Mediamuslim.my.id, OPINI - Wacana penghapusan jurusan kuliah yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan pasar kembali menunjukkan arah pendidikan tinggi hari ini. Pemerintah menegaskan bahwa program studi harus menyesuaikan kebutuhan industri dan target pertumbuhan ekonomi nasional. Artinya, keberadaan jurusan di kampus diukur berdasarkan kebutuhan pasar kerja.
Sebagian
kampus menolak dengan alasan perguruan tinggi bukan pabrik pekerja. Sebagian
lain memilih menyesuaikan kurikulum agar tetap relevan dengan kebutuhan
industri. Bahkan ada yang terbuka untuk menutup, merger, atau membuka program
studi baru sesuai tuntutan pasar.
Fenomena
ini menunjukkan bahwa pendidikan tinggi hari ini tidak lagi berdiri sebagai
wadah pembentuk peradaban, tetapi perlahan diarahkan menjadi pemasok tenaga
kerja bagi industri. Kampus akhirnya hanya diposisikan sebagai alat produksi
SDM ekonomis.
Pendidikan
dalam Sistem Kapitalisme: Ilmu Diukur dengan Nilai Pasar
Dalam
sistem kapitalisme-sekuler, pendidikan tidak dibangun untuk membentuk manusia
bertakwa dan berilmu demi kemaslahatan umat. Pendidikan diarahkan untuk
memenuhi kebutuhan ekonomi dan kepentingan industri.
Akibatnya,
jurusan yang tidak dianggap menguntungkan secara ekonomi mulai dipersoalkan
keberadaannya. Ilmu tidak lagi dinilai dari manfaat strategisnya bagi kehidupan
masyarakat, tetapi dari sejauh mana ia menghasilkan keuntungan materi.
Ukuran keberhasilan kampus pun berubah: bukan seberapa besar kontribusi ilmu terhadap umat, tetapi seberapa cepat lulusan terserap pasar kerja. Inilah wajah pendidikan liberal-sekuler, manusia dicetak sesuai kebutuhan industri, bukan kebutuhan umat.
Negara Lepas Tangan terhadap Kebutuhan SDM
Dalam
sistem hari ini, negara tidak benar-benar bertanggung jawab membangun SDM untuk
melayani rakyat. Negara hanya berperan sebagai regulator yang mengikuti arus
kepentingan ekonomi, investasi, dan tekanan global.
Kebutuhan strategis umat akhirnya diserahkan kepada mekanisme pasar. Padahal rakyat membutuhkan banyak ahli:
- ahli pendidikan
- ahli pertanian
- ahli kesehatan
- ahli syariah
- peneliti
- ilmuwan
- ahli energi
- ahli militer
- dan berbagai disiplin ilmu lainnya
Refleksi:
Untuk Siapa Pendidikan Diselenggarakan?
Pertanyaan mendasarnya adalah: apakah pendidikan memang
disiapkan untuk melayani rakyat atau hanya melayani industri?
Jika kampus hanya tunduk kepada kebutuhan pasar, maka ilmu akan terus dikomersialisasi. Perguruan tinggi akan sibuk mencetak pekerja, sementara kebutuhan strategis umat terabaikan. Padahal bangsa yang besar tidak hanya membutuhkan pekerja industri. Bangsa membutuhkan manusia berkepribadian kuat, berilmu, bertakwa, dan mampu menjaga peradaban.
Ketika pendidikan kehilangan arah ideologisnya, maka kampus akan mudah berubah menjadi alat kepentingan ekonomi global.
Islam
Menempatkan Pendidikan sebagai Pilar Peradaban
Islam
memiliki pandangan yang sangat berbeda terhadap pendidikan. Dalam Islam,
pendidikan adalah tanggung jawab langsung negara karena negara memiliki
kewajiban mengurusi urusan rakyat. Negara tidak boleh menyerahkan arah
pendidikan kepada industri ataupun kepentingan asing.
Negara
dalam Islam akan menentukan kebutuhan SDM berdasarkan kebutuhan umat dan
pelayanan rakyat, bukan berdasarkan permintaan pasar semata. Karena itu, negara
akan mencetak ulama, ilmuwan, dokter, insinyur, ahli militer, ahli pertanian, ahli teknologi, dan berbagai ahli lainnya, semua
untuk kepentingan umat dan kemajuan peradaban Islam.
Pendidikan
Islam Tidak Berorientasi Profit
Dalam
sistem Islam pendidikan bukan komoditas bisnis. Maka,kampus bukan pabrik pekerja, dan ilmu bukan alat mencari keuntungan semata. Negara
bertanggung jawab penuh terhadap visi dan arah pendidikan, kurikulum, pembiayaan pendidikan, kesejahteraan tenaga pendidik, serta sarana dan prasarana pendidikan.
Dengan demikian, pendidikan dapat berjalan secara mandiri tanpa tekanan industri maupun kepentingan asing. Orientasi utamanya adalah membentuk kepribadian Islam, para ahli yang mampu melayani umat, dan generasi pembangun peradaban.
Penutup:
Saatnya Mengembalikan Arah Pendidikan
Problem
pendidikan hari ini bukan sekadar soal jurusan kuliah atau kurikulum. Akar masalahnya
adalah ideologi yang mendasarinya.
Selama
pendidikan dibangun di atas asas kapitalisme-sekuler, maka kampus akan terus
diarahkan menjadi pelayan pasar. Namun ketika Islam dijadikan asas kehidupan
dan negara, pendidikan akan kembali pada fungsi hakiki nya: membangun manusia bertakwa, berilmu, dan mampu memimpin peradaban dunia.
Editor : Vindy Maramis
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab MediaMuslim.

Social Plugin