Idul Fitri Tak Mengurangi Nestapa Muslim Gaza


Ilustrasi shalat Ied di Gaza (reuters)

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

Institut Literasi dan Peradaban


MediaMuslim.my.id, Opini--Hari Raya Idul Fitri juga dirayakan oleh lebih dari 2,4 juta warga Palestina di Jalur Gaza, pada Jumat, 20 Maret 2023. Perayaan itu terjadi di tengah krisis kemanusiaan yang parah, dengan pembatasan ketat Israel, kehancuran infrastruktur, serta kekurangan pangan, air bersih, dan obat-obatan.


Kantor Media Pemerintah Gaza menyatakan bahwa hari raya tahun ini berlangsung tanpa sukacita karena sebagian besar keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Lembaga tersebut mencatat, pasukan Israel telah melakukan lebih dari 2.000 pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata sejak Oktober 2025.


Pelanggaran itu berupa penembakan, serbuan darat, dan serangan udara yang telah menewaskan sedikitnya 677 warga Palestina dan melukai lebih dari 1.800 lainnya, sebagian besar warga sipil. Pengiriman bantuan kemanusiaan juga sangat terhambat. Hanya sekitar 40 persen dari jumlah truk bantuan yang diharapkan dapat masuk ke Gaza. Sementara itu, akses keluar-masuk melalui penyeberangan Rafah masih dibatasi secara ketat, memperparah isolasi warga di wilayah kantong tersebut (minanews.net, 27-3-2026).


Nestapa itu tak berkurang, hari raya yang Fitri terpaksa dirayakan warga Gaza di tengah reruntuhan gedung dan tenda darurat. Dengan gencarnya serangan AS-Israel ke Iran, melemahkan berita Gaza, seolah dunia teralihkan, tak lagi fokus menebarkan berita sekaligus opini bahwa Gaza belum pulih. Sebab, meski nestapa warga Gaza seolah tak berujung, para pemimpin negara Arab Teluk justru berkerjasama ( bersekutu) dengan AS-Israel yang notabene kafir. Kerjasama mereka adalah memerangi Iran.


Padahal jelas Allah SWT.melarang kaum muslimin berwala ( mewakilkan urusannya ) kepada kafir sebagaimana firmanNya yang artinya,” Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi auliya dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu)” (TQS. Al Imran: 28).


Hal itu disebabkan kebencian kafir kepada kaum muslim sangatlah besar. Sebagaimana firman Allah yang artinya,”...Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya...” (TQS Ali Imran: 118). Itulah mengapa, kita hari ini sedang menikmati hasil dari pelanggaran larangan perintah Allah, kita lebih tega melihat saudara seakidah sengsara dan nestapa dibandingkan melepas kerjasama dengan kafir. Bagaimana nasib BoP yang digagas untuk perdamaian, sementara Israel tak kenal kata damai, hari ini tentara kita untuk tugas perdamaian menjadi syahid karena terkena ledakan proyektil bom yang dilancarkan Israel dalam serangannya ke Lebanon. 


Idul Fitri dalam kondisi mengenaskan ini harusnya dirasakan sebagai penderitaan bagi seluruh kaum muslimin, bak satu tubuh. Sayangnya hari ini perpecahan antar muslim lebih mereka pegang atas nama kelompok. Nasib perdamaian dan kemerdekaan Palestina bukan jadi prioritas bagi AS dan Israel, dua negara tersebut hanya fokus pada hegemoni kekuasaannya pada dunia.


Ukhuwah Islamiyyah pondasi bagi Masyarakat Islam


Al-Quran mengajarkan untuk berkasih sayang dan lemah lembut terhadap muslim dan bersikap keras terhadap orang kafir, sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Al Fath ayat 29. Yang terjadi kini justru sebaliknya. Sungguh, ini adalah bencana terbesar di abad ini, kaum Muslim berjumlah banyak namun bak buih di lautan, tak memiliki kekuasaan hingga tak memiliki kehormatan.


Ukhuwah islamiyah yang seharusnya menjadi pengikat bagi umat Islam di seluruh dunia untuk membebaskan penderitaan saudara sesama muslim justru berganti dengan nasionalisme hingga kesukuan. Walhasil, kaum kafir semakin dujana, mereka merasa tak terkalahkan. Perintah Allah jelas setelah adanya persatuan kaum muslim, yaitu jihad fi Sabilillah sebagaimana yang Allah perintahkan dalam Al-Quran Surat At Taubah ayat 123.


Tak ada solusi lain untuk mengobarkan Jihad memerangi kaum kafir selain Jihad di bawah komando Kholifah. Itulah sejatinya kesempurnaan jihad, yaitu ketika negeri muslim bersatu di bawah kepemimpinan Khilafah ala minhajinnubuwah. Wallahualam bissawab.