Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban
MediaMuslim.my.id--Beredar video di media sosial, yang menayangkan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya merayakan ulang tahun ke-37 pada 14 April 2026. Momen spesial ini dirayakan dengan kejutan dari Presiden Prabowo Subianto saat kunjungan kerja di Paris, serta perayaan hangat bersama staf Sekretariat Kabinet.
Yang menjadi sorotan adalah harga kamar hotel di Paris itu yang mencapai Rp 200 juta per malam. Mereka bermalam di salah satu hotel paling ikonik dan mewah di dunia, yakni Four Seasons Hotel George V, Paris (suara.com,15-4-2026). Tentu sah-sah saja mereka merayakan apapun, jika benar uang yang digunakan bukan dari APBN, bukan dalam rangka perjalanan dinas, juga bukan dalam rangka negara sedang koar-koar efisiensi belanja negara.
Chairman Strategic Indonesia, Christovita Wiloto, menyebut kemewahan pada perayaan ulang tahun Teddy itu mencerminkan ketimpangan sosial yang mencolok (fajar.co.id, 18-4-2026). Demikian pula pendapat pemerhati politik dan kebangsaan, Rizal Fadillah, ia bahkan meminta Presiden Prabowo dan Sekretaris Kabinet Teddy memberikan klarifikasi terkait video yang viral itu. Ia menekankan pertanyaan utama masyarakat saat ini berkaitan dengan sumber pembiayaan selama agenda kunjungan di luar negeri tersebut.
Kemudian mengaitkan dengan pidato Presiden sebelumnya yang menekankan efisiensi anggaran negara, di antaranya pengurangan perjalanan dinas, penyederhanaan seremoni, hingga perayaan ulang tahun yang cukup dilakukan sederhana di kantor. Mengapa harus ada perbedaan antara pernyataan dan praktik di lapangan?
Pemerintah Kapitalisme Hanya Peduli Pencitraan
Bisa jadi bagi pemerintah ini sekadar kebiasaan dan tidak berhubungan dengan teladan sebagai seorang pemimpin. Bagi mereka, pengurusan umat sudah berhenti pada pendirian sekolah rakyat, koperasi KDMP, program MBG, subsidi BBM, subsidi perumahan murah dan lainnya yang sifatnya temporal dan nominal minimalis.
Bagi pemerintah sepertinya cukup mengurusi rakyat dengan mengatakan kita bekerja sama dengan asing, agar mereka mengelola sumber daya alam yang berlimpah atas nama investasi, mengirim masyarakat menjadi pekerja migran demi upgrade keahlian dibanding di dalam negeri.
Jika benar demikian, sungguh malang nasib rakyat ini. Memiliki pemimpin yang hanya sayang kepada stafnya. Sementara jerit tangis rakyat Aceh, keluarga prajurit yang gugur dalam tugas menjadi pasukan perdamaian penjajah tak pernah terdengar.
Islam Lahirkan Pemimpin Ideal
Rasulullah Saw.bersabda, “Sungguh, manusia yang paling dicintai Allah pada Hari Kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah ialah pemimpin yang adil. Orang yang paling dibenci Allah dan paling jauh kedudukannya dari Allah adalah pemimpin yang zalim.” (HR Tirmidzi).
Doa Rasulullah untuk para pemimpin kaum muslim juga tidak main-main, beliau berdoa,”Ya Allah, siapa saja yang menguasai urusan umatku, lalu menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Siapa saja yang mengurusi umatku, lalu berlaku baik kepada mereka, maka perlakukan dia dengan baik”. (HR Muslim).
Semestinya, pemimpin kaum muslim memahami makna kedua hadis di atas. Tugasnya berat, namun dengan tuntunan Al-Quran dan Sunah tentulah akan menjadi lebih mudah, setidaknya di dunia sudah sesuai dan di akhirat tidak mendapatkan azab yang pedih.
Para pemimpin kaum muslim juga hendaknya melihat pada sejarah ketika Islam memimpin, begitu berhati-hatinya para Khalifah dalam menggunakan wewenangnya. Tidak sembarangan memutuskan satu perkara kecuali ia sudah paham dalilnya. Dan yang terutama,mereka selalu mengedepankan urusan negara di atas kepentingan pribadi. Tidak ada previle baik bagi keluarga, kerabat atau para stafnya.
Cerita yang sangat masyhur bagaimana Khalifah Umar Abdul Aziz, suatu malam, Umar bin Abdul Aziz terlihat sibuk merampungkan sejumlah tugas di ruang kerja istananya. Tiba-tiba putranya masuk ke ruangan bermaksud hendak membicarakan sesuatu.“Untuk urusan apa putraku datang ke sini, urusan negarakah atau keluargakah?” tanya Umar. Urusan keluarga, ayahanda,” jawab sang putra.
Tiba-tiba Umar mematikan lampu penerang di atas mejanya. Seketika suasana menjadi gelap. “Kenapa ayah memadamkan lampu itu?” tanya putranya merasa heran.“Putraku, lampu yang sedang ayah pakai bekerja ini milik negara. Minyak yang digunakan juga dibeli dengan uang negara. Sementara perkara yang akan kita bahas adalah urusan keluarga,” jelas Umar. Umar kemudian meminta pembantunya mengambil lampu dari ruang dalam. “Nah, sekarang lampu yang kita nyalakan ini adalah milik keluarga kita. Minyaknya pun dibeli dengan uang kita sendiri. Silakan putraku memulai pembicaraan dengan ayah.”
Teladan ini bukan sekadar pancaran hati yang bersih tapi juga menyiratkan amal yang salih, Sang Khalifah sadar bahwa setiap perbuatan hamba akan dihisab, apalagi ia tegak sebagai pemimpin. Maka, bagaimana mungkin akan lahir pemimpin yang peduli dengan umat, ketika bukan hukum Islam yang diterapkan?
Pemimpin terbaik hanya akan lahir dari hukum Islam yang sempurna, pemimpin yang takut Allah memberinya azab yang pedih ketika ia lalai bahkan sekuler. Wallahualam bissawab.

Social Plugin