Ilustrasi Pinterest
Oleh ; Arsyila Putri
MediaMuslim.my.id, Opini_ Dua warga Desa Kangga, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), berinisial SH (26) dan KF ditangkap polisi saat hendak mengedarkan sabu yang disembunyikan di dalam tanah di samping rumah. Sementara bandar alias pemasok barang haram tersebut masih diburu.
"Terduga pengedar SH tidak bekerja, dan KF yang masih berstatus pelajar," ucap Kasat Resnarkoba AKP Jahyadi Sibawaih kepada detikBali, Rabu (2/4/2026). (detik.com).
Terulang kembali kasus banyaknya para pelajar yang terlibat penjualan sabu ternyata terus bertambah. Ini menjadi bukti pahit bahwa negeri ini sedang menuju Indonesia cemas. Tentu kerusakan yang terjadi tidaklah disebabkan oleh kesalahan personal saja tetapi ada faktor lain menjadi mendukung terjadinya pelajar sampai bertekad menjadi seorang pengedar sabu, diantaranya faktor keluarga yang dimana keluarga atau orang tua seharusnya menjadi rem agar tidak terjerumus pada hal-hal negatif, kemudian faktor pergaulan bebas atau teman yang membuat anak menjadi terpengaruh, faktor ekonomi, keadaan ekonomi hari ini yang serba sulit membuat pelajar nekat menjadi pengedar untuk memenuhi gaya hidup hedonis, namun faktor yang paling utama adalah yakni sistem yang membentuk pemikiran dan karakter seorang anak menjadi menyimpang dan berakhir pada memilih perbuatan yang salah.
Seorang anak remaja yang sedang berada pada usia rentan secara emosional dan karakteristik yang mudah terpengaruh serta ingin mencoba hal baru membuat mereka mudah menjadi sasaran empuk para bandar sabu. Para pelajar diberikan edukasi dan peringatan agar menjauhi narkoba tapi para pengedar dibiarkan merajalela. Bukti nyata bahwa negara tidak benar-benar serius memutus rantai pengedaran narkoba, yang terjadi hanyalah pengedarnya saja yang dipenjarakan namun para bandarnya tetap aman.
Tak hanya dari segi hukum yang longgar terhadap para bandar, sistem hari ini juga menggunakan asas sekulerisme yang artinya agama dipisahkan dalam aturan kehidupan manusia. Ini merupakan landasan atau pondasi yang diterapkan dalam sistem pendidikan hari ini, sehingga setiap aktivitas atau perbuatan tidak terikat dengan aturan agama. Padahal dalam Islam manusia itu fitrahnya beragama dan setiap perbuatannya terikat dengan hukum-hukum agama. Maka sebuah bencana besar apabila setiap aktivitas manusia tidak terikat dengan hukum-hukum agama. Yang terjadi pemahaman sekuler ini hanya akan menjadikan manusia berpusat pada materi semata tak peduli apakah itu halal atau haram.
Solusi Islam
Islam dengan landasan utamanya yakni akidah Islam menjadikan setiap perbuatan harus terikat dengan hukum syara. Dan Islam membentuk karakter pribadi setiap muslim dimulai sejak dini. Di mulai dari pendidikan Islam yang menjadikan Al Qur'an sebagai pondasi utama, sehingga anak-anak generasi Islam menjadi pribadi yang shalih dan shalihah, amanah dan takut kepada Allah SWT. Islam tidak hanya ada pada diri seorang muslim tapi juga ada pada masyarakat juga negara.
Untuk mencetak generasi shalih dan shalihah perlu peran negara yang maksimal dalam meriayah umat. Sistem kepemimpinan Islam akan memastikan keluarga atau orang tua bersungguh-sungguh dalam mendampingi dan mendidik anak-anaknya, dengan menanamkan dasar-dasar keislaman yang memadai dan memberikan teladan yang baik. Sistem Islam juga akan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan generasi, dengan menjaga pergaulan dan amar makruf nahi mungkar.
Sistem Islam juga akan menerapkan syari'at Islam secara kaffah dalam setiap lini kehidupan agar tercipta keberkahan dari langit dan bumi. Sistem Islam akan menjaga harta, akal, nyawa, serta kehormatan manusia agar tidak terjerumus kedalam kemaksiatan dan kehinaan. Karena hanya dengan menerapkan hukum-hukum Allah kehidupan manusia akan diridhai oleh Allah SWT.
Wallahu a'lam bisshawab.
Social Plugin