Ilustrasi Pinterest
Oleh: Ummu Faruqq
MediaMuslim.my.id, Opini_ Kasus pelajar menjadi pengedar sabu kembali mencuat, di Kabupaten Bima, NTB, seorang pelajar berinisial KF hendak mengedarkan sabu yang disembunyikan di samping rumah, selain itu di Sulawesi Tenggara seorang pelajar berinisial HS (19) meringkusnya setelah ditemukan puluhan paket sabu-sabu tersebar di berbagai tempat. Kasus ini bukan merupakan kasus pertama, melainkan kasus yang terus berulang. Hal ini membuktikan lemahnya sistem sanksi pada hari ini, sistem sanksi tidak membuat pelakunya jera, sekaligus tidak membuat siapapun takut untuk melanggar batas peraturan yang ada.
Banyaknya kasus yang terus terjadi dan berulang merupakan bukti bahwa hal ini bukan hanya masalah individu atau oknum. Hal ini merupakan bukti nyata dari gagalnya kapitalis dalam menjaga rakyatnya. Sistem kapitalis menjadikan pelajar terjauhkan dari penjagaan agama, akal, moral, serta perbuatan. Lemahnya sistem pendidikan juga merupakan salah satu penyebab dari mudahnya pelajar terjerat pada aktivitas melanggar hukum.
Sistem pendidikan hari ini tujuan utamanya adalah menghasilkan tenaga kerja yang bisa memenuhi kebuutuhan industri. Tingginya biaya pendidikan membuat goals utama pendidikan bukanlah pemuda yang berakhlak dan beragama, melainkan materi dan kepuasan semata.
Berbeda dengan sistem pendidikan Islam. Tujuan utama dari sistem pendidikan Islam adalah membentuk generasi yang bersyakhsiyah (berkepribadian) Islam, yaitu generasi yang memiliki pola fikir dan pola sikap islami. Generasi berkepribadian Islam adalah mereka yang bukan hanya tahu atau memiliki ilmu tentang Islam, melainkan juga mengamalkan setiap ilmu dan tsaqofah yang dia miliki agar sesuai dengan syariat Islam.
Untuk mewujudkan generasi berkepribadian Islam, bukan hanya butuh peran pihak sekolah, melainkan dibutuhkan pula peran keluarga, terutama orang tua untuk bersungguh-sungguh dalam mendampingi serta mendidik anak-anaknya. Orang tua adalah madrasah pertama anak-anak, sehingga perannya sangat dibutuhkan untuk menanamkan dasar keislaman yang memadai serta memberikan teladan yang baik. Karena mustahil jika sekolah bisa berdiri sendiri tanpa peran dari orang tua.
Bukan hanya peran keluarga dan sekolah, Islam memandang pembentukan generasi yang cemerlang juga dipengaruhi oleh adanya masyarakat. Perlunya untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan generasi dengan cara menjaga pergaulan para pemudanya. Selain itu, Islam memandang bahwa peran masyarakat adalah untuk amar ma'ruf nahi munkar, yaitu masyarakat yang mengingatkan kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran.
عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: «مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, hendaknya dia mengubahnya dengan lisannya. Dan jika tidak bisa, hendaklah dia mengubahnya dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman.'” (HR. Muslim)
Selain dari aspek individu, keluarga, dan masyarakat, yang paling besar pengaruhnya adalah dari peran negara. Negara seharusnya memberikan hukum yang tegas untuk pembuat, pengedar, ataupun pengguna. Pemberian sanksi yang tegas dan memberikan efek jera sangat diperlukan agar kasus seperti ini tidak terus berulang. Wallahu a'lam bish-shawab.
Social Plugin