Oleh: Yayat Rohayati
MediaMuslim.my.id, Opini_ Mudik lebaran adalah momen tahunan yang selalu ditunggu-tunggu oleh setiap umat Islam. Segala bekal sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, mulai dari oleh-oleh makanan atau pakaian baru untuk keluarga di kampung, perbekalan uang selama di kampung dan perjalanan, dan lainnya. Suasana kebahagiaan tercermin dari mereka yang ingin melakukan perjalanan mudik.
Namun mirisnya, setiap musim mudik maupun balik, angka kecelakaan lalu lintas cenderung meningkat. Pemberitaan media selalu diisi dengan tabrakan beruntun, kendaraan terguling, hingga korban jiwa. Penyebab yang muncul pun berulang: pengemudi kelelahan, pelanggaran lalu lintas, kendaraan tidak layak jalan, serta kepadatan arus yang sulit dikendalikan.
Mengutip dari detikjabar.com, 19 maret 2026, semenjak dimulainya arus mudik tanggal 14 maret, puluhan insiden kecelakaan telah terjadi di jalur arteri Pantai Utara (Pantura), tepatnya di Jalan Lingkar Tanjungpura, Karawang. Diduga faktor penyebab kecelakaan terjadi karena kelelahan.
Kemudian, kecelakaan di tol KM 290 Tegal, telah mengiring satu keluarga asal Pemalang mudik ke peristirahatan terakhir. Diduga faktor kelelahan, mobil yang dikendarai sang ayah menabrak pembatas bahu jalan sampai menembus bodi mobil (detiknews.com, 20/3)
Kelelahan sejatinya adalah salah satu faktor individu penyebab terjadinya insiden kecelakaan. Namun ada faktor yang urgent harus segera dibenahi, yakni fasilitas infrastruktur yang belum sepenuhnya diriayah oleh negara. Masih banyak infrastruktur diperbaiki, namun belum bisa sepenuhnya mengimbangi lonjakan kendaraan yang masif di momen lebaran. Selain itu, pengelolaan jalan tol yang diserahkan kepada pihak swasta. Sehingga mahalnya biaya tol membuat masyarakat memilih jalur biasa bermacet-macetan dengan pengendara motor.
Namun, begitulah fakta sistem transportasi ala Kapitalis. Transportasi pun menjadi komoditas bisnis yang diperdagangkan. Sebab kembali pada landasan hidup dalam kapitalisme yakni materi dan materi.
Dalam perspektif Islam, jalan merupakan kebutuhan publik. Oleh karena itu, jalan membutuhkan perhatian khusus untuk memastikan keselamatan penggunanya. Perbaikan berkala adalah salah satu cara untuk menjaga keselamatan pengguna jalan. Perbaikan tersebut meliputi perbaikan fisik jalan, dan pengecekan kelayakan jalan bagi kendaraan yang melintas.
Selain itu, penting untuk memastikan bahwa pengemudi memenuhi semua syarat yang wajib dimiliki pengemudi. Misal; memastikan pengemudi memiliki kemampuan dan pengetahuan yang cukup untuk mengemudi, memastikan bahwa pengemudi tidak mengemudi dalam keadaan lelah atau kurang fit.
Dalam sistem Islam, negara berfungsi sebagai pengurus urusan rakyat (riayah suunil ummah). Sebagai pengurus tentu harus bertanggung jawab untuk memberikan layanan berkualitas kepada rakyatnya, termasuk memberikan jaminan kesejahteraan pada para pengemudi.
Sebagaimana Rasulullah bersabda:
“Seorang Imam adalah pemelihara dan pengatur urusan (rakyat), dan ia akan dimintai pertanggung jawaban tehadap urusan rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kita bisa mencontoh dari kepemimpinan Umar bin Khattab yang begitu takut dengan amanah yang diberikan. Beliau sangat takut jika ada jalanan yang berlubang dan keledai terperosok kedalamnya. MasyaAllah. Apalagi yang melintas manusia?
Karena dalam IsIam Negara berkewajiban menjaga nyawa manusia, maka negara akan memastikan transportasi yang digunakan aman dan nyaman. Selain memastikan sopir dalam kondisi prima dan kendaraan layak jalan, negara juga menyediakan jalan yang mulus dan gratis.
.
Social Plugin