Ilustrasi Pinterest
Oleh ; Arsyila Putri
MediaMuslim.my.id, Opini_ Badan Gizi Nasional ( Bgn) memastikan program Makan Bergizi Gratis ( Mbg) tetap berjalan selama bulan Ramadan dengan skema distribusi yang disesuaikan bagi masyarakat yang menjalankan ibadah puasa. Kepala BGN Dadan Hindayana menyatakan pihaknya telah menerbitkan edaran dan melakukan sosialisasi kepada seluruh satuan pelayanan pemenuhan gizi agar pelaksanaan MBG menyesuaikan kebutuhan penerima manfaat, kearifan lokal, serta aturan yang berlaku di daerah masing-masing penyaluran MBG selama ramadan. Untuk sekolah dengan mayoritas siswa berpuasa, makanan akan dibagikan dalam bentuk menu kering tahan lama seperti telur rebus atau pindang, abon, kurma, susu, buah, serta pangan lokal yang dapat dibawa pulang sebagai takjil berbuka. Sementara sekolah dengan mayoritas siswa tidak berpuasa tetap menerima layanan MBG secara normal dengan makanan segar. Penyaluran bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita juga berlangsung normal karena termasuk kelompok rentan yang kebutuhan gizinya tidak boleh terputus. Adapun di lingkungan pesantren, jadwal distribusi digeser ke sore hari dan makanan disajikan menjelang waktu berbuka. BGN menegaskan tidak ada perubahan pada standar angka kecukupan gizi. Setiap menu tetap dirancang oleh ahli gizi untuk memenuhi sekitar sepertiga kebutuhan kalori harian penerima manfaat. Untuk menjaga kualitas makanan yang harus bertahan hingga waktu berbuka, BGN memilih menu yang telah diuji mampu bertahan hingga 12 jam sejak disiapkan di pagi hari. Evaluasi pelaksanaan tahun sebelumnya mendorong keterlibatan lebih besar pelaku usaha lokal dan UMKM dalam penyediaan menu MBG. BGN juga menyiapkan paket bundling untuk beberapa hari menjelang libur Idulfitri agar kebutuhan gizi anak tetap terpenuhi saat kegiatan sekolah libur. (tvOnes.com)
Pengamat menilai penyesuaian menu program makan bergizi gratis (MBG) menjadi makanan kering selama Ramadan berisiko menyimpang dari tujuan utama. Pengamat Pertanian dari Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Eliza Mardian menilai pemberian makanan kering kepada penerima MBG berpeluang besar tidak memenuhi kebutuhan gizi secara optimal. Untuk diketahui, sejumlah makanan kering MBG yang diberikan selama Ramadan antara lain kurma, telur rebus, telur asin atau pindang, buah, susu, hingga abon. “Lebih baik diberikan saja bahan baku masakan untuk satu minggu, karena kalau makanan kering ini peluang tidak sesuai pemenuhan gizinya besar sekali. Melenceng dari tujuan mulianya pemerintah,” kata Eliza kepada Bisnis, dikutip Senin (16/2/2026). (Ekonomi.bisnis.com
Libur ramadhan Program MBG harus terus berjalan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak. Dengan berbagai alasan seperti adanya sekolah non muslim, anak-anak perlu asupan gizi yang baik saat Ramadhan, dan tentunya program yang harus tetap berjalan. Namun seolah menjadi kewajiban anak menerima makanan bergizi tersebut walaupun ketika libur. Jika dilihat sekilas program tersebut sangatlah bagus dan pemerintah sangat mendukung pemenuhan gizi anak-anak, apalagi selama ramadhan anak-anak perlu asupan gizi yang lebih. Namun disisi lain seolah ada penyaluran MBG dibulan ramadhan ini terlihat dipaksakan dan tidak sesuai dengan tujuan awal dibentuk program MBG ini, seperti yang awalnya MBG adalah makanan siap santap dan dimasak, diganti dengan makan kering yang hanya tinggal dikemas saja, kemudian untuk penyaluran MBG sendiri yang awalnya setiap hari kini menjadi 2 atau 3 kali dalam seminggu, tujuan utama MBG ini adalah untuk anak sekolah tapi ternyata melenceng dari tujuan awal karena balita, busui, dan bumil juga termasuk dalam penerima MBG.
Sejak adanya program MBG banyak sekali realitas yang tidak sesuai dengan anggaran, seperti berita terbaru adanya SPPG yang ditutup. "Minimal ada 62 SPPG yang kami tutup sementara karena tidak sesuai di dalam memberikan menu, baik itu menu minimalis maupun menu yang kurang baik, itu yang selama Ramadan ini kita tutup dulu sementara," kata Kepala BGN Dadan Hindayana ditemui usai pertemuan dengan Kejaksaan Agung (Kejagung) di Jakarta, Selasa (17/3/2026). (Periskop.id).
Tak hanya menu yang tidak sesuai Bahakan kasus keracunan sudah sering terjadi, kasus terbaru di daerah Kudus yang menimpa siswa SMAN. "Insiden keracunan MBG menimpa ratusan siswa SMAN 2 Kudus, Jawa Tengah pada Kamis (29/1/2026). (Liputan06.com).
Berkaca dari kasus diatas seharusnya menjadi perhatian pemerintah agar memastikan kembali apakah program MBG ini akan terus berjalan ketika sudah menelan banyak korban? Meskipun tujuannya mencegah stunting tetapi realistisnya menghawatirkan maka perlu pembenahan ulang mulai dari pengolahan samapi dengan pendistribusian.
Masalah stunting tak bisa selesai hanya dengan memberi makan 1 kali sehari, namun pemenuhan gizi untuk anak agar tidak terjadi stunting haruslah berawal dari rumah. Di rumah keluarganya atau orang tualah yang paling tau tentang kondisi anaknya, maka orang tualah yang berhak dan berkewajiban memberikan sandang, pangan, dan papan untuk anak-anaknya. Dan tugas negara memastikan orang tuanya mendapatkan pekerjaan yang lebih dari kata layak agar bisa memenuhi kebutuhan gizi anak-anak.
Mengingat negeri ini kaya SDA yang melimpah, yang seharusnya diperuntukan untuk kemaslahatan rakyat bukan kemaslahatan konglomerat. Inilah kebijakan yang berpijak pada paradigma kapitalistik pasti berfokus memberikan keuntungan kepada para oligarki bukan pada kemaslahatan rakyat.
Negara dalam Islam bertanggung jawab penuh dalam pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Tugas seorang pemimpin dalam Islam adalah sebagai ra'in atau pelayanan bagi umat serta sebagai jun'nah atau pelindung.
Memberikan jaminan makanan bergizi pada anak dan keluarga tak hanya di bebankan pada penanggung nafkah saja tetapi negara juga bertanggung jawab ketika kondisi kebutuhan gizi keluarga tersebut tidak tercukupi. Mekanisme penjaminan makanan dalam syari'at Islam diatur mulai mekanisme kepala keluarga, wali, kerabat yang mampu, tetangga yang mampu dan terakhir negara melalui Baitul mal.
Tugas negara memfasilitasi keluarga terutama sang penanggung jawab nafkah yakni orang tua dengan memberikan lapangan pekerjaan atau memberikan solusi ketika mereka kesulitan dalam mencari nafkah. Tak hanya itu negara juga harus menjamin pengelolaan SDA agar hasilnya diperuntukan bagi kesejahteraan rakyat seperti pendidikan gratis, kesehatan gratis, listrik murah, BBM murah, sembako murah dll. Dan untuk menjamin kesejahteraan dari mulai individu hingga masyarakat perlu diterapkan peraturan yang akan mengatur seluruh aspek kehidupan yang sesuai standar pencipta yaitu Allah SWT bukan standar hukum buatan manusia yang terbatas. Dengan diterapkannya aturan tersebut maka setiap aktivitas yang dilakukan bertujuan untuk meraih ridho Allah SWT, karena setiap perbuatan manusia terikat dengan hukum syara. Termasuk dalam bernegara, seorang pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah yang telah diberikan. Maka solusinya adalah dengan menerapkan aturan Islam secara kaffah yang dipimpin oleh seorang Khalifah.
Wallahu a'lam bisshawab
Social Plugin