Paham Feminisme di Balik Ruang Bersama Indonesia (RBI)


Ilustrasi Pinterest
Oleh: Nita Nur Elipah
(Penulis lepas)

MediaMuslim.my.id, Opini_ Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi meresmikan Ruang Bersama Indonesia (RBI) di Jalan Wiling II Kelurahan Donan, Kecamatan Cilacap Tengah, Jumat, 27 Maret 2026. Ruang Bersama Indonesia merupakan inisiatif Kementerian PPPA yang berbasis di desa untuk menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, serta ramah perempuan dan anak. 
(Kuasakata.com, 28/03/2026)

‎Benarkah RBI ini mampu menciptakan lingkungan yang aman bagi perempuan dan anak?

Masih begitu lekat dalam ingatan kita peristiwa yang mencabik nurani di awal tahun 2026. Tentang hilangnya nyawa balita akibat kekerasan seksual. Maka apalah artinya klaim keberhasilan ketahanan pangan sementara ruang itu belum memeluk rasa aman bagi salah seorang anak di Gunung Simping. belum lagi peristiwa penghilangan nyawa lainnya yang korbannya anak maupun wanita.

Banyaknya kasus pelecehan, pembunuhan terhadap anak maupun wanita bukan hanya sekadar dianggap lebih lemah. Maka kapitalisme menyajikan solusi bahwa wanita harus punya pencapaian financial freedom supaya tidak disepelekan, dilecehkan apalagi sampai hidupnya diakhiri secara paksa oleh orang lain. Namun, jika solusinya tiba-tiba harus ada kemandirian ekonomi dan ketahanan pangan, ini sebenarnya terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan.
‎Terkhusus apalagi kini Cilacap baru pertama kalinya dipimpin oleh seorang perempuan. Maka ini momentum yang paling berpeluang untuk menanamkan feminisme ke tengah masyarakat.
Feminisme sejatinya bukan berasal dari Islam. Dalam Islam lelaki dilarang mendominasi, begitupun wanita juga tidak boleh memegang kuasa untuk membuat keputusan publik. Bukan karena diantara dua gender ini, ada yang lebih istimewa dari yang lain melainkan karena hanya Syara' yang boleh mendominasi hanya aturan Allah.
Lantas bagaimana dengan pelecehan dan pembunuhan yang mengancam wanita dan anak-anak? 

Ini karena Kapitalisme tidak mampu memberi ruang yang aman bagi wanita maupun anak-anak. Karena wanita maupun anak-anak acapkali justru dijadikan sebagai salah satu faktor produksi. Wanita dieksploitasi atas nama emansipasi.

Mereka dipaksa keluar dari wilayah domestik untuk menjadi sekrup kapitalis. Namun sayang, banyak wanita pun tidak sadar bahwa ia sedang dieksploitasi. Dijadikan penggerak roda ekonomi dengan memanfaatkan sensualitas keperempuanan nya.
Kenapa keamanan anak dan wanita dalam kapitalisme begitu rapuh? Sebab negara hanya berfungsi sebagai regulator saja. Kemiskinan yang disengaja akan menghasilkan berbagai problem ekonomi. 

Akumulasi problem ekonomi yang ekstrem akan memunculkan berbagai tindak kriminal. Dimana seseorang ingin memperoleh keuntungan baik keuntungan berupa materi, kepuasan lahiriah, maupun tercapainya keinginan secara instan dengan cara yang tak dibenarkan, maka segala cara akan digunakan untuk menghilangkan bukti. 

Hal ini didukung dengan konsep sekulerisme yang membentuk seseorang tidak percaya pada hari akhirat, maka dosa tidak dipertimbangkan dalam membuat keputusan. Inilah sebabnya angka kriminalitas terus tumbuh bak jamur di musim hujan.
Sungguh ‎Islam begitu memuliakan wanita. Itulah mengapa Allah mengistimewakan nya dalam surah An- Nisa. Dalam Islam wanita boleh bekerja, tapi bukan untuk dieksploitasi melainkan keputusan pribadi yang memiliki tujuan mengaplikasikan potensinya untuk kebermanfaatan ummat. 

Yang digencarkan dan didorong untuk bekerja adalah kaum pria terutama yang telah berumah tangga. ‎Ekonomi yang stabil dan juga berkah tentunya menghasilkan tatanan masyarakat yang lebih sedikit permasalahan. in Sya Allah 
Wallahu a'lam bishshawab