Ilustrasi Pinterest
Oleh: Julia Ummu Adiva Farras
MediaMuslim.my.id, Opini_ Anj*r seru bocah 10 tahun kepada temannya. Mereka sedang bermain balon tiup.
Kata diatas berulang terucap dari kedua tanpa ada risih, seakan biasa saja.
Ketika ditanya mereka mengucapkan kata tersebut kepada temannya, gpp kok, sudah menjadi hal yang lumrah.
Mungkin ini adalah secuil fakta yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan diluar sana masih banyak kata-kata yang tidak Ahsan melekat pada anak-anak. Terkadang mereka berkata hanya ikut-ikutan tanpa tau maksudnya. Seperti anak di range 0-5thn adalah masa-masa golden age yang seperti spons, ketika mendengar kata yang baru mereka menyerap kemudian di aplikasikan. Sungguh miris mendengarnya bahkan greget, sebagai seorang ibu ketika mendengar kata-kata yang tidak baik keluar dari lisan anak kita. Padahal Islam mengajarkan agar kita berkata yang baik (Ahsan), dalam firman Allah SWT:
"Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18).
Masyarakat tahu betul nash di atas, tapi tak sedikit terpengaruh kepada kebanyakan, itu semua karena sekulerisme kuat mencengkeram dari semua lini kehidupan bahkan membentuk kepribadian masyarakat nya demikian.
Fenomena bahasa *gaul* diatas rata-rata terucap bahkan seolah diksi anak gaul yang slow saja.
Kalau kita amati diksi-diksi lain yang kurang sopan, tidak tepat bahkan hingga merendahkan, hal ini pun ramai digandrungi dunia orang dewasa pun penguasa.
Jauh sekali dengan ajaran jujungan Kita Nabi Muhammad Saw bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad saw, sejelek-jelek perkara adalah hal-hal baru yang diada-adakan dalam agama (bid'ah), dan setiap bid'ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim).
Sangat jauh dari idealitas. Pembinaan umat harus dilakukan dengan Islam yang komprehensif. Pemikiran Islam haruslah dijadikan qiyadah Fikriyah bagi masyarakat sehingga masyarakat bisa berfikir dengan standar Alquran dan Hadis.
Pondasi pemikiran Islam inilah yang kelak melahirkan kepribadian Islam termasuk perkataan yang baik dan memutajasad ke pola sikap.
Pembinaan terus dilakukan dengan semangat untuk mengembalikan umat kepada ajaran Islam seperti yang telah dilakukan oleh generasi terbaik.
Disinilah peran strategis pengemban dakwah yang menyampaikan Islam, menuntun umat melangkah sesuai tuntunan Islam. Mereka tidak lengah sedikit pun untuk terus berupaya mengembalikan umat Islam kepada fitrah mereka, yaitu hidup dengan aturan Islam.
Wallahu a'lam bish-shawab[].
Social Plugin