pendidikan Diselenggarakan?

Pertanyaan mendasarnya adalah: apakah pendidikan memang disiapkan untuk melayani rakyat atau hanya melayani industri?

Jika kampus hanya tunduk kepada kebutuhan pasar, maka ilmu akan terus dikomersialisasi. Perguruan tinggi akan sibuk mencetak pekerja, sementara kebutuhan strategis umat terabaikan. Padahal bangsa yang besar tidak hanya membutuhkan pekerja industri. Bangsa membutuhkan manusia berkepribadian kuat, berilmu, bertakwa, dan mampu menjaga peradaban.

Ketika pendidikan kehilangan arah ideologisnya, maka kampus akan mudah berubah menjadi alat kepentingan ekonomi global.

Islam Menempatkan Pendidikan sebagai Pilar Peradaban

Islam memiliki pandangan yang sangat berbeda terhadap pendidikan. Dalam Islam, pendidikan adalah tanggung jawab langsung negara karena negara memiliki kewajiban mengurusi urusan rakyat. Negara tidak boleh menyerahkan arah pendidikan kepada industri ataupun kepentingan asing.

Negara dalam Islam akan menentukan kebutuhan SDM berdasarkan kebutuhan umat dan pelayanan rakyat, bukan berdasarkan permintaan pasar semata. Karena itu, negara akan mencetak ulama, ilmuwan, dokter, insinyur, ahli militer, ahli pertanian, ahli teknologi, dan berbagai ahli lainnya, semua untuk kepentingan umat dan kemajuan peradaban Islam.
 
 
Pendidikan Islam Tidak Berorientasi Profit

Dalam sistem Islam pendidikan bukan komoditas bisnis. Maka,kampus bukan pabrik pekerja, dan ilmu bukan alat mencari keuntungan semata. Negara bertanggung jawab penuh terhadap visi dan arah pendidikan, kurikulum, pembiayaan pendidikan, kesejahteraan tenaga pendidik, serta sarana dan prasarana pendidikan.

Dengan demikian, pendidikan dapat berjalan secara mandiri tanpa tekanan industri maupun kepentingan asing. Orientasi utamanya adalah membentuk kepribadian Islam, para ahli yang mampu melayani umat, dan generasi pembangun peradaban.

Penutup: Saatnya Mengembalikan Arah Pendidikan

Problem pendidikan hari ini bukan sekadar soal jurusan kuliah atau kurikulum. Akar masalahnya adalah ideologi yang mendasarinya.

Selama pendidikan dibangun di atas asas kapitalisme-sekuler, maka kampus akan terus diarahkan menjadi pelayan pasar. Namun ketika Islam dijadikan asas kehidupan dan negara, pendidikan akan kembali pada fungsi hakiki nya: membangun manusia bertakwa, berilmu, dan mampu memimpin peradaban dunia.


Editor : Vindy Maramis

Disclaimer:

Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab MediaMuslim.